#NA2 Ex-boyfriends

#NA2 Ex-boyfriends

I don’t mind talking about ex-boyfriends. I don’t have any feelings for them anymore, and I wonder why I was so crazy in love with them. πŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ Anyway, I never write about ex-boyfriends before, except the last one though.

I have three exes. (Mantan gebetan ga termasuk kan?). If gebetan is included, I don’t remember how many gebetan that I had because I never included them as a ‘serious relationship’. I don’t know what is gebetan in English, I don’t think they have the concept of gebetan.

The first and the second one when I was in senior high school. The third one is when I was in college. When I was in 10th grade, my school has 8 classes for 10th grade, I was included in X3. Saputra and Setio, not their real name, also in X3. At first, Setio and I were a best friend, but actually, I did like him, more than a friend. I don’t know why I liked him, it was so stupid. He was a bad guy, and I used to love bad guys. *ugh *I know 😏


Read more

Cinta ya Cinta

Cinta ya Cinta

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

“Apa buktinya?”

Leo menghela nafas. “Sudah lima tahun kita bersama, masih saja kau bertanya kecintaanku padamu. Bukannya kesetiaanku sudah menjadi bukti?”

Perempuan itu pun tersipu malu. “Kamu cinta aku kan?” tanyanya dengan manja.

“Iya. Aku harus bilang berapa kali yang?”

“Tapi aku mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Tapi kamu cinta aku kan?”

“Bagaimana aku tidak bisa mencintai perempuan yang semanja dirimu ini?”

Tyas tersipu kembali. “Baiklah, sebelum kita bersama selamanya mengucapkan janji cinta, aku akan memberitahumu sesuatu.”

“Apa itu, Yas?”

“Dulu aku ..”

“Masa lalumu? Aku mencintaimu seutuhnya, dulu, sekarang, maupun nanti.”

Tyas menarik nafas, menelan ludah, menenangkan dirinya, kemudia berkata, “Dulu aku laki-laki, Yo. Dulu aku Tyo, bukan Tyas.”

Jantung Leo seakan berhenti bergerak. Mulutnya menganga, matanya setengah melotot, lalu kerongkongannya tersedak air liurnya sendiri. Dia batuk-batuk sedikit, mengatur nafasnya, lalu dengan tersenyum dia berkata.

“Tak apa, namaku dulu pun Lia.”

illustrated by: gandya
illustrated by: gandya

Gandi suka menggambar tengkorak, jadi tantangan sendiri bikin fiksinya. Dan ide yang muncul di gambar ini adalah ini. XD

Terimakasih sudah membaca! :mrgreen:



Sukma sedang melamunkan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengecohnya dari penampilan. Dia tak mengira akan menyukai laki-laki sederhana dengan kemeja polos abu-abu, celana jeans, sepatu pantofel, ransel hitam dan rambut hitam yang rapi. Ya, laki-laki itu -yang berkulit hitam dan bibirnya yang tipis yang jika tersenyum akan terlihat manis sekali bagi Sukma- sedang membuatnya merasakan candunya cinta. Dari pertama perkenalannya di kelas sampai sekarang ketika dia dan laki-laki yang bernama Habibi itu sudah menjadi lebih sekedar dari teman, walaupun belum ada komitmen dalam bentuk apapun. Mungkin sekarang sudah ada ribuan percakapan di dalam whatsapp yang tak pernah Sukma hapus. Dan tiga kata ini lah yang membuat Sukma semakin melayang,

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

Read more

Mas, kamu buat penasaran siapa lagi sih?

Mas, kamu buat penasaran siapa lagi sih?

11 Juni 2015

Ketika itu aku sedang memutuskan untuk membuat sebuah blog lagi dengan domain blogspot, karena blog wordpress tidak bisa edit-edit CSS kalau tidak premium dan aku sedang ingin bermain-man dengan kode html. Kemudian aku menuju profil google+ untuk mencari teman-teman pemakai blogspot dan aku menemukan dua orang teman sesama jurusan yang suka menulis di sana. Pertama dia teman dekatku yang sudah memakai blogger sejak lama dan sebenarnya aku sudah tahu link-nya dia. Jadi aku agak kecewa kenapa aku harus menemukan dia lagi zzzzt, bukan yang lain saja. Kedua, temanku yang bernama Juni. Aku tidak pernah dekat dengan Juni. Yang aku tahu dari dia, dia adalah anggota breakdance jurusan kami yanag suka memakai rok span hitam pendek dan sepatu kets.

Kemudia aku scrolling halaman dia dari awal. Rupanya dia bukan tipe penulis yang suka menulis beberapa kali dalam satu minggu. Hanya ada satu-dua post dalam satu bulan. Templatenya-pun template otomatis dari blogger, jadi sepertinya dia jarang mengurus settingan (yang tidak seperti aku yang dikit-dikit suka otak atik. Postingan terakhir bulan lalu tentang mantannya yang tak terlupakan, yang ke-dua dan ke-empat tentang … wait, wait, wait.
Read more

Diary Ramadhan (3)

Diary Ramadhan (3)

Mas RPA.

Malam itu, aku bermimpi tentang dia. Dia bilang, dia rindu padaku. Sungguh, delusi yang indah. Keesokan harinya, ada sms dari dia. Entah kenapa dan aku benar-benar tak habis pikir. Oh tidak, dia tidak berkata bahwa dia rindu padaku. Dia berkata, “Dis Gadis, makasih ya, makasiiiii banget :D”

I knew what is it all about.

Kita smsan juga sih akhirnya. Dia bilang, dia sekarang sedang pedekate dengan temanku. Iya, temanku yang pernah kuceritakan waktu itu. Cantik, putih, tinggi, semampai. Iya. he is really smitten over her.


Cause you know, one time, I had a feeling for him. and eventually, he loves my friend.

Hal ini, memaksaku membuat suatu kesimpulan bahwa, pada dasarnya laki-laki itu melihat perempuan dari sisi keelokannya.



Kalau kamu datang,
aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri
di depan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya,
hati mana saja yang sudah ku lewati untuk sampai di sini.
Karena dengan langkahmu, aku terbangun,
dari mati siru yang kunina-bobokan sendiri.
Kalau kamu datang, tolong jangan pergi.
Aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang.
Aku berani sumpah, aku tenang.
– Dewi Lestari