​Does Your Extrovert/Introvert Personality Affect your L2 Learning?

I really love this week reading material!

We discuss about affective and personality differences whether it will affect second language (L2 learning). I’m always interested in psychology, so when the topic is about character, I couldn’t be more excited!

In this post, the topic that I discuss is from classroom discussion and from Ortega’s book: Understanding Second Language Acquisition (chapter 9), which actually you could download for free at b-ok.xyz. But I would not discuss everything, I will only focus on the extrovert and introvert personality. *I adore that website, anyway, since they always provide a range of materials that I could download for my assignments.

Continue reading

I Got a Racist Email (2)

Karena email yang dia tulis tersebut, yang menyatakan bahwa kebanyakan orang Australia terganggu dengan keberadaan wanita muslim yang memakai hijab, tertutama burqa, membuatku berfikir bahwa apakah kebanyakan orang-orang Australia seperti itu. Walau aku juga yakin, yang dia nyatakan itu adalah sebuah hiperbola. Toh, dia juga tidak menyatakan data autentik yang mendukung argumennya itu. Tetapi, ada beberapa orang yang bilang beberapa orang Australia memang rasism, terutama di negara bagian Queensland. Namun, seberapa banyak? Aku pikir, ada baiknya bertanya kepada orang lokal.

Sabtu lalu, aku bertemu dengan temanku di tempat aku mengajar, yang merupakan orang lokal. Dia juga mahasiswa di Monash University, jurusan International Development. Aku cukup akrab dengan dia, dan kami sering bercerita banyak hal. Jadi, aku ceritakan ke dia tentang pengalamanku pahitku itu. (Well, ga pahit-pahit banget sih. B aja).

Continue reading

Jalan-jalan ke NGV

NGV adalah National Gallery of Victoria yang letaknya di pusat Kota Melbourne. Sebenarnya tahun lalu aku sudah pernah ke sini, tetapi yang membuat aku tidak pernah bosan adalah NGV selalu meng-install seni tematik baru setiap beberapa bulan. Akhir tahun kemarin mereka memasang karya-karya Yayoi Kusama, sedangkan sekarang tema mereka adalah MoMA (Museum of Modern Art) New York. Selain itu, karena aku tinggalnya satu jam jauhnya dari kota, pergi ke kota selalu hal yang menyenangkan. Dan foto di bawah merupakan foto yang aku ambil di pameran seni Yayoi Kusama.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading

Culture Shock

Hari ini pas satu minggu aku berada di Malang, Indonesia. Dalam satu minggu, aku sudah makan nasi padang, bakso, nasi goreng, sate ayam, ceker, dan, soto. Makanan-makanan yang aku idam-idamkan selama ini. Masih banyak lagi makanan yang ingin aku makan sebelum kembali studi ke Australia. Dalam satu minggu, jadual bertemu teman-teman lama, silaturahmi ke saudara, dan family time juga full. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, dan aku sukanya, aku jarang buka media sosial. Walaupun agak-agak bersalah karena aku punya tanggungjawab di organisasi.

Continue reading

First Ramadan in Australia and a Story Behind My Blog

Hi Y’all!

This week is pretty hectic. I have three essays more to go due on 25 May, 4 June, and 8 June. Also, this is Ramadan month which I actually have some to do list as well such as read Quran one day one juz. I also genuinely want to write to you all of my very first experience fasting in Australia, but I merely have time about it.

Anyway, before I ‘talk’ about my fasting experience, I would like to talk about this blog. So, I actually have two blogs, this one and the other one that I deactivated. I set it as a private mode so no one can’t see it but me because I write some personal stories there. I don’t want to see it again, and I don’t want people to reread it, because what’s done is done. However, somehow, a few weeks ago I feel like my posts on my other blog is precious and it is what’s a waste if just dump it like that. So, I export it to this blog, and tadaaaa there are more than 400 posts from 2013 on this blog. But, now, I realise, why I do I even did it. Thank God that  WordPress has an excellent system, and I can move those post into draft posts easily.

The reason I made a new blog, Not Average Girl, because I want this blog is much more professional and less private stuff of my daily life. Ideally, I want to run two blogs, this one is to share my scholarship and school stuff, while the other is where I can tell you my personal stories, my romance stories, in a frank way, and just be me. Meanwhile, I just can’t run two blogs. It is exhausted, and I don’t have much time. So, I exported all of my posts here without thinking about the consequences, and have moved it again into drafts post. I’m so-so-so silly.

I love writing on the blog, even telling my personal stories. Yet, recently, I feel like, people are judging me based on what I write here. I don’t know whether this is just my anxiety or what, but I have changed my mind, and I don’t want to write too personal stories. I used to write everything on my blog, and it is so much fun! And a lot of people leave comments on my blog, share their experience or leave a suggestion. I also used to write about my romance life. When I re-read it again, I feel like, “Omg, it is such a drama”, “Omg, why do I even like this bloke”, and whatsoever. And I still do remember about a guy who liked me, but he also liked another girl in the same time. It’s so funny. Now he is so chill to me, I don’t even know whether he remembers what he did in the past. He was like, “Hi Gadis, can you write some wishes to me on a piece of paper and capture it when you hang out somewhere in Australia”. I’ll be like, dude. Okay, I’ll leave it here.

Alrighty then, so here we go, my first Ramadan in Australia.

Continue reading

Budaya Titip Absen

Beberapa hal yang ‘menakjubkan’ di kelas terjadi belakangan ini. Aku pikir, ini menarik untuk aku tulis. Bahkan kadang kalau aku absen menulis, aku merasa terlalu banyak hal di pikiranku, and I just want to let it all out.

 

Perkara Daftar Hadir

Kalau di kampus aku dulu, daftar hadir selalu berformat resmi. Selalu tercetak, ada kop universitas, mahasiswa kadang-kadang harus tanda tangan atau hanya perlu dicentang oleh dosen, dan selalu ada tanda tangan dosen di setiap minggu. Dosen juga harus mengisi jurnal kegiatan yang juga harus tertandatangi. Sementara itu, di sini, sejauh ini dari 4 mata kuliah dan 2 tutorial yang sudah aku jalani, tidak pernah ada daftar hadir resmi yang tercetak. Tetap ada daftar hadir, tetapi hanya berupa selembar kertas yang harus kami tulis sendiri nama kami, nomor mahasiswa, dan tanpa tanda tangan. Bahkan ada satu kelas, pada semester ini, yang tidak perlu mengisi daftar hadir. Jadi, kalau tidak hadir pada seminar tersebut sah-sah saja karena tidak akan mengurangi presentasi nilai.

Lalu, perkara titip absen (TA), kalian yang sudah pernah dan sedang menjadi mahasiswa tentu sangat-amat paham dengan sistem ini. Di kampusku saja, yang sistem daftar hadirnya seperti itu, TA kerap kali terjadi dan sering tidak ketahuan. Apalagi satu kelas ada sekitar 35 mahasiswa, dosen jarang mengecek satu per satu. Kalau di sini, dosen juga tidak pernah cek mahasiswa satu per satu. Aku pun yakin dosen tidak hafal semua nama mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa internasional yang namanya sulit dihafal dan diucapkan. Walaupun begitu, jumlah mahasiswa dalam satu kelas tidak pernah mencapai 25. Tapi tetap saja, bisa saja TA dengan mudah karena hanya harus menulis nama dan nomor mahasiswa tanpa tanda tangan.

Dan, itu terjadiContinue reading

Curhat Research Paper

Semester ini aku ada mata kuliah Language and Intercultural Communication, dan ada final assignment berupa Research Paper. Sebenarnya aku suka research sih, dan aku sudah menulis bagian literature review dengan bahagia karena aku sudah tahu apa yang aku tulis, sampai dosen aku bilang, “Your research is extreme.”

Continue reading