(Playlist): Kurt Cobain

Ini tentang lagu-lagu yang kami mainkan ketika KKN di batu. :mrgreen: Kadang-kadang ada waktu luang ketika kami tidak ada pekerjaan apapun dan akhirnya lontang lantung di kosan. Awalnya kami mengisi dengan main uno, tetapi lama-lama bosan. Dan akhirnya kami akustikan bersama-sama, yang ujung-ujungnya hanya saya dan Angga yang nyanyi bareng. Lebih tepatnya, Angga yang main gitar, saya yang modal mulut sama request doang. Lagipula teman-teman sibuk dengan gadget masing-masing. Selain itu kami ngga punya taste of music yang sama.

Pertama, saya dan Angga adalah fans berat Nirvana. Seneng banget bertemu teman KKN yang sama-sama penyuka Nirvana. Meskipun itu band lama, lagu bagus ya tetap lagu bagus. Kata adikku, Nirvana itu band kewut (baca: tuwek).

Ini nih playlist kenangan:

1. Nirvana – Polly Continue reading

Cerita KKN 8: Perpisahan, Semoga Ini Justru Menjadi Awal Persahabatan Kita

31 Mei 2015

Pagi itu aku bangun pukul 5.15, ternyata Upink sudah bangun juga. Badan rasanya pegal-pegal karena semalam aku tidur pukul 12 lewat. Biasa, aku kan tipe orang yang tidurnya tertib, tidak biasa begadang. Jadi sekalinya begadang, pasti paginya seperti kelelahan. Setelah sholat, aku dan Upink tidur kembali. Percuma juga kalau langsung mandi dan kamar mandinya masih dipakai Mbak Winda -anak perempuan satu-satunya Bu Sis- untuk mencuci baju. Cuman, tumben si Ayu 2-3 minggu terakhir ini belum bangun, karena biasanya yang bangun paling pagi dan mandi paling awal. Tapi ya begitu, mandinyaseperti sedang luluran terus berendam, kemudian semacam dia ketiduran disana, karena mesti lamaaaa. Kemudian akhirnya aku mandi pukul 7.15 pagi dan seperti biasa aku yang selalu paling rapi.

Setelah itu, kami makan di rumah Bu Sis. Beliau memasak sop, ayam pedas bumbu cabai hijau dan sambal. Setiap kami makan disana selalu ada sambal. Sepertinya sudah jadi budaya di keluarga Bu Sis bahwa makan tidak enak tanpa sambal. Dan sambalnya itu, aku sampai kapok makannya karena bukan levelnya lidahku. Yang paling terkesan buatku maah krupuknya. Bu Sis selalu menyediakan satu wadah krupuk untuk kami. Entah beliau beli dimana yang jelas krupuk itu enak dan kami selalu menghabiskan 3/4 dari jumlah krupuk di dalam wadah itu. Meskipun beliau sempat membuat kami resah tentang uang kos, tapi yasudahlah dimaafkan saja. Anggap saja kita sama-sama khilaf. Dan sarapan pagi terakhir disana ketika itu meskipun sop buatan Bu Sis lebih banyak gubisnya daripada wortel dan ucetnya, terasa sangat spesial di hati.

Setelah itu kami menuju Mas Nur untuk mendiskusikan perpisahan. Akhirnya diputuskan bahwa nanti yang akan menjelaskan proker utama Farid, karena dia pintar mengolah kata. Yang menjelaskan tentang denah adalah Prima, karena dia penanggungjawabnya. Kemudian yang menjelaskan brosur adalah Junda, yang menjelaskan website adalah Alfi karena aku yang buat masa aku juga yang menerangkan, ih males banget. :p Continue reading

Cerita KKN (7): Minggu Terakhir

30 Mei 2015

Minggu ini minggu terakhir KKN, tapi aku malas berangkat karena kepalaku benar-benar pening. Mungkin karena banyak yang aku pikir seperti: ketika sambutan apa saja aku harus bilang, ini gimana brosurnya Junda nggak jadi-jadi, masalah konsumsi dan keungannya yang mepet, dan hal-hal kecil lainnya. Aku memang pemikir, terutama lagi-lagi karena aku ketua dan sekali lagi aku nggak bisa terlalu santai seperti ketua KKN Sumberejo. I don’t know, maybe it is just me. Aku juga selalu merasa banyak sekali kekuranganku selama ini dan aku sama sekali nggak pantas memimpin kelompok ini. Dan fakta bahwa mereka merasa belum mengenalku adalah … hmmmm, sesulit itukah mengenalku? (hei pecinta kopi, kamu wajib berkomentar tentang ini! :3)

Entah apa yang akan terjadi di minggu terakhir ini. Terakhir aku menginap di rumah Bu Sis. Di kamar springbed-nya yang dingin dan selalu berwarna dan bercorak sama: bunga-bunga biru. Aku tidak tahu apakah beliau tidak pernah mencuci cover bednya selama tiga bulan atau beliau punya bermacam-macam cover bed seperti itu dengan warna dan corak yang sama atau beliau selalu mencucinya lalu segera memakai cover bed itu ketika sudah kering. Menikmati udara dinginnya di kamar itu dan rebutan selimut merah dengan Dinanti. Kadang dia suka ngepek selimut sendiri, tak apalah mungkin dia tidak sadar, dan untungnya aku sudah memakai jaket tebal, karena aku sendiri alergi dingin. Tidur di kamar yang asing dengan lemari tua yang besar. Kadang aku membayangkan film horror yang pernah aku tonton, tentang seorang anak yang ditinggalkan, lalu disika dan akhirnya berakhir di sebuah lemari tua. Kemudian anak itu suka keluar-masuk dari lemari itu. Dan tentu saja pikiran itu segera aku tepis, apalagi sepertinya teman-teman takut banget kalau bicara soal makhluk halus. Continue reading