Manusia dan Sifat Lupa

Dulu waktu aku masih kuliah di Brawijaya, aku dan adik-adikku selalu berangkat pagi-pagi diantar bapak. Adik-adikku sekolah di Brawijaya Smart School yang tetanggaan dengan kampusku. Sengaja dibuat begitu memang. Kata bapak agar kalau antar-jemput biar sekalian.

Biasanya kami berangkat pukul 6 kurang 10 atau 15. Lebih dari itu, daerah Soekarno-Hatta sudah pasti macet dan adik-adikku pasti akan mengomel karena takut kena poin tatib (tata tertib). Biasanya bapak cenderung santai-santai saja, karena kata bapak, beliau hanya bertugas mengantar. Mau cepat atau lambat, itu tergantung mereka apakah bisa bangun lebih pagi dan mandi cepat. Sedangkan sebenarnya biasanya bapak yang mandinya lama. Kalau sudah begitu adikku yang perempuan mengomel-ngomel, “Duh suwe iki, lama ini.” Continue reading

Prompt #84 – Bapak

Alarmku berbunyi pukul lima pagi. Hari ini liburan terakhirku dan malam nanti aku harus segera kembali ke kantor. Setelah merapikan kasur, packing, dan mandi, aku menuju dapur untuk sarapan.


“Paak, bapak?” Bapak tetap tidak menyahut. “Bapak sedang apa bu?”


“Biasa, masih tempat kerjanya. Sudah sejak semalaman tadi.”


“Bapak masih tetap tidak mau menemuiku, bu. Padahal besok aku sudah tidak ada disini dan baru satu tahun lagi aku baru kembali.”

“Kamu sudah 27 tahun hidup dengan bapakmu yang autis itu. Sekali lagi Ibu akan bilang, bahwa Autis itu bukan penyakit, Na. Autis itu tidak bisa disembuhkan. Kamu hanya bisa memahami dan memaklumi.” Continue reading