Are You Sure Your Cosmetic is Halal? (Part 1)

I was stalking Muslim Girl Instagram till I found Claudia Nour page. I went straight to her website and apparently, Claudia is a muallaf, someone who converted to Islam, and she has her own cosmetic products. It is called Claudia Nour Cosmetics. I was really excited because her products are halal and wudhu friendly or it is not waterproof. It means that I don’t need to wipe up my makeup before wudhu and touch up again after prayer. I chose 1 pack of lipstick sample, 1 lipstick scrub, and 1 foundation. The products are not costly at all, but the delivery is since they need to ship from NYC. It cost twice my groceries for two weeks! So, I closed the website desperately and googled for some halal makeup products in Australia.

Halal makeup for me is matter. As a Muslim, we know that we are not allowed to eat pork and any kind of wine because that’s the rule. Allah SWT has said in various places in the Holy Qur’an, one of them is:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ ….

“Forbidden to you (for food) are: dead meat, blood, the flesh of swine . . .”(Qur’an, 5:3)

Continue reading

Trust Allah, but Tie Your Camel

Trust Allah, but Tie Your Camel.

– Prophet Muhammad

May the peace and blessings of Allah be upon him.

(Tirmidhi)

hadist

Karena Bulan Ramadan, aku mengganti foto Kurt Cobain yang ada di dekstopku dengan hadist ini. Pertama kali membaca hadist ini, jidatku mengernyit dan harus membaca berkali-kali, baru paham. Continue reading

dia yang menanyakan kredibilitas Tuhan.

Aku masih prihatin dengan temanku yang satu itu. Dulu dia jarang mau diajak sholat. Alasan pertama setiap aku ajak sholat bajunya kotor, tapi logikanya Allah maha mengertilah, toh kita juga nanti pakai rukuh. Kita seharian di kampus, masa harus pulang dulu untuk sholat 5 menit. Logikanya. Alasan kedua, nanti takut dikira cowok. haihhhh. Alasan ketiga, lagi menstruasi. Namun, masa ada orang menstruasi menahun.

Kemudian, ada kabar yang mengejutkan kami, teman-teman satu jurusan, bahwa ibunya meninggal. Aku tidak bisa kesana, karena banyak halangan. Malah dia yang kerumahku. Aku memang ajak dia kerumahku karena kasihan dengan dia, masa dia dan temannya akan menginap di kampus demi mendapatkan wifi gratis. Kenapa nggak di rumahku aja.

Setelah itu, hubunganku dengan dia agak dekat lagi karena kami satu kelas, 6 dari 8 kelas. Dia temanku satu kelas ketika semester pertama. Dulu pernah dekat, tapi karena semua sama-sama memiliki kesibukan, akhirnya kelas kami berpencar.

DIa, temanku yang aku prihatinkan itu mulai berubah. Suatu ketika dia tiba-tiba bilang, ‘Aku tak sholat sek.’ Keesokan harinya, aku juga mendapati dia sholat bersama teman-teman. Alhamdulillah. Mungkin dia berubah karena sholat adalah wasiat dari ibunya.

Namun ternyata dia masih bersikap skeptis, seperti yang dia tulis di salah satu media sosial-nya, ‘it’s the 2nd time she made my skeptical thinking reach its highest level.’ Dia yang dimaksud adalah dosen Introduction to Translation-ku. Sebenarnya aku suka dosen ini, walaupun kebanyakan teman-teman takut dengan dia. Dia baik, hanya saja memang sangat disiplin dan ceplas-ceplos.

Yang membuat temanku semakin skeptis adalah ketika dia membahas sejarah translation dan kami harus membahas tentang injil, karena injil berasal dari bahsa ibrani, kemudian harus diterjemahkan. Aku agak lupa dengan penjelasan ketika itu karena aku belum belajar lagi, yang jelas waktu itu ada dua orang penerjemah yang mempunyai teori berbeda. Satu meyakini bahwa tidak boleh mengubah konteks kalimat dan menerjemahkan kata perkata, yang yang satunya meyakini bahwa menerjemahkan yang baik harus sesuai dengan maknanya, jadi tidak apa-apa mengubah struktur kalimat jika diperlukan.

Karena ini bahasan yang sensitif, dosen kami berkali-kali menekankan kepada kami bahwa ini adalah pelajaran sejarah, bukan agama. Kemudian, sampailah kepada pertanyan yang sensitif,

Continue reading

Hijab: Ikuti Perintah Allah atau Fashion?

Ide ini muncul ketika salah satu temanku yang non-muslim memakai jilbab. Kalau bagi mereka tidak apa-apa, menurutku juga tidak apa-apa sih, tapi berarti ini mengindikasikan bahwa berhijab itu fashionable. Lebih ke arah ‘fashionable‘nya daripada daripada pembeda antara wanita muslimah dan lainnya. Semacam model kemeja flanel yang suka banget dipakai anak-anak kuliahan (baca: aku). Hal ini bikin aku mikir, kalian itu pakai jilbab karena dapat hidayah atau dorongan hati, atau biar fashionable?

Ketika aku SD, aku masuk di Madrasah Ibtidaiyah, jadi otomatis pakai jilbab. Kemudian ketika SMP, aku masuk SMP negeri, jadi aku lepas jilbab, aku lupa alasan kenapa aku lepas jilbab waktu itu,tapi ketika bertemu guru SD, ada yang bilang, “Gadis jilbabnya kemana? Terbang ya?”. #malu #banget. Kemudian ketika SMP kelas 2 dan 3, aku ingat banget ketika orang tuaku maksa aku berjilbab nanti ketika SMA. Aku ngga mau. Apalagi dipaksa, mana mau. Aku lupa alasan kenapa aku malu, tapi yang jelas dulu guru SMP-ku ada yang melecehkan anak berjilbab. Namanya F (aku masih ingat), dia dipanggil Pak MGN, tapi rupanya dia tidak dengar entah kenapa. Kemudian Pak MGN berkata, “Makanya jangan berjilbab, telinganya ngga kedengaran.” Semacam itulah. Tapi akhirnya, ketika SMA aku-pun berjilbab. Bukan karena paksaan orang tua, tapi karena aku ingin berjilbab. Orang tuaku udah lupa mereka pernah maksa. Alasan memakai jilbabku adalah setengah karena panggilan hati, setengah karena SMA ngga pengen ngeliatin rambutku yang susah diatur. Klasik bukan (tapi aku jujur :3)

Kemudian, rupanya, image perempuan berjilbab selalu dianggap ‘alim’. Padahal, seorang muslim itu ngga sempurna, yang sempurna itu islam. Continue reading