Manusia dan Sifat Lupa

Dulu waktu aku masih kuliah di Brawijaya, aku dan adik-adikku selalu berangkat pagi-pagi diantar bapak. Adik-adikku sekolah di Brawijaya Smart School yang tetanggaan dengan kampusku. Sengaja dibuat begitu memang. Kata bapak agar kalau antar-jemput biar sekalian.

Biasanya kami berangkat pukul 6 kurang 10 atau 15. Lebih dari itu, daerah Soekarno-Hatta sudah pasti macet dan adik-adikku pasti akan mengomel karena takut kena poin tatib (tata tertib). Biasanya bapak cenderung santai-santai saja, karena kata bapak, beliau hanya bertugas mengantar. Mau cepat atau lambat, itu tergantung mereka apakah bisa bangun lebih pagi dan mandi cepat. Sedangkan sebenarnya biasanya bapak yang mandinya lama. Kalau sudah begitu adikku yang perempuan mengomel-ngomel, “Duh suwe iki, lama ini.” Continue reading