Bedanya Cowok dan Cewek Kalau Curhat

Bedanya Cowok dan Cewek Kalau Curhat

sumber

Teman-teman semua tau curhat kan? Ituloh, curahatan hati. Ketika seseorang mempunyai masalah lalu mencurahkan perasaan dia itu ke orang lain. Curhat itu sendiri adalah proses katarsis. Kalau kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. Intinya satu: mencurahkan isi hati dan bercerita.

Semua orang pasti pernah melakukan katarsis dengan cara curhat. Ya kan, ya kan? Nggak salah kok curhat itu. Bahkan itu bagus karena bisa mengurangi stress dan kita sebagai manusia yang makhluk sosial itu otomatis membutuhkan orang lain. Selain itu, kita dikatakan lebih kreatif memecahkan masalah orang lain daripada masalah sendiri. See, curhat is needed. :mrgreen:

Yang menarik adalah ketika cowok dan cewek itu curhat, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Read more

Candu

Candu

Sukma sedang melamunkan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengecohnya dari penampilan. Dia tak mengira akan menyukai laki-laki sederhana dengan kemeja polos abu-abu, celana jeans, sepatu pantofel, ransel hitam dan rambut hitam yang rapi. Ya, laki-laki itu -yang berkulit hitam dan bibirnya yang tipis yang jika tersenyum akan terlihat manis sekali bagi Sukma- sedang membuatnya merasakan candunya cinta. Dari pertama perkenalannya di kelas sampai sekarang ketika dia dan laki-laki yang bernama Habibi itu sudah menjadi lebih sekedar dari teman, walaupun belum ada komitmen dalam bentuk apapun. Mungkin sekarang sudah ada ribuan percakapan di dalam whatsapp yang tak pernah Sukma hapus. Dan tiga kata ini lah yang membuat Sukma semakin melayang,

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

Read more

Abadi

Abadi

Perempuan itu menyentuh bibirnya, hidungnya, pipinya, lalu pelipisnya. Dalam cermin dia melihat guratan-guratan di sekitar mata. Ia tak menyenangi guratannya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita dengan usia berkepala empat. Dilihatnya gunting yang terletak di meja rias. Rasanya ingin mengeruk seluruh guratan dengan gunting itu. Namun dia sadar bahwa itu akan lebih meninggalkan bekas-bekas yang lebih menghinakannya. Lalu dilemparkannya gunting itu dengan keras-keras.

Tok, tok, tok. “Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?”

“Ah, tidak-tidak. Pergi kau.”

Dia berkaca lagi dengan baik-baik. Dengan perlahan dia mengoleskan krim anti penuaan untuk menutupi kekurangannya. Dengan hati-hati dia mengoleskannya dari dahi, pelipis, pipi kanan-kiri, hidung, lalu dengan perlahan dia menuju ke dagu. Kemudian dia memakai bedak, mempercantik matanya dengan warna-warnanya dengan tajam. Terakhir, dia menggunakan warna merah di bibirnya.

“Hah, kosmetik-kosmetik ini tidak akan membantu banyak. Ali harus membantuku!”

Read more