(1)

(1)

‘Hei’, sapanya, mengejarku sambil ngos-ngosan. Akupun menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Ah, ternyata kamu, yang kerap kali bertemu denganku di lapangan yang sama, di jam yang sama, yang memakai kaos dengan lengan terbuka, seakan-akan kamu sengaja memperlihatkan tubuh atletismu itu. Akhirnya kamu menyapaku juga.

‘Hei’. Kataku sambil tersenyum. Belum sempat aku berkata lagi,

‘Kamu sering lari disini ya?’

‘Iya, kamu anak kosan yang di pojok itu kan?’

‘Iya. Aku baru pindah kesana.’

‘Iyaaaa. Aku baru nyadar waktu lihat kamu pergi ke lapangan dan kamu lewat depan rumahku. Ah ternyata kita tetanggaan.’

‘Untung banget ya punya tetangga yang sama-sama jago lari.’

‘Hahaha, ah enggak, cuma kebiasaan aja.’

‘Eh, aku juga sering lihat kamu pulang jalan kaki. Kenapa?’

‘Ngga papa, biar ngga gendut.’ Lalu dia tertawa. Sungguh tawa yang renyah dan menyenangkan.

‘Daripada kita berangkat sendiri-sendiri, bagaimana kalau kita lari bareng besok-besok?’

‘Boleh!’