Abadi

Abadi

Perempuan itu menyentuh bibirnya, hidungnya, pipinya, lalu pelipisnya. Dalam cermin dia melihat guratan-guratan di sekitar mata. Ia tak menyenangi guratannya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita dengan usia berkepala empat. Dilihatnya gunting yang terletak di meja rias. Rasanya ingin mengeruk seluruh guratan dengan gunting itu. Namun dia sadar bahwa itu akan lebih meninggalkan bekas-bekas yang lebih menghinakannya. Lalu dilemparkannya gunting itu dengan keras-keras.

Tok, tok, tok. “Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?”

“Ah, tidak-tidak. Pergi kau.”

Dia berkaca lagi dengan baik-baik. Dengan perlahan dia mengoleskan krim anti penuaan untuk menutupi kekurangannya. Dengan hati-hati dia mengoleskannya dari dahi, pelipis, pipi kanan-kiri, hidung, lalu dengan perlahan dia menuju ke dagu. Kemudian dia memakai bedak, mempercantik matanya dengan warna-warnanya dengan tajam. Terakhir, dia menggunakan warna merah di bibirnya.

“Hah, kosmetik-kosmetik ini tidak akan membantu banyak. Ali harus membantuku!”

Read more