Not a Typical Day of the Not so Average Girl

(1)

Yesterday, one of my relatives married. I’m happy, and touched, yet sad and miserable for the fact that I’m freaking single. And the guy that I like probably do not realize that I like him, or he might realize about it but he do not like me back, or he actually has already his significant other, or whatsoever. I have so many probabilities in my head. So, I won’t be disappointed if things do not happen like what I want. Continue reading

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Continue reading

Culture Shock

Hari ini pas satu minggu aku berada di Malang, Indonesia. Dalam satu minggu, aku sudah makan nasi padang, bakso, nasi goreng, sate ayam, ceker, dan, soto. Makanan-makanan yang aku idam-idamkan selama ini. Masih banyak lagi makanan yang ingin aku makan sebelum kembali studi ke Australia. Dalam satu minggu, jadual bertemu teman-teman lama, silaturahmi ke saudara, dan family time juga full. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, dan aku sukanya, aku jarang buka media sosial. Walaupun agak-agak bersalah karena aku punya tanggungjawab di organisasi.

Continue reading

Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan (Versi Gadis)

Otak, perasaan, dan mood, sulit sekali kalau sudah malam untuk diajak kompromi, entah kenapa. Padahal hari ini ada tugas yang belum aku kumpulkan. Sebenarnya sudah selesai dan sekarang sedang dicek oleh teman. Jadi, aku lumayan santai dan menulis di blog adalah cara untuk menyegarkan otak sekaligus menjadi produktif. Setelah menulis di sini, aku berjanji akan memaksa diriku untuk menulis esay. 

Temanku, menulis dengan judul yang sama, ‘Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan’, di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.  Dia yang menulis duluan. Tempo hari, dia menunjukkan tulisan yang ini ketika kami sedang berdiskusi tentang sesuatu. Kami sering begini. Ketika curhat atau diskusi, daripada repot-repot menjelaskan hal yang sudah kami tulis di blog, kami akan saling berbagi tulisan masing-masing. Dan, tulisan dia yang ini membuat aku berkontemplasi selama beberapa hari terakhir.

*Yang berwarna biru, tulisan dari Darin di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.

Aku memasuki fase pertemanan orang-orang dewasa, dan jenis hubungan di atas ternyata gak selalu bisa disebut teman dalam beberapa budaya atau lingkar pertemanan.

Continue reading

Sabtu ke Gereja

Sabtu, untuk kedua kalinya, aku pergi ke gereja Trinity Uniting Church di Dandenong. Pertama kali pergi ke sana, pertama kali pula aku kehujanan dan keanginan yang segitunya di sini, karena payungku sampai terpelanting kesana kemari hingga aku memutuskan untuk rela berbasah-basah. Yang kedua, aku sangat bersyukur karena minggu ini rasanya musim gugur rasa musim panas. Cuaca dingin dengan rata-rata 20 derajat celcius.

Ngapain aku gereja, anyway?

IMG_5134

Continue reading

Budaya Titip Absen

Beberapa hal yang ‘menakjubkan’ di kelas terjadi belakangan ini. Aku pikir, ini menarik untuk aku tulis. Bahkan kadang kalau aku absen menulis, aku merasa terlalu banyak hal di pikiranku, and I just want to let it all out.

 

Perkara Daftar Hadir

Kalau di kampus aku dulu, daftar hadir selalu berformat resmi. Selalu tercetak, ada kop universitas, mahasiswa kadang-kadang harus tanda tangan atau hanya perlu dicentang oleh dosen, dan selalu ada tanda tangan dosen di setiap minggu. Dosen juga harus mengisi jurnal kegiatan yang juga harus tertandatangi. Sementara itu, di sini, sejauh ini dari 4 mata kuliah dan 2 tutorial yang sudah aku jalani, tidak pernah ada daftar hadir resmi yang tercetak. Tetap ada daftar hadir, tetapi hanya berupa selembar kertas yang harus kami tulis sendiri nama kami, nomor mahasiswa, dan tanpa tanda tangan. Bahkan ada satu kelas, pada semester ini, yang tidak perlu mengisi daftar hadir. Jadi, kalau tidak hadir pada seminar tersebut sah-sah saja karena tidak akan mengurangi presentasi nilai.

Lalu, perkara titip absen (TA), kalian yang sudah pernah dan sedang menjadi mahasiswa tentu sangat-amat paham dengan sistem ini. Di kampusku saja, yang sistem daftar hadirnya seperti itu, TA kerap kali terjadi dan sering tidak ketahuan. Apalagi satu kelas ada sekitar 35 mahasiswa, dosen jarang mengecek satu per satu. Kalau di sini, dosen juga tidak pernah cek mahasiswa satu per satu. Aku pun yakin dosen tidak hafal semua nama mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa internasional yang namanya sulit dihafal dan diucapkan. Walaupun begitu, jumlah mahasiswa dalam satu kelas tidak pernah mencapai 25. Tapi tetap saja, bisa saja TA dengan mudah karena hanya harus menulis nama dan nomor mahasiswa tanpa tanda tangan.

Dan, itu terjadiContinue reading