Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatanΒ  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Continue reading

Karnaval Grebeg Suro Ketangi

Setelah berkunjung ke panti, siangnya ada karnaval di depan perumahanku. Karnaval ini bertujuan untuk bersih desa yang memang dilakukan setiap tanggal 1 Suro. Orang-orang sih bilangnya grebeg suro. Sebenarnya karnaval ini diadakan oleh masyarakat Dusun Ketangi, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, tetapi rupanya masyarakat satu desa turut meramaikan, termasuk aku. Penasaran dengan foto-fotonya?

Here we go! πŸ˜‰

DSCF0853

DSCF1115 bertemu murid-muridku SMP, eeeeh ternyata mereka peserta karnaval. Love their outfits!

Continue reading

Hijab: Ikuti Perintah Allah atau Fashion?

Ide ini muncul ketika salah satu temanku yang non-muslim memakai jilbab. Kalau bagi mereka tidak apa-apa, menurutku juga tidak apa-apa sih, tapi berarti ini mengindikasikan bahwa berhijab itu fashionable. Lebih ke arah ‘fashionable‘nya daripada daripada pembeda antara wanita muslimah dan lainnya. Semacam model kemeja flanel yang suka banget dipakai anak-anak kuliahan (baca: aku). Hal ini bikin aku mikir, kalian itu pakai jilbab karena dapat hidayah atau dorongan hati, atau biar fashionable?

Ketika aku SD, aku masuk di Madrasah Ibtidaiyah, jadi otomatis pakai jilbab. Kemudian ketika SMP, aku masuk SMP negeri, jadi aku lepas jilbab, aku lupa alasan kenapa aku lepas jilbab waktu itu,tapi ketika bertemu guru SD, ada yang bilang, “Gadis jilbabnya kemana? Terbang ya?”. #malu #banget. Kemudian ketika SMP kelas 2 dan 3, aku ingat banget ketika orang tuaku maksa aku berjilbab nanti ketika SMA. Aku ngga mau. Apalagi dipaksa, mana mau. Aku lupa alasan kenapa aku malu, tapi yang jelas dulu guru SMP-ku ada yang melecehkan anak berjilbab. Namanya F (aku masih ingat), dia dipanggil Pak MGN, tapi rupanya dia tidak dengar entah kenapa. Kemudian Pak MGN berkata, “Makanya jangan berjilbab, telinganya ngga kedengaran.” Semacam itulah. Tapi akhirnya, ketika SMA aku-pun berjilbab. Bukan karena paksaan orang tua, tapi karena aku ingin berjilbab. Orang tuaku udah lupa mereka pernah maksa. Alasan memakai jilbabku adalah setengah karena panggilan hati, setengah karena SMA ngga pengen ngeliatin rambutku yang susah diatur. Klasik bukan (tapi aku jujur :3)

Kemudian, rupanya, image perempuan berjilbab selalu dianggap ‘alim’. Padahal, seorang muslim itu ngga sempurna, yang sempurna itu islam. Continue reading