Equality of Opportunity

Equality of Opportunity

Postingan ini aku tulis karena ada beberapa hal yang terpikir beberapa saat lalu. Postingan ini juga bukan postingan ilmiah walaupun judul yang tulis memakai istilah yang sangat spesifik. Hanya saja, cerita hari ini mengingatkanku pada beberapa hal yang aku tulis di thesis-ku; yang aku ga bakalan pernah tahu bahwa “Equality of Opportunity” itu ada; kalau aku tidak menulis thesis. #thankstomysupervisor

Ada sepupu yang datang berkunjung dari Tumpang. Seharusnya aku yang berkunjung besok; sekalian silaturahmi karena sudah lama aku tidak bertamu ke saudara-saudaraku di Tumpang, termasuk si sepupuku ini. Namun, karena beliau besok ada keperluan, beliau yang datang jauh-jauh ke rumahku hari ini.

Sepupuku sudah mempunyai 3 anak. Anaknya yang pertama sudah sebesar adik laki-lakiku yang kelas 3 SMA. Jadi, pembicaraan kami tadi seputar melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Kata sepupuku, aku pasti enak karena sudah lulus S2 dan sudah akan bekerja. Alhamdulillah. Aku hanya tersenyum. I don’t know how to explain. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena sudah lulus kuliah di luar negeri, tapi aku masih merasa belum apa-apa. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan aku juga masih harus banyak belajar.

Pokoknya aku mau kuliah, aku gak gelem kerja koyok sampean. Lanjut cerita sepupuku. Dia bilang anaknya yang sulung pokoknya ingin lanjut kuliah karena tidak ingin bekerja seperti bapaknya. Sepupuku dan suaminya adalah wiraswasta. Mereka memang dari keluarga yang selalu struggle di masalah finansial dari dulu. Jadi ketika mereka bertanya kepada ibuku berapa biaya kuliah, dan ibuku menjawab berdasarkan biaya adikku yang mahasiswa baru sekarang, ekspresi wajah mereka berubah. Dan aku paham. Tidak semua orang bisa mengakses bangku pendidikan karena biaya perkuliahan yang tinggi.

Read more
I Got a Racist Email (2)

I Got a Racist Email (2)

Karena email yang dia tulis tersebut, yang menyatakan bahwa kebanyakan orang Australia terganggu dengan keberadaan wanita muslim yang memakai hijab, tertutama burqa, membuatku berfikir bahwa apakah kebanyakan orang-orang Australia seperti itu. Walau aku juga yakin, yang dia nyatakan itu adalah sebuah hiperbola. Toh, dia juga tidak menyatakan data autentik yang mendukung argumennya itu. Tetapi, ada beberapa orang yang bilang beberapa orang Australia memang rasism, terutama di negara bagian Queensland. Namun, seberapa banyak? Aku pikir, ada baiknya bertanya kepada orang lokal.

Sabtu lalu, aku bertemu dengan temanku di tempat aku mengajar, yang merupakan orang lokal. Dia juga mahasiswa di Monash University, jurusan International Development. Aku cukup akrab dengan dia, dan kami sering bercerita banyak hal. Jadi, aku ceritakan ke dia tentang pengalamanku pahitku itu. (Well, ga pahit-pahit banget sih. B aja).

Read more

Jalan-jalan ke NGV

Jalan-jalan ke NGV

NGV adalah National Gallery of Victoria yang letaknya di pusat Kota Melbourne. Sebenarnya tahun lalu aku sudah pernah ke sini, tetapi yang membuat aku tidak pernah bosan adalah NGV selalu meng-install seni tematik baru setiap beberapa bulan. Akhir tahun kemarin mereka memasang karya-karya Yayoi Kusama, sedangkan sekarang tema mereka adalah MoMA (Museum of Modern Art) New York. Selain itu, karena aku tinggalnya satu jam jauhnya dari kota, pergi ke kota selalu hal yang menyenangkan. Dan foto di bawah merupakan foto yang aku ambil di pameran seni Yayoi Kusama.

This slideshow requires JavaScript.

Read more

Second year! (and how I study in Monash)

Second year! (and how I study in Monash)

Halo! Di sini sudah pukul 11 malam, tapi aku memutuskan untuk ngeblog dulu, karena besok aku bisa bangun agak siangan. Bukan karena apa, tapi di Melbourne subuhnya memang baru pukul 6 pagi dan matahari terbit pukul 7.30. Sedangkan maghrib pukul 17.20-an. Di sini memang sedang musim dingin. Jadi, kalau kamu puasa sekarang, itu cuman kurang dari 12 jam. Enak, kan?

Besok hari pertama kuliah di tahun keduaku dimulai. Ini klise, tapi aku ingin berkata, setahun kayak cepet ya. Kemarin rasanya baru saja orientasi (dan berjanji akan posting banyak hal tentang kuliah di sini tapi kurang tercapai), tetapi sekarang sudah tahun kedua. Semester ini aku ambil mata kuliah Second Language Acquisition dan World Englishes.

Aku pengen cerita sekaligus menjabarkan bagaimana persiapanku menghadapi minggu pertama, belajarnya seperti apa, dan bagaimana sistem pendidikan atau akses di Monash University. Gara-garanya, kemarin banyak teman yang bilang instagram story-ku isinya jalan-jalan mulu. Padahal, bukan berarti aku ngga belajar gaes, tapi masa iya aku upload tiap kali aku lagi belajar, kan ngga enak. Tapi ternyata upload stories jalan-jalan juga salah ya, haha! Oke, akan aku kurangi upload stories ya gaes.


Read more

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Read more

Culture Shock

Culture Shock

Hari ini pas satu minggu aku berada di Malang, Indonesia. Dalam satu minggu, aku sudah makan nasi padang, bakso, nasi goreng, sate ayam, ceker, dan, soto. Makanan-makanan yang aku idam-idamkan selama ini. Masih banyak lagi makanan yang ingin aku makan sebelum kembali studi ke Australia. Dalam satu minggu, jadual bertemu teman-teman lama, silaturahmi ke saudara, dan family time juga full. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, dan aku sukanya, aku jarang buka media sosial. Walaupun agak-agak bersalah karena aku punya tanggungjawab di organisasi.

Read more

Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari

Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari

Minggu pagi sebenarnya sudah aku jadwalkan untuk lari pagi. Namun entah kenapa saat itu aku merasa bosan sekali untuk melangkahkan kaki ke stadion. Alih-alih berolahraga, aku memutuskan untuk menarik selimut dan kembali terlelap. Tidak tidur lagi setelah sholat subuh memang tanntangannya sangat luar biasa.

Aku bangun pukul 7, lalu segera mengecek instagram. Memang kids zaman now. Ternyata ada DM dari Rofi, teman sesama PSLD dan Akartuli, yang mengajak ke CFD (Car Free Day) Malang. Ya tentu aku mau lah. Segera aku mempersiapkan diri dan memesan abang grab. Aku sekarang lebih suka memakai jasa grab daripada jasa ojek online satunya karena lebih murah.

“Jangan lupa bawa helm sendiri” kata Rofi.

Read more