Bahasa Isyarat sebagai Bahasa Kedua: Kenapa Bahasa Isyarat Sulit dipelajari Bagi Orang Dengar?

Tulisan ini aku tulis sebagai refleksi atas diriku sendiri sebagai orang dengan yang mempelajari bahasa isyarat sebagai bahasa kedua. Lebih tepatnya bahasa kedua yang keempat setelah bahasa inggris. Aku bilingual Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Bahasa Inggris dulu adalah bahasa asing bagiku, tetapi seakarang sudah menjadi bahasa kedua. Lalu bahasa isyarat adalah bahasa keduaku juga, bukan bahasa asing, karena beberapa tahun lalu aku frekuensiku menggunakan bahasa isyarat lebih sering daripada  bahasa inggris. Continue reading

Pergeseran Makna Kata ‘Ihkwan’ dan ‘Akhwat’

Dalam Bahasa Indonesia, pergeseran makna ada enam jenis. PR Bahasa Indonesia dan Dosen Bahasa memaparkan dalam website-nya, yaitu generalisasi, spesifikasi, peyorasi, ameliorasi, sinestesia, dan asosiasi. Kalian bisa langsung klik link tersebut atau google sendiri di mesin pencari. Dalam artikel ini, aku lebih fokus pada spesialisasi (menyempit).

Lalu, kata-kata dalam Bahasa Arab yang aku bahas kali ini adalah ‘Ikhwan’, ‘Akhwat’, ‘Madrasah’, dan ‘Astaghfirullah’. Menurutku, kata-kata dalam Bahasa Arab ini menarik untuk dikaji, karena orang muslim di Indonesia lazim menggunakan kata-kata tersebut, tetapi dalam makna yang berbeda dari asalnya.

Pertama, tentang ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’. Berdasarkan yang aku baca di sini, kata yang pertama merupakan sebutan secara umum untuk laki-laki, sedangkan kata yang kedua untuk perempuan. Jadi, sudah jelas di sini bahwa kata ‘ikhwat’ semata-mata mengandung makna referensial panggilan untuk laki-laki dan ‘akhwat’ panggilan untuk perempuan. Komunitas islam masyarakat Indonesia, sebagian besar, juga sering menggunakan kata ini. Namun, mereka menggunakan makna referensial yang berbeda. Sadar atau tidak sadar. Aku kira-kira sih, tidak sadar.

Continue reading

Grand Concert for Disability Awareness #GCFDA

Meskipun aku tidak mau ini menjadi yang terakhir, sepertinya ini akan menjadi kepanitiaan terakhir yang aku ikuti selama aku menjadi mahasiswa S1 di Universitas Brawijaya. Kalau diingat-ingat jadi baper (terbawa perasaan). Apalagi, walau aku koordinator divisi DDM (Dekorasi Dokumentasi dan Multimedia) aku harus meninggalkan acara ketika sedang berlangsung, karena beberapa hari lalu aku sempat pendarahan dan harus banyak istirahat. Sebenarnya aku kuat, but Dad and Mom insist that I had to home earlier.

Flashback yuk! 🙂


Continue reading

Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (part II)

Pada tanggal 28-30 Agustus 2015 ada kegiatan Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) di PSLD UB. Karena aku sudah di Malang dan volunteer yang lain masih liburan, otomatis aku diminta datang ke kantor untuk bantu-bantu urus administrasi dan lain-lain.

Kami (aku dan volunteer-volunteer yang lain) diharuskan datang pukul 7.30, tetapi aku datang satu jam lebih awal karena bareng dengan adik-adik nyebelin yang udah masuk sekolah pukul 6.30. Datang di kampus aku wifi-an dulu di kafetaria. Selama tiga hari itu, aku selalu bertemu Kiky, teman seperguruan tapak suci dulu. Dia lagi push up, back up, lompat tali, begitu seterusnya. Otot-ototnya kekar banget dan aku jamin perutnya pasti six pack. Macam cowok L-men dia. Dan selama tiga hari itu, aku juga bertemu si Afif. Teman sekelasnya Ifa dkk di mata kuliah Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Dia kalau lari lucu banget. Lari sambil tangannya kayak lagi mukul-mukul manja terus rambut panjangnya berkibas kemana-mana. :3

*maafkan aku fif Continue reading

SPKPD (Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas)

Informasi pendaftaran SPKPD (Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas) UB sudah ada versi Bahasa Isyaratnya loh 😀 Buat kalian-kalian yang mau kuliah di Universitas Brawijaya atau punya kenalan penyandang disabilitas yang ingin kuliah, lihat link di bawah ini dan tonton videonya ya! 🙂

Dissability Awareness (2): Belajar Bahasa Isyarat, yuk!

Karena teman-teman banyak yang kepo dan pengen belajar bahasa isyaratnya, nih saya buatin post tentang bahasa isyarat. Sebelum kita mulai, di Indonesia ada dua macam bahasa isyarat yang digunakan, yaitu SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia), seperti yang sudah pernah saya singgung sebelumnya di post saya, tapi saya lupa yang mana, hehe. SIBI itu buatan pemerintah yang sangat bersistem, jadi setiap imbuhan, awalan, akhiran, ada isyaratnya, sedangkan BISINDO buatan teman-teman tuli sendiri yang lebih natural, namun kekurangannya mereka ‘anti’ terhadap imbuhan. Jadi, kalau di SIBI isyarat melihat – dilihat – terlihat itu berbeda, sedangkan BISINDO isyarat hanya satu saja: lihat. Continue reading