Disability is not an Exceptional

Disability is not an Exceptional

Hi! I’d like to talk about disability today.

Sebenarnya ini bukan kapasitasku, tapi aku ingin membagikan apa yang sudah aku pelajari dan apa yang aku pahami. So, have you ever heard about Stella Young? If you haven’t, I suggest you watch this video first before you start reading this post:

I’m not your inspiration.


I really like this quote that I took from the video:

“I’m here to tell you that we have been lied to about disability. We have been sold the lie that the disability is a bad thing, and to live with disability,  make you exceptional. It is not a bad thing and it does not make you exceptional.”

– Stella Young

Nah, kita mempunyai persepsi yang berbeda tentang bagaimana menghadapi orang difabel. Ada tiga persepsi yang aku temui di sekitarku.

Pertama, persepsi bahwa orang difabel harus selau dikasihani karena mereka tidak normal dan penuh kekurangan. Orang dengan persepsi ini fokus pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh difabel. Hal lainnya, diabaikan.

Persepsi kedua, orang difabel adalah orang yang kena ‘kutukan’, I can’t find the exact word but you know what I mean, right? Orang yang dulunya berbuat salah entah dianya sendiri atau orangtuanya sehingga Tuhan memberikan adzab ke orang tersebut. Serius, ada orang yang berfikiran seperti itu, because somebody told me that few years ago. Orang-orang yang mempunyai tipe perspektif yang kedua ini juga berfikiran bahwa semua orang difabel itu harus berbuat baik, kalau dia berbuat buruk maka contoh komentar yang akan dia dapatkan adalah, “Duh udah difabel masih aja ngeyel.” Misalnya seperti itu. Dan bahkan masih ada beberapa orang yang memakai kata cacat ketika menyebut orang-orang difabel, yang aku sendiri merasa risih ketika ada orang yang menggunakan kata tersebut.

Lalu, persepsi yang ketiga, bahwa semua orang itu sebenarnya tidak normal, bahwa kita sendiri tidak bisa mendefinisikan normal seperti apa, bahwa orang difabel itu adalah orang-orang biasa sama seperti kebanyakan manusia lainnya, bahwa tidak exceptional dan tidak perlu dikasihani berlebihan. Intinya, kita semua manusia yang setara. Perkara normal atau tidak normal, akupun sebenarnya tidak normal karena aku pakai kacamata minus plus silinder, sometimes I also could be socially awkward, I’m a perfectionist who being too critical to myself, etc. Well, normal yang aku yakini hanyalah masalah persepsi.

Read more