Aku, Kamu. Kita?

Aku, Kamu. Kita?

Aku, Nata, dan Arin sedang edit buku. Buku kami terdiri dari beberapa penulis. Setiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda. Nah, tugas kami adalah menyatukan tulisan-tulisan tersebut agar roh-nya sama.

Buku tersebut dimulai pada tahun 2016/2017. Sempat berhenti. Lalu aku ingat kembali dengan buku tersebut awal tahun ini karena sesuatu. Kami benar-benar ingin buku ini terbit, karena sayang kalau tidak terbit. Cuman ada beberapa hal yang menurut kami kurang, jadi masih saja terus diedit. Sekarang, Arin yang sedang aktif berproses mengedit buku tersebut. Aku dan Nata masih stuck.

Suatu ketika, Arin bertanya, “Eh, ini satu paragraf ada yang pake ‘saya’ terus pake ‘aku’ juga?”

“Pakai kata ‘aku’ aja. Aku ngerasa lebih deket dengan penulis ketika dia bilang aku”.

“Ada teori psikologinya ga sih itu? Or just you. Soalnya temenku juga gitu”.

Read more
Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Read more

Bahasa Jawa VS Bahasa Indonesia

Bahasa Jawa VS Bahasa Indonesia

Teman-teman KKN-ku heran kenapa aku tidak bisa berbahasa Jawa. Maklum, di desa sana banyak Javanese exposure. Sehingga, dikit-banyak pasti menggunakan krama alus ketika berbicara dengan warga dan kalau mau diterima dan dianggap sopan. Njawani. Dan ketika berbicara dengan warga, pasti aku kebagian yang kalau si warga itu menggunakan Bahasa Indonesia. Nah, aku jagonya. Mau berbicara Bahasa Indonesia yang baik dan benar? Sini-sini. Kalau Bahasa Jawa, aku pasrahkan kepada teman-temanku yang asli Jawa Tengah.

Bukannya aku tidak bisa Bahasa Jawa sama sekali, kalau ngoko pasti semua orang Jawa bisa. Apalagi aku orang Malang yang terkenal dengan Bahasa Jawanya yang ‘halus’. Kalau orang berbicara bahasa krama, aku bisa mengerti sebagian besar. Mungkin hanya sepatah-dua patah kata yang tidak ada di perbendaharaan kamusku. Hanya saja, aku yang kurang bisa mem-produce Bahasa Jawa-ku.

Aku malas sekali menjelaskan kepada teman-teman kenapa aku tidak bisa Bahasa Jawa. Jarene, ‘Wong Jowo kok gak iso Boso Jowo.’ Aku sendiri juga heran, karena kadang jika disuruh adik mengerjakan tugasnya, menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Jawa, aku lebih cepat menerjemahkan itu ke dalam Bahasa Inggris. Dari dulu sampai sekarang mama pasti tetap akan tertawa ngakak mengingat jawaban ulangan Bahasa Jawaku. Kata beliau, dulu aku pernah menulis kalau petelot iku pesawat, padahal pensil. Read more