dia yang menanyakan kredibilitas Tuhan.

Aku masih prihatin dengan temanku yang satu itu. Dulu dia jarang mau diajak sholat. Alasan pertama setiap aku ajak sholat bajunya kotor, tapi logikanya Allah maha mengertilah, toh kita juga nanti pakai rukuh. Kita seharian di kampus, masa harus pulang dulu untuk sholat 5 menit. Logikanya. Alasan kedua, nanti takut dikira cowok. haihhhh. Alasan ketiga, lagi menstruasi. Namun, masa ada orang menstruasi menahun.

Kemudian, ada kabar yang mengejutkan kami, teman-teman satu jurusan, bahwa ibunya meninggal. Aku tidak bisa kesana, karena banyak halangan. Malah dia yang kerumahku. Aku memang ajak dia kerumahku karena kasihan dengan dia, masa dia dan temannya akan menginap di kampus demi mendapatkan wifi gratis. Kenapa nggak di rumahku aja.

Setelah itu, hubunganku dengan dia agak dekat lagi karena kami satu kelas, 6 dari 8 kelas. Dia temanku satu kelas ketika semester pertama. Dulu pernah dekat, tapi karena semua sama-sama memiliki kesibukan, akhirnya kelas kami berpencar.

DIa, temanku yang aku prihatinkan itu mulai berubah. Suatu ketika dia tiba-tiba bilang, ‘Aku tak sholat sek.’ Keesokan harinya, aku juga mendapati dia sholat bersama teman-teman. Alhamdulillah. Mungkin dia berubah karena sholat adalah wasiat dari ibunya.

Namun ternyata dia masih bersikap skeptis, seperti yang dia tulis di salah satu media sosial-nya, ‘it’s the 2nd time she made my skeptical thinking reach its highest level.’ Dia yang dimaksud adalah dosen Introduction to Translation-ku. Sebenarnya aku suka dosen ini, walaupun kebanyakan teman-teman takut dengan dia. Dia baik, hanya saja memang sangat disiplin dan ceplas-ceplos.

Yang membuat temanku semakin skeptis adalah ketika dia membahas sejarah translation dan kami harus membahas tentang injil, karena injil berasal dari bahsa ibrani, kemudian harus diterjemahkan. Aku agak lupa dengan penjelasan ketika itu karena aku belum belajar lagi, yang jelas waktu itu ada dua orang penerjemah yang mempunyai teori berbeda. Satu meyakini bahwa tidak boleh mengubah konteks kalimat dan menerjemahkan kata perkata, yang yang satunya meyakini bahwa menerjemahkan yang baik harus sesuai dengan maknanya, jadi tidak apa-apa mengubah struktur kalimat jika diperlukan.

Karena ini bahasan yang sensitif, dosen kami berkali-kali menekankan kepada kami bahwa ini adalah pelajaran sejarah, bukan agama. Kemudian, sampailah kepada pertanyan yang sensitif,

Continue reading

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

facebook.com_2014-06-23_14-49-36

Beberapa hari yang lalu, teman saya ada yang update status seperti ini, “Katanya ada salah satu ayat yang mengatakan nikmat manalagi yang kamu dustakan.” matae aa! tugas gak jelas durung mari-mari, apa ini yang disebut kenikmatan, ndas e a.”

Entah saya mau bilang seperti apa. Jujur, saya agak kaget dia melecehkan ayat AL-qur’an seperti itu. ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ adalah Q.S. Ar-rahman ayat 13 yang diulang berkali-kali.

Saya tau, mungkin dia cuma bergurau atau bercanda atau apalah, tetapi tidak seharusnya dia berpikir dan menulis hal seperti itu di status facebook. Padahal dia sendiri juga orang islam. Kamu muslim, tetapi kenapa kamu menghina agamamu sendiri. Kalau kamu muslim, menghina Al-Qur’an, kamu juga nggak mau tunduk kepada perintah Allah atau menuruti kata-kata di dalam Al-Quran, la terus kamu mau nurut siapa?

Padahal, kalau mau kita pikir lebih lanjut, dia bisa kuliah itu juga termasuk nikmat. Masih banyak teman-teman yang ingin kuliah tapi tidak bisa karena terhalang biaya. Atau bahkan banyak yang nyambi sambil kerja, cari duit mati-matian biar bisa tetep kuliah. Kita, aku, kamu, dia, kita tinggal kuliah aja, biaya udah di kasih beasiswa oleh orang tua masih aja ngeluh. Kenapa kamu nggak berhenti aja kuliah, langsung kerja, ngga bakal bingung mikirin tugas kan? simple. Tugas kuliah itu sebenarnya untuk kita juga. Mikir. Buat apa kita kuliah. Kalau kuliah pasti dapat tugas. Ngga mau tugas, berhenti aja.

Gemes aku sama dia. Bisa-bisanya dia mikir kayak gitu. Continue reading