​Does Your Extrovert/Introvert Personality Affect your L2 Learning?

I really love this week reading material!

We discuss about affective and personality differences whether it will affect second language (L2 learning). I’m always interested in psychology, so when the topic is about character, I couldn’t be more excited!

In this post, the topic that I discuss is from classroom discussion and from Ortega’s book: Understanding Second Language Acquisition (chapter 9), which actually you could download for free at b-ok.xyz. But I would not discuss everything, I will only focus on the extrovert and introvert personality. *I adore that website, anyway, since they always provide a range of materials that I could download for my assignments.

Continue reading

I Got a Racist Email (2)

Karena email yang dia tulis tersebut, yang menyatakan bahwa kebanyakan orang Australia terganggu dengan keberadaan wanita muslim yang memakai hijab, tertutama burqa, membuatku berfikir bahwa apakah kebanyakan orang-orang Australia seperti itu. Walau aku juga yakin, yang dia nyatakan itu adalah sebuah hiperbola. Toh, dia juga tidak menyatakan data autentik yang mendukung argumennya itu. Tetapi, ada beberapa orang yang bilang beberapa orang Australia memang rasism, terutama di negara bagian Queensland. Namun, seberapa banyak? Aku pikir, ada baiknya bertanya kepada orang lokal.

Sabtu lalu, aku bertemu dengan temanku di tempat aku mengajar, yang merupakan orang lokal. Dia juga mahasiswa di Monash University, jurusan International Development. Aku cukup akrab dengan dia, dan kami sering bercerita banyak hal. Jadi, aku ceritakan ke dia tentang pengalamanku pahitku itu. (Well, ga pahit-pahit banget sih. B aja).

Continue reading

I Got A Racist Email​

Hi guys!

Apparently, I have just received an ‘interesting’ email. I actually received it a few days ago, but since I blocked the email address of this person,  the messaged did not appear on my inbox. I checked my spam folder this evening, and I found out he already sent me two emails. The first one, which I posted in my Instagram story, was this:

Screenshot 2018-08-31 21.08.54

I know, it is ‘mind-blowing’. Take a deep breath, peeps. And the second one is this:

Screenshot 2018-08-31 21.09.28

I do not think he is truly sincere though, and he is already offended me in the first place, so I have a zero respect for him. Well, before I tell you my response and my opinion regarding this email, I bet you wonder how I know or met this person, and whether he is my friend.


Continue reading

Second year! (and how I study in Monash)

Halo! Di sini sudah pukul 11 malam, tapi aku memutuskan untuk ngeblog dulu, karena besok aku bisa bangun agak siangan. Bukan karena apa, tapi di Melbourne subuhnya memang baru pukul 6 pagi dan matahari terbit pukul 7.30. Sedangkan maghrib pukul 17.20-an. Di sini memang sedang musim dingin. Jadi, kalau kamu puasa sekarang, itu cuman kurang dari 12 jam. Enak, kan?

Besok hari pertama kuliah di tahun keduaku dimulai. Ini klise, tapi aku ingin berkata, setahun kayak cepet ya. Kemarin rasanya baru saja orientasi (dan berjanji akan posting banyak hal tentang kuliah di sini tapi kurang tercapai), tetapi sekarang sudah tahun kedua. Semester ini aku ambil mata kuliah Second Language Acquisition dan World Englishes.

Aku pengen cerita sekaligus menjabarkan bagaimana persiapanku menghadapi minggu pertama, belajarnya seperti apa, dan bagaimana sistem pendidikan atau akses di Monash University. Gara-garanya, kemarin banyak teman yang bilang instagram story-ku isinya jalan-jalan mulu. Padahal, bukan berarti aku ngga belajar gaes, tapi masa iya aku upload tiap kali aku lagi belajar, kan ngga enak. Tapi ternyata upload stories jalan-jalan juga salah ya, haha! Oke, akan aku kurangi upload stories ya gaes.


Continue reading

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Continue reading

First Ramadan in Australia and a Story Behind My Blog

Hi Y’all!

This week is pretty hectic. I have three essays more to go due on 25 May, 4 June, and 8 June. Also, this is Ramadan month which I actually have some to do list as well such as read Quran one day one juz. I also genuinely want to write to you all of my very first experience fasting in Australia, but I merely have time about it.

Anyway, before I ‘talk’ about my fasting experience, I would like to talk about this blog. So, I actually have two blogs, this one and the other one that I deactivated. I set it as a private mode so no one can’t see it but me because I write some personal stories there. I don’t want to see it again, and I don’t want people to reread it, because what’s done is done. However, somehow, a few weeks ago I feel like my posts on my other blog is precious and it is what’s a waste if just dump it like that. So, I export it to this blog, and tadaaaa there are more than 400 posts from 2013 on this blog. But, now, I realise, why I do I even did it. Thank God that  WordPress has an excellent system, and I can move those post into draft posts easily.

The reason I made a new blog, Not Average Girl, because I want this blog is much more professional and less private stuff of my daily life. Ideally, I want to run two blogs, this one is to share my scholarship and school stuff, while the other is where I can tell you my personal stories, my romance stories, in a frank way, and just be me. Meanwhile, I just can’t run two blogs. It is exhausted, and I don’t have much time. So, I exported all of my posts here without thinking about the consequences, and have moved it again into drafts post. I’m so-so-so silly.

I love writing on the blog, even telling my personal stories. Yet, recently, I feel like, people are judging me based on what I write here. I don’t know whether this is just my anxiety or what, but I have changed my mind, and I don’t want to write too personal stories. I used to write everything on my blog, and it is so much fun! And a lot of people leave comments on my blog, share their experience or leave a suggestion. I also used to write about my romance life. When I re-read it again, I feel like, “Omg, it is such a drama”, “Omg, why do I even like this bloke”, and whatsoever. And I still do remember about a guy who liked me, but he also liked another girl in the same time. It’s so funny. Now he is so chill to me, I don’t even know whether he remembers what he did in the past. He was like, “Hi Gadis, can you write some wishes to me on a piece of paper and capture it when you hang out somewhere in Australia”. I’ll be like, dude. Okay, I’ll leave it here.

Alrighty then, so here we go, my first Ramadan in Australia.

Continue reading

Budaya Titip Absen

Beberapa hal yang ‘menakjubkan’ di kelas terjadi belakangan ini. Aku pikir, ini menarik untuk aku tulis. Bahkan kadang kalau aku absen menulis, aku merasa terlalu banyak hal di pikiranku, and I just want to let it all out.

 

Perkara Daftar Hadir

Kalau di kampus aku dulu, daftar hadir selalu berformat resmi. Selalu tercetak, ada kop universitas, mahasiswa kadang-kadang harus tanda tangan atau hanya perlu dicentang oleh dosen, dan selalu ada tanda tangan dosen di setiap minggu. Dosen juga harus mengisi jurnal kegiatan yang juga harus tertandatangi. Sementara itu, di sini, sejauh ini dari 4 mata kuliah dan 2 tutorial yang sudah aku jalani, tidak pernah ada daftar hadir resmi yang tercetak. Tetap ada daftar hadir, tetapi hanya berupa selembar kertas yang harus kami tulis sendiri nama kami, nomor mahasiswa, dan tanpa tanda tangan. Bahkan ada satu kelas, pada semester ini, yang tidak perlu mengisi daftar hadir. Jadi, kalau tidak hadir pada seminar tersebut sah-sah saja karena tidak akan mengurangi presentasi nilai.

Lalu, perkara titip absen (TA), kalian yang sudah pernah dan sedang menjadi mahasiswa tentu sangat-amat paham dengan sistem ini. Di kampusku saja, yang sistem daftar hadirnya seperti itu, TA kerap kali terjadi dan sering tidak ketahuan. Apalagi satu kelas ada sekitar 35 mahasiswa, dosen jarang mengecek satu per satu. Kalau di sini, dosen juga tidak pernah cek mahasiswa satu per satu. Aku pun yakin dosen tidak hafal semua nama mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa internasional yang namanya sulit dihafal dan diucapkan. Walaupun begitu, jumlah mahasiswa dalam satu kelas tidak pernah mencapai 25. Tapi tetap saja, bisa saja TA dengan mudah karena hanya harus menulis nama dan nomor mahasiswa tanpa tanda tangan.

Dan, itu terjadiContinue reading