Candu

Candu

Sukma sedang melamunkan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengecohnya dari penampilan. Dia tak mengira akan menyukai laki-laki sederhana dengan kemeja polos abu-abu, celana jeans, sepatu pantofel, ransel hitam dan rambut hitam yang rapi. Ya, laki-laki itu -yang berkulit hitam dan bibirnya yang tipis yang jika tersenyum akan terlihat manis sekali bagi Sukma- sedang membuatnya merasakan candunya cinta. Dari pertama perkenalannya di kelas sampai sekarang ketika dia dan laki-laki yang bernama Habibi itu sudah menjadi lebih sekedar dari teman, walaupun belum ada komitmen dalam bentuk apapun. Mungkin sekarang sudah ada ribuan percakapan di dalam whatsapp yang tak pernah Sukma hapus. Dan tiga kata ini lah yang membuat Sukma semakin melayang,

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

Read more

Abadi

Abadi

Perempuan itu menyentuh bibirnya, hidungnya, pipinya, lalu pelipisnya. Dalam cermin dia melihat guratan-guratan di sekitar mata. Ia tak menyenangi guratannya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita dengan usia berkepala empat. Dilihatnya gunting yang terletak di meja rias. Rasanya ingin mengeruk seluruh guratan dengan gunting itu. Namun dia sadar bahwa itu akan lebih meninggalkan bekas-bekas yang lebih menghinakannya. Lalu dilemparkannya gunting itu dengan keras-keras.

Tok, tok, tok. “Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?”

“Ah, tidak-tidak. Pergi kau.”

Dia berkaca lagi dengan baik-baik. Dengan perlahan dia mengoleskan krim anti penuaan untuk menutupi kekurangannya. Dengan hati-hati dia mengoleskannya dari dahi, pelipis, pipi kanan-kiri, hidung, lalu dengan perlahan dia menuju ke dagu. Kemudian dia memakai bedak, mempercantik matanya dengan warna-warnanya dengan tajam. Terakhir, dia menggunakan warna merah di bibirnya.

“Hah, kosmetik-kosmetik ini tidak akan membantu banyak. Ali harus membantuku!”

Read more