Second year! (and how I study in Monash)

Halo! Di sini sudah pukul 11 malam, tapi aku memutuskan untuk ngeblog dulu, karena besok aku bisa bangun agak siangan. Bukan karena apa, tapi di Melbourne subuhnya memang baru pukul 6 pagi dan matahari terbit pukul 7.30. Sedangkan maghrib pukul 17.20-an. Di sini memang sedang musim dingin. Jadi, kalau kamu puasa sekarang, itu cuman kurang dari 12 jam. Enak, kan?

Besok hari pertama kuliah di tahun keduaku dimulai. Ini klise, tapi aku ingin berkata, setahun kayak cepet ya. Kemarin rasanya baru saja orientasi (dan berjanji akan posting banyak hal tentang kuliah di sini tapi kurang tercapai), tetapi sekarang sudah tahun kedua. Semester ini aku ambil mata kuliah Second Language Acquisition dan World Englishes.

Aku pengen cerita sekaligus menjabarkan bagaimana persiapanku menghadapi minggu pertama, belajarnya seperti apa, dan bagaimana sistem pendidikan atau akses di Monash University. Gara-garanya, kemarin banyak teman yang bilang instagram story-ku isinya jalan-jalan mulu. Padahal, bukan berarti aku ngga belajar gaes, tapi masa iya aku upload tiap kali aku lagi belajar, kan ngga enak. Tapi ternyata upload stories jalan-jalan juga salah ya, haha! Oke, akan aku kurangi upload stories ya gaes.


Continue reading

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Continue reading

First Ramadan in Australia and a Story Behind My Blog

Hi Y’all!

This week is pretty hectic. I have three essays more to go due on 25 May, 4 June, and 8 June. Also, this is Ramadan month which I actually have some to do list as well such as read Quran one day one juz. I also genuinely want to write to you all of my very first experience fasting in Australia, but I merely have time about it.

Anyway, before I ‘talk’ about my fasting experience, I would like to talk about this blog. So, I actually have two blogs, this one and the other one that I deactivated. I set it as a private mode so no one can’t see it but me because I write some personal stories there. I don’t want to see it again, and I don’t want people to reread it, because what’s done is done. However, somehow, a few weeks ago I feel like my posts on my other blog is precious and it is what’s a waste if just dump it like that. So, I export it to this blog, and tadaaaa there are more than 400 posts from 2013 on this blog. But, now, I realise, why I do I even did it. Thank God that  WordPress has an excellent system, and I can move those post into draft posts easily.

The reason I made a new blog, Not Average Girl, because I want this blog is much more professional and less private stuff of my daily life. Ideally, I want to run two blogs, this one is to share my scholarship and school stuff, while the other is where I can tell you my personal stories, my romance stories, in a frank way, and just be me. Meanwhile, I just can’t run two blogs. It is exhausted, and I don’t have much time. So, I exported all of my posts here without thinking about the consequences, and have moved it again into drafts post. I’m so-so-so silly.

I love writing on the blog, even telling my personal stories. Yet, recently, I feel like, people are judging me based on what I write here. I don’t know whether this is just my anxiety or what, but I have changed my mind, and I don’t want to write too personal stories. I used to write everything on my blog, and it is so much fun! And a lot of people leave comments on my blog, share their experience or leave a suggestion. I also used to write about my romance life. When I re-read it again, I feel like, “Omg, it is such a drama”, “Omg, why do I even like this bloke”, and whatsoever. And I still do remember about a guy who liked me, but he also liked another girl in the same time. It’s so funny. Now he is so chill to me, I don’t even know whether he remembers what he did in the past. He was like, “Hi Gadis, can you write some wishes to me on a piece of paper and capture it when you hang out somewhere in Australia”. I’ll be like, dude. Okay, I’ll leave it here.

Alrighty then, so here we go, my first Ramadan in Australia.

Continue reading

Budaya Titip Absen

Beberapa hal yang ‘menakjubkan’ di kelas terjadi belakangan ini. Aku pikir, ini menarik untuk aku tulis. Bahkan kadang kalau aku absen menulis, aku merasa terlalu banyak hal di pikiranku, and I just want to let it all out.

 

Perkara Daftar Hadir

Kalau di kampus aku dulu, daftar hadir selalu berformat resmi. Selalu tercetak, ada kop universitas, mahasiswa kadang-kadang harus tanda tangan atau hanya perlu dicentang oleh dosen, dan selalu ada tanda tangan dosen di setiap minggu. Dosen juga harus mengisi jurnal kegiatan yang juga harus tertandatangi. Sementara itu, di sini, sejauh ini dari 4 mata kuliah dan 2 tutorial yang sudah aku jalani, tidak pernah ada daftar hadir resmi yang tercetak. Tetap ada daftar hadir, tetapi hanya berupa selembar kertas yang harus kami tulis sendiri nama kami, nomor mahasiswa, dan tanpa tanda tangan. Bahkan ada satu kelas, pada semester ini, yang tidak perlu mengisi daftar hadir. Jadi, kalau tidak hadir pada seminar tersebut sah-sah saja karena tidak akan mengurangi presentasi nilai.

Lalu, perkara titip absen (TA), kalian yang sudah pernah dan sedang menjadi mahasiswa tentu sangat-amat paham dengan sistem ini. Di kampusku saja, yang sistem daftar hadirnya seperti itu, TA kerap kali terjadi dan sering tidak ketahuan. Apalagi satu kelas ada sekitar 35 mahasiswa, dosen jarang mengecek satu per satu. Kalau di sini, dosen juga tidak pernah cek mahasiswa satu per satu. Aku pun yakin dosen tidak hafal semua nama mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa internasional yang namanya sulit dihafal dan diucapkan. Walaupun begitu, jumlah mahasiswa dalam satu kelas tidak pernah mencapai 25. Tapi tetap saja, bisa saja TA dengan mudah karena hanya harus menulis nama dan nomor mahasiswa tanpa tanda tangan.

Dan, itu terjadiContinue reading

Going to Wilsons Promontory National Park

Aku belum pernah mendaki di Indonesia, dan aku ingin sekali mendaki karena banyak yang bilang bahwa pendakian itu sangat menyenangkan. Lalu, siapa sangka bahwa pengalaman pendakianku pertama berlangsung di negeri rantau, Australia.

Aku dan grup arisan -iya aku punya kelompok arisan di sini- memutuskan untuk mengadakan arisan bulan Februari di Wilsons Promontory National Park karena mumpung masih liburan. Kalau sudah waktunya kuliah tentu kami pasti akan fokus mengerjakan esai, sehingga akan sulit untuk sekedar berkumpul bersama-sama. Lalu, di sana ada banyak pantai yang bisa dinikmati dan gunung yang didaki. Kami memutuskan untuk membuat tenda di sana dan mendaki pagi-pagi.

Pada hari pertama, 3 Februari kemarin, kami singgah ke Norman lookout dan Pantai Squeaky.

Squeaky artinya mencicit. Pasir pantai di sana memang kalau diinjak ada suara mencicit.

Continue reading

Australian Day, or Invansion day?

Kalau Indonesia punya Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, maka Australia punya yang bernama Australia Day setiap tanggal 26 Januari. Namun, Australia Day ini sebenarnya masih berkonflik hingga sekarang, kawan.

26 Januari 1788 adalah hari di mana kapal Inggris mendarat di Australia untuk pertama kalinya. Bagi orang Aborigin, itu adalah hari di mana tanah mereka mulai diinvasi. If you do not know about that, it is time to do your research.

Hari ini aku datang ke Melbourne CBD untuk lihat parade dan berharap dapat kesempatan untuk melihat Invansion Day rally juga yang kabarnya juga akan diadakan di CBD. Well, parade-nya menurutku seperti di Indonesia, tetapi menurutku di Indonesia lebih bervariasi karena Indonesia punya banyak budaya.

(FILEminimizer) IMG_5928

Solomon Island Victoria Association

Continue reading

Daftar Beasiswa LPDP

Hi! Post ini aku buat karena banyak teman-teman yang bertanya apa langkah-langkah mendaftar beasiswa setelah lulus S1. Karena banyak yang bertanya, jadi aku fikir lebih mudah untuk membuat sebuah post lalu aku tinggal memberikan tautan ke blog ini. 😌 (Dan membuat liburanku lebih berfaedah dan produktif, haha.) 😝

Postingan kali ini aku akan fokus pada tahap-tahap mendaftar beasiswa LPDP, karena aku tahunya beasiswa ini. Aku pernah mencoba beasiswa lain, Australia Award dan Chevening, tetapi membaca persyaratannya saja aku sudah tidak eligible karena beasiswa tersebut mensyaratkan pengalaman kerja beberapa tahun. Padahal aku masih freshgraduate dan pengalaman kerjaku masih beberapa bulan. Continue reading