Akar Tuli โ™ฅ

Hello november! This is my very first attempt to write again in English after a while ๐Ÿ˜€

So, I’m going to tell you about my experience with Akar Tuli crew in Brawijaya Expansion Event whichย held on October, 29th, to be exact, it was saturday. In this event, Brawijaya gathered all of Malang community and Akar Tuli was invited. There were bunch of them:

Continue reading

Grand Concert for Disability Awareness #GCFDA

Meskipun aku tidak mau ini menjadi yang terakhir, sepertinya ini akan menjadi kepanitiaan terakhir yang aku ikuti selama aku menjadi mahasiswa S1 di Universitas Brawijaya. Kalau diingat-ingat jadi baper (terbawa perasaan). Apalagi, walau aku koordinator divisi DDM (Dekorasi Dokumentasi dan Multimedia) aku harus meninggalkan acara ketika sedang berlangsung, karena beberapa hari lalu aku sempat pendarahan dan harus banyak istirahat. Sebenarnya aku kuat, but Dad and Mom insist that I had to home earlier.

Flashback yuk! ๐Ÿ™‚


Continue reading

Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (part II)

Pada tanggal 28-30 Agustus 2015 ada kegiatan Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) di PSLD UB. Karena aku sudah di Malang dan volunteer yang lain masih liburan, otomatis aku diminta datang ke kantor untuk bantu-bantu urus administrasi dan lain-lain.

Kami (aku dan volunteer-volunteer yang lain) diharuskan datang pukul 7.30, tetapi aku datang satu jam lebih awal karena bareng dengan adik-adik nyebelin yang udah masuk sekolah pukul 6.30. Datang di kampus aku wifi-an dulu di kafetaria. Selama tiga hari itu, aku selalu bertemu Kiky, teman seperguruan tapak suci dulu. Dia lagi push up, back up, lompat tali, begitu seterusnya. Otot-ototnya kekar banget dan aku jamin perutnya pasti six pack. Macam cowok L-men dia. Dan selama tiga hari itu, aku juga bertemu si Afif. Teman sekelasnya Ifa dkk di mata kuliah Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Dia kalau lari lucu banget. Lari sambil tangannya kayak lagi mukul-mukul manja terus rambut panjangnya berkibas kemana-mana. :3

*maafkan aku fif Continue reading

SPKPD (Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas)

Informasi pendaftaran SPKPD (Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas) UB sudah ada versi Bahasa Isyaratnya loh ๐Ÿ˜€ Buat kalian-kalian yang mau kuliah di Universitas Brawijaya atau punya kenalan penyandang disabilitas yang ingin kuliah, lihat link di bawah ini dan tonton videonya ya! ๐Ÿ™‚

Cerita KKN 8: Perpisahan, Semoga Ini Justru Menjadi Awal Persahabatan Kita

31 Mei 2015

Pagi itu aku bangun pukul 5.15, ternyata Upink sudah bangun juga. Badan rasanya pegal-pegal karena semalam aku tidur pukul 12 lewat. Biasa, aku kan tipe orang yang tidurnya tertib, tidak biasa begadang. Jadi sekalinya begadang, pasti paginya seperti kelelahan. Setelah sholat, aku dan Upink tidur kembali. Percuma juga kalau langsung mandi dan kamar mandinya masih dipakai Mbak Winda -anak perempuan satu-satunya Bu Sis- untuk mencuci baju. Cuman, tumben si Ayu 2-3 minggu terakhir ini belum bangun, karena biasanya yang bangun paling pagi dan mandi paling awal. Tapi ya begitu, mandinyaseperti sedang luluran terus berendam, kemudian semacam dia ketiduran disana, karena mesti lamaaaa. Kemudian akhirnya aku mandi pukul 7.15 pagi dan seperti biasa aku yang selalu paling rapi.

Setelah itu, kami makan di rumah Bu Sis. Beliau memasak sop, ayam pedas bumbu cabai hijau dan sambal. Setiap kami makan disana selalu ada sambal. Sepertinya sudah jadi budaya di keluarga Bu Sis bahwa makan tidak enak tanpa sambal. Dan sambalnya itu, aku sampai kapok makannya karena bukan levelnya lidahku. Yang paling terkesan buatku maah krupuknya. Bu Sis selalu menyediakan satu wadah krupuk untuk kami. Entah beliau beli dimana yang jelas krupuk itu enak dan kami selalu menghabiskan 3/4 dari jumlah krupuk di dalam wadah itu. Meskipun beliau sempat membuat kami resah tentang uang kos, tapi yasudahlah dimaafkan saja. Anggap saja kita sama-sama khilaf. Dan sarapan pagi terakhir disana ketika itu meskipun sop buatan Bu Sis lebih banyak gubisnya daripada wortel dan ucetnya, terasa sangat spesial di hati.

Setelah itu kami menuju Mas Nur untuk mendiskusikan perpisahan. Akhirnya diputuskan bahwa nanti yang akan menjelaskan proker utama Farid, karena dia pintar mengolah kata. Yang menjelaskan tentang denah adalah Prima, karena dia penanggungjawabnya. Kemudian yang menjelaskan brosur adalah Junda, yang menjelaskan website adalah Alfi karena aku yang buat masa aku juga yang menerangkan, ih males banget. :p Continue reading

Cerita KKN (7): Minggu Terakhir

30 Mei 2015

Minggu ini minggu terakhir KKN, tapi aku malas berangkat karena kepalaku benar-benar pening. Mungkin karena banyak yang aku pikir seperti: ketika sambutan apa saja aku harus bilang, ini gimana brosurnya Jundaย nggak jadi-jadi, masalah konsumsi dan keungannya yang mepet, dan hal-hal kecil lainnya. Aku memang pemikir, terutama lagi-lagi karena aku ketua dan sekali lagi aku nggak bisa terlalu santai seperti ketua KKN Sumberejo. I don’t know, maybe it is just me.ย Aku juga selalu merasa banyak sekali kekuranganku selama ini dan aku sama sekaliย nggak pantas memimpin kelompok ini. Dan fakta bahwa mereka merasa belum mengenalku adalah … hmmmm, sesulit itukah mengenalku? (hei pecinta kopi, kamu wajib berkomentar tentang ini! :3)

Entah apa yang akan terjadi di minggu terakhir ini. Terakhir aku menginap di rumah Bu Sis. Di kamar springbed-nya yang dingin dan selalu berwarna dan bercorak sama: bunga-bunga biru. Aku tidak tahu apakah beliau tidak pernah mencuci cover bednya selama tiga bulan atau beliau punya bermacam-macam cover bed seperti itu dengan warna dan corak yang sama atau beliau selalu mencucinya lalu segera memakai cover bed itu ketika sudah kering. Menikmati udara dinginnya di kamar itu dan rebutan selimut merah dengan Dinanti. Kadang dia suka ngepek selimut sendiri, tak apalah mungkin dia tidak sadar, dan untungnya aku sudah memakai jaket tebal, karena aku sendiri alergi dingin. Tidur di kamar yang asing dengan lemari tua yang besar. Kadang aku membayangkan film horror yang pernah aku tonton, tentang seorang anak yang ditinggalkan, lalu disika dan akhirnya berakhir di sebuah lemari tua. Kemudian anak itu suka keluar-masuk dari lemari itu. Dan tentu saja pikiran itu segera aku tepis, apalagi sepertinya teman-teman takut banget kalau bicara soal makhluk halus. Continue reading