Prompt #84 – Bapak

Alarmku berbunyi pukul lima pagi. Hari ini liburan terakhirku dan malam nanti aku harus segera kembali ke kantor. Setelah merapikan kasur, packing, dan mandi, aku menuju dapur untuk sarapan.


“Paak, bapak?” Bapak tetap tidak menyahut. “Bapak sedang apa bu?”


“Biasa, masih tempat kerjanya. Sudah sejak semalaman tadi.”


“Bapak masih tetap tidak mau menemuiku, bu. Padahal besok aku sudah tidak ada disini dan baru satu tahun lagi aku baru kembali.”

“Kamu sudah 27 tahun hidup dengan bapakmu yang autis itu. Sekali lagi Ibu akan bilang, bahwa Autis itu bukan penyakit, Na. Autis itu tidak bisa disembuhkan. Kamu hanya bisa memahami dan memaklumi.” Continue reading

Secret in The Tunnel

PHOTO PROMPT © Stephen Baum

it was 1 PM. I was keep running in the tunnel and I knew he was chasing me after. And then I see around, the tunnel was deep and dark. It will be vain if somebody cried for help here. I stop in the middle, I turned around, and he was right behind me.

” What’s up darling? Are you tired of running?” He grinned. I can see his disgusting yellow teeth and his eyes looking at my body. Continue reading

Today’s High

For a while, she forgot about her stalker, which is getting beyond the limit. In the beginning, he called, said he loved her in the very first time they met in the high school. She barely knew him, but he can’t stop calling her. Even he knows wherever she go or wherever she did. The stalker is getting creepy.

First 50 Words - Prompts for Writing Practice

She turned out the light and settled into the bed. As was her custom, she did a gratitude exercise before going to sleep. Today’s high was getting the new Taylor Swift album, but she was also grateful for the hello she got at the gym from the guy with the eagle tattoo. Oh, and she got a free coffee with her loyal customer card at lunch. It was a great day.

Please leave a comment with your first 50 words on the topic “today’s high.”

View original post

Cinta ya Cinta

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

“Apa buktinya?”

Leo menghela nafas. “Sudah lima tahun kita bersama, masih saja kau bertanya kecintaanku padamu. Bukannya kesetiaanku sudah menjadi bukti?”

Perempuan itu pun tersipu malu. “Kamu cinta aku kan?” tanyanya dengan manja.

“Iya. Aku harus bilang berapa kali yang?”

“Tapi aku mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Tapi kamu cinta aku kan?”

“Bagaimana aku tidak bisa mencintai perempuan yang semanja dirimu ini?”

Tyas tersipu kembali. “Baiklah, sebelum kita bersama selamanya mengucapkan janji cinta, aku akan memberitahumu sesuatu.”

“Apa itu, Yas?”

“Dulu aku ..”

“Masa lalumu? Aku mencintaimu seutuhnya, dulu, sekarang, maupun nanti.”

Tyas menarik nafas, menelan ludah, menenangkan dirinya, kemudia berkata, “Dulu aku laki-laki, Yo. Dulu aku Tyo, bukan Tyas.”

Jantung Leo seakan berhenti bergerak. Mulutnya menganga, matanya setengah melotot, lalu kerongkongannya tersedak air liurnya sendiri. Dia batuk-batuk sedikit, mengatur nafasnya, lalu dengan tersenyum dia berkata.

“Tak apa, namaku dulu pun Lia.”

illustrated by: gandya

illustrated by: gandya


Gandi suka menggambar tengkorak, jadi tantangan sendiri bikin fiksinya. Dan ide yang muncul di gambar ini adalah ini. XD

Terimakasih sudah membaca! :mrgreen:

Candu

Sukma sedang melamunkan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengecohnya dari penampilan. Dia tak mengira akan menyukai laki-laki sederhana dengan kemeja polos abu-abu, celana jeans, sepatu pantofel, ransel hitam dan rambut hitam yang rapi. Ya, laki-laki itu -yang berkulit hitam dan bibirnya yang tipis yang jika tersenyum akan terlihat manis sekali bagi Sukma- sedang membuatnya merasakan candunya cinta. Dari pertama perkenalannya di kelas sampai sekarang ketika dia dan laki-laki yang bernama Habibi itu sudah menjadi lebih sekedar dari teman, walaupun belum ada komitmen dalam bentuk apapun. Mungkin sekarang sudah ada ribuan percakapan di dalam whatsapp yang tak pernah Sukma hapus. Dan tiga kata ini lah yang membuat Sukma semakin melayang,

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

Continue reading

Abadi

Perempuan itu menyentuh bibirnya, hidungnya, pipinya, lalu pelipisnya. Dalam cermin dia melihat guratan-guratan di sekitar mata. Ia tak menyenangi guratannya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita dengan usia berkepala empat. Dilihatnya gunting yang terletak di meja rias. Rasanya ingin mengeruk seluruh guratan dengan gunting itu. Namun dia sadar bahwa itu akan lebih meninggalkan bekas-bekas yang lebih menghinakannya. Lalu dilemparkannya gunting itu dengan keras-keras.

Tok, tok, tok. “Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?”

“Ah, tidak-tidak. Pergi kau.”

Dia berkaca lagi dengan baik-baik. Dengan perlahan dia mengoleskan krim anti penuaan untuk menutupi kekurangannya. Dengan hati-hati dia mengoleskannya dari dahi, pelipis, pipi kanan-kiri, hidung, lalu dengan perlahan dia menuju ke dagu. Kemudian dia memakai bedak, mempercantik matanya dengan warna-warnanya dengan tajam. Terakhir, dia menggunakan warna merah di bibirnya.

“Hah, kosmetik-kosmetik ini tidak akan membantu banyak. Ali harus membantuku!”

Continue reading

(1)

‘Hei’, sapanya, mengejarku sambil ngos-ngosan. Akupun menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Ah, ternyata kamu, yang kerap kali bertemu denganku di lapangan yang sama, di jam yang sama, yang memakai kaos dengan lengan terbuka, seakan-akan kamu sengaja memperlihatkan tubuh atletismu itu. Akhirnya kamu menyapaku juga.

‘Hei’. Kataku sambil tersenyum. Belum sempat aku berkata lagi,

‘Kamu sering lari disini ya?’

‘Iya, kamu anak kosan yang di pojok itu kan?’

‘Iya. Aku baru pindah kesana.’

‘Iyaaaa. Aku baru nyadar waktu lihat kamu pergi ke lapangan dan kamu lewat depan rumahku. Ah ternyata kita tetanggaan.’

‘Untung banget ya punya tetangga yang sama-sama jago lari.’

‘Hahaha, ah enggak, cuma kebiasaan aja.’

‘Eh, aku juga sering lihat kamu pulang jalan kaki. Kenapa?’

‘Ngga papa, biar ngga gendut.’ Lalu dia tertawa. Sungguh tawa yang renyah dan menyenangkan.

‘Daripada kita berangkat sendiri-sendiri, bagaimana kalau kita lari bareng besok-besok?’

‘Boleh!’