Culture Shock

Hari ini pas satu minggu aku berada di Malang, Indonesia. Dalam satu minggu, aku sudah makan nasi padang, bakso, nasi goreng, sate ayam, ceker, dan, soto. Makanan-makanan yang aku idam-idamkan selama ini. Masih banyak lagi makanan yang ingin aku makan sebelum kembali studi ke Australia. Dalam satu minggu, jadual bertemu teman-teman lama, silaturahmi ke saudara, dan family time juga full. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, dan aku sukanya, aku jarang buka media sosial. Walaupun agak-agak bersalah karena aku punya tanggungjawab di organisasi.

Continue reading

Budaya Titip Absen

Beberapa hal yang ‘menakjubkan’ di kelas terjadi belakangan ini. Aku pikir, ini menarik untuk aku tulis. Bahkan kadang kalau aku absen menulis, aku merasa terlalu banyak hal di pikiranku, and I just want to let it all out.

 

Perkara Daftar Hadir

Kalau di kampus aku dulu, daftar hadir selalu berformat resmi. Selalu tercetak, ada kop universitas, mahasiswa kadang-kadang harus tanda tangan atau hanya perlu dicentang oleh dosen, dan selalu ada tanda tangan dosen di setiap minggu. Dosen juga harus mengisi jurnal kegiatan yang juga harus tertandatangi. Sementara itu, di sini, sejauh ini dari 4 mata kuliah dan 2 tutorial yang sudah aku jalani, tidak pernah ada daftar hadir resmi yang tercetak. Tetap ada daftar hadir, tetapi hanya berupa selembar kertas yang harus kami tulis sendiri nama kami, nomor mahasiswa, dan tanpa tanda tangan. Bahkan ada satu kelas, pada semester ini, yang tidak perlu mengisi daftar hadir. Jadi, kalau tidak hadir pada seminar tersebut sah-sah saja karena tidak akan mengurangi presentasi nilai.

Lalu, perkara titip absen (TA), kalian yang sudah pernah dan sedang menjadi mahasiswa tentu sangat-amat paham dengan sistem ini. Di kampusku saja, yang sistem daftar hadirnya seperti itu, TA kerap kali terjadi dan sering tidak ketahuan. Apalagi satu kelas ada sekitar 35 mahasiswa, dosen jarang mengecek satu per satu. Kalau di sini, dosen juga tidak pernah cek mahasiswa satu per satu. Aku pun yakin dosen tidak hafal semua nama mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa internasional yang namanya sulit dihafal dan diucapkan. Walaupun begitu, jumlah mahasiswa dalam satu kelas tidak pernah mencapai 25. Tapi tetap saja, bisa saja TA dengan mudah karena hanya harus menulis nama dan nomor mahasiswa tanpa tanda tangan.

Dan, itu terjadiContinue reading

#NA2 Ex-boyfriends

I don’t mind talking about ex-boyfriends. I don’t have any feelings for them anymore, and I wonder why I was so crazy in love with them. 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️ Anyway, I never write about ex-boyfriends before, except the last one though.

I have three exes. (Mantan gebetan ga termasuk kan?). If gebetan is included, I don’t remember how many gebetan that I had because I never included them as a ‘serious relationship’. I don’t know what is gebetan in English, I don’t think they have the concept of gebetan.

The first and the second one when I was in senior high school. The third one is when I was in college. When I was in 10th grade, my school has 8 classes for 10th grade, I was included in X3. Saputra and Setio, not their real name, also in X3. At first, Setio and I were a best friend, but actually, I did like him, more than a friend. I don’t know why I liked him, it was so stupid. He was a bad guy, and I used to love bad guys. *ugh *I know 😏

original

Continue reading

Curhat Research Paper

Semester ini aku ada mata kuliah Language and Intercultural Communication, dan ada final assignment berupa Research Paper. Sebenarnya aku suka research sih, dan aku sudah menulis bagian literature review dengan bahagia karena aku sudah tahu apa yang aku tulis, sampai dosen aku bilang, “Your research is extreme.”

Continue reading

When Intercultural Communication Intertwined within a Group Project

To be honest, because of that one person. My group member consists of me, R (from Australia), and J (from China). We have to culturally constructed concepts or practices for the assignment. R is deaf, so she decided to write about sign names. I talked about the act of hand kissing in Java. Then, J was about to write about Chinese religion. We need to record our conversation as the data, and then analyze it.

I and J had different perception in the very first meeting. In the first meeting, we didn’t have an interpreter and J so freaking confused about how we communicated to R, recorded the data, and so on. I said to her that we could have written communication as a valid data. I knew this because I was an interpreter back then, I communicated with deaf people, and their written communication works as valid as their sign language. But she refused. She believed that written communication won’t work. So, we spent our first meeting ineffectively.  Continue reading

Berkunjung ke Panti Asuhan Al-Kaff

Untuk memperingati 1 Muharram, pengajian ibuku mengadakan acara berkunjung ke Panti Asuhan Al-Kaff di Jabung kab. Malang. Rumahku full dengan beras, pakaian, dan barang-barang lain untuk disumbangkan ke panti asuhan. Pulang dari hari PPL terakhir pun aku langsung ribet bikin kue dengan budhe untuk diberikan ke anak-anak panti.

donat

donat home made (y) serius enak banget

Roti Kukus

warna pastel. aku loh yang buat :3

Sebenarnya aku sudah pernah ke panti ini, tapi itu sudah lama sekali rasanya. Jadi ingatanku agak sedikit buram. Mom sangat suka panti asuhan ini karena kata beliau panti tersebut sangat membutuhkan. Anak asuhnya 107 anak dari umur 3 bulan sampai remaja, sedangkan pengasuhnya hanya 7. Kebayang ga sih betapa hectic dan ribetnya keseharian mereka.

Lalu, hari ini kami berangkat pukul 7.00 AM. Sangat pagi sekali karena tidak ingin pulang terlalu siang. Kalau terlalu siang akan ada acara karnaval dan pastinya kena macet. We don’t want that. Daddy suruh aku ikut biar ada yang bagian foto-foto. Kalau di kampus ikut kepanitiaan pasti divisi PDD (Publikasi dokumentasi dan dekorasi) di rumah pun begitu. Rupanya walaupun usia sudah kepala 4, tetep seneeeeng banget difoto.

DSCF0649

candid 😀

DSCF0638

sebelum berangkat, dengan barang bawaan satu truck (y)

Continue reading

Bedanya Cowok dan Cewek Kalau Curhat

sumber

Teman-teman semua tau curhat kan? Ituloh, curahatan hati. Ketika seseorang mempunyai masalah lalu mencurahkan perasaan dia itu ke orang lain. Curhat itu sendiri adalah proses katarsis. Kalau kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. Intinya satu: mencurahkan isi hati dan bercerita.

Semua orang pasti pernah melakukan katarsis dengan cara curhat. Ya kan, ya kan? Nggak salah kok curhat itu. Bahkan itu bagus karena bisa mengurangi stress dan kita sebagai manusia yang makhluk sosial itu otomatis membutuhkan orang lain. Selain itu, kita dikatakan lebih kreatif memecahkan masalah orang lain daripada masalah sendiri. See, curhat is needed. :mrgreen:

Yang menarik adalah ketika cowok dan cewek itu curhat, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Continue reading