Cerita KKN (7): Minggu Terakhir

Cerita KKN (7): Minggu Terakhir

30 Mei 2015

Minggu ini minggu terakhir KKN, tapi aku malas berangkat karena kepalaku benar-benar pening. Mungkin karena banyak yang aku pikir seperti: ketika sambutan apa saja aku harus bilang, ini gimana brosurnya JundaĀ nggak jadi-jadi, masalah konsumsi dan keungannya yang mepet, dan hal-hal kecil lainnya. Aku memang pemikir, terutama lagi-lagi karena aku ketua dan sekali lagi aku nggak bisa terlalu santai seperti ketua KKN Sumberejo. I don’t know, maybe it is just me.Ā Aku juga selalu merasa banyak sekali kekuranganku selama ini dan aku sama sekaliĀ nggak pantas memimpin kelompok ini. Dan fakta bahwa mereka merasa belum mengenalku adalah … hmmmm, sesulit itukah mengenalku? (hei pecinta kopi, kamu wajib berkomentar tentang ini! :3)

Entah apa yang akan terjadi di minggu terakhir ini. Terakhir aku menginap di rumah Bu Sis. Di kamar springbed-nya yang dingin dan selalu berwarna dan bercorak sama: bunga-bunga biru. Aku tidak tahu apakah beliau tidak pernah mencuci cover bednya selama tiga bulan atau beliau punya bermacam-macam cover bed seperti itu dengan warna dan corak yang sama atau beliau selalu mencucinya lalu segera memakai cover bed itu ketika sudah kering. Menikmati udara dinginnya di kamar itu dan rebutan selimut merah dengan Dinanti. Kadang dia suka ngepek selimut sendiri, tak apalah mungkin dia tidak sadar, dan untungnya aku sudah memakai jaket tebal, karena aku sendiri alergi dingin. Tidur di kamar yang asing dengan lemari tua yang besar. Kadang aku membayangkan film horror yang pernah aku tonton, tentang seorang anak yang ditinggalkan, lalu disika dan akhirnya berakhir di sebuah lemari tua. Kemudian anak itu suka keluar-masuk dari lemari itu. Dan tentu saja pikiran itu segera aku tepis, apalagi sepertinya teman-teman takut banget kalau bicara soal makhluk halus. Read more