Daftar Beasiswa LPDP

Daftar Beasiswa LPDP

Hi! Post ini aku buat karena banyak teman-teman yang bertanya apa langkah-langkah mendaftar beasiswa setelah lulus S1. Karena banyak yang bertanya, jadi aku fikir lebih mudah untuk membuat sebuah post lalu aku tinggal memberikan tautan ke blog ini. 😌 (Dan membuat liburanku lebih berfaedah dan produktif, haha.) 😝

Postingan kali ini aku akan fokus pada tahap-tahap mendaftar beasiswa LPDP, karena aku tahunya beasiswa ini. Aku pernah mencoba beasiswa lain, Australia Award dan Chevening, tetapi membaca persyaratannya saja aku sudah tidak eligible karena beasiswa tersebut mensyaratkan pengalaman kerja beberapa tahun. Padahal aku masih freshgraduate dan pengalaman kerjaku masih beberapa bulan. Read more

Fragmen Pendidikan Indonesia

Fragmen Pendidikan Indonesia

Siapa yang setuju kalau anak yang bermasalah di sekolah -seperti berkelahi dan merokok- harus dikeluarkan dari sekolah? Aku tidak.

Siang itu, adik-adikku yang masih SMP pulang sekolah dan seperti biasa mereka langsung memberondong kami dengan berbagai macam cerita dan kejadian yang terjadi di sekolah mereka.

‘Ma, ma, itu loh temanku ada yang dikeluarkan dari sekolah.’ kata Ata.

‘Kenapa?’

‘Berkelahi, trus ada yang merokok, ketahuan sama mahasiswa UB, trus di foto. Mahasiswa e dapat 400 ribu e ma.’

‘Teman sekelasku juga ma, dia sudah pernah dapat peringatan, tapi nggak berhenti.’ kata Fitri.

Oalah sakno yo, tapi yo pantes lek ngono, cek gak nulari kancane. Uenak Mahasiswa e. Kamu ati-ati lo to, nduk, le.‘ Lalu, dengan terpaksa mama harus menghentikan cerita mereka karena mereka harus segera mandi dan makan siang.

Sepertinya, diantara keluargaku, hanya aku yang tidak setuju dengan adanya tindakan sekolah. Memang itu hak prerogatif sekolah, memasukkan dan mengeluarkan siswanya, dan sekolah mana yang mau namanya tercoreng karena siswanya berkelahi, merokok, minum-minuman keras, atau memakai zat adiktif. Tapi, pernahkah kita berfikir bagaimana nasib para siswa yang dikeluarkan itu.

Sekolah mana yang mau menerima siswa dengan catatan pelanggaran-pelanggaran yang bisa merusak nama baik sekolah, atau mempengaruhi siswa-siswi lain dengan perilaku buruknya. Bandingkan dengan siswa yang berprestasi, pasti sekolah yang dipilih oleh anak itu akan bangga, koar-koar, siswa-siswa di sekolahnya banyak yang berprestasi. Jadi, sekolah memilih mengeluarkan siswa yang berperilaku buruk, daripada mendidik, mengubahnya menjadi remaja yang lebih baik. Tidak adil, kan?

Padahal tugas sekolah adalah mendidik siswa dan seharusnya tanpa pilih-pilih.

Apalagi, usia remaja adalah usia yang labil dan rentan tentang pertumbuhan karakter. Kebanyakan, remaja-remaja yang melakukan pelanggaran mempunyai masalah keluarga. Jangan langsung menyalahkan mereka atas pelanggaran yang mereka buat. Seharusnya, ini tugas bimbingan konseling sekolah untuk meneliti mengapa mereka melakukan pelanggaran dan bagaimana membuat mereka jera. Seharusnya ada pembinaan, bukan hanya memperketat aturan. Kalau di sekolah dia tidak di urus, di rumah dia dibiarkan, atau hanya dimarahi tanpa diberi solusi, bagaimana dia akan berubah menjadi pribadi yang baik. Bagus kalau dia punya motivasi untuk menjadi lebih baik, kalau tidak, bisa jadi dia hanya akan jadi sampah masyarakat nantinya. Coba kita pikirkan. Apalagi, remaja merupakan peranan penting dalam perkembangan sebuah bangsa. Sayangnya, pendidikan kita sepertinya kurang memperhatikan hal sekecil ini,Seharusnya, sekolah tidak perlu mengeluarkan siswa-siswa tersebut, tetapi mendidik, membina, dan memberi konseling, agar mereka bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Memang membutuhkan usaha dan tenaga yang lebih, tapi saya pikir hal ini lebih bermanfaat daripada hanya mengeluarkan siswa dari sekolah, yang menguntungkan pihak sekolah, tetapi merugikan siswa.