17 Western Songs Banned in West Java. Really?​

17 Western Songs Banned in West Java. Really?​

Indonesian regional broadcasting commission (IRBC) in West Java restricted 17 western songs. It is not completely banned, but it can only be played between 10pm and 3am. Songs such as ‘That’s what I like’ and ‘Versace on the floor’ by Bruno Mars and ‘Dusk till down’ by my baby Zayn were considered pornographic.

On his Instagram, Ridwan Kamil, the governor of West Java, explained that (1) internet is not IRBC’s authority, so they only authorize radio and TV station; (2) IRBC is an independent institution, it is not under the government rule; (3) IRBC is not totally banned the songs but only limit it and it based on public complaints; (4) on 2016, IRBC banned several dangdut songs too; (5) this year IRBC banned 17 western songs because it has ‘adult content’; (6) those songs can only be played between 10pm and 3am; (7) West Java government committed to strengthen character education; (8) West Java government also committed to appreciating artwork and creativity.

I read in comment section that the majority of people disagree with the regulation. They thought the rule is useless since kids and teenagers still could access the songs on internet and music player such us spotify and apple music. They also commented about films and sopa opera that airing in the TV now are uneducated, as well as some Indonesian pop songs and dangdut songs. In the point (7), it said that West Java government wants to enhance the character education, but how about the Indonesian films and songs itself?

So, does such rule really necessary?

Read more
Aku, Kamu. Kita?

Aku, Kamu. Kita?

Aku, Nata, dan Arin sedang edit buku. Buku kami terdiri dari beberapa penulis. Setiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda. Nah, tugas kami adalah menyatukan tulisan-tulisan tersebut agar roh-nya sama.

Buku tersebut dimulai pada tahun 2016/2017. Sempat berhenti. Lalu aku ingat kembali dengan buku tersebut awal tahun ini karena sesuatu. Kami benar-benar ingin buku ini terbit, karena sayang kalau tidak terbit. Cuman ada beberapa hal yang menurut kami kurang, jadi masih saja terus diedit. Sekarang, Arin yang sedang aktif berproses mengedit buku tersebut. Aku dan Nata masih stuck.

Suatu ketika, Arin bertanya, “Eh, ini satu paragraf ada yang pake ‘saya’ terus pake ‘aku’ juga?”

“Pakai kata ‘aku’ aja. Aku ngerasa lebih deket dengan penulis ketika dia bilang aku”.

“Ada teori psikologinya ga sih itu? Or just you. Soalnya temenku juga gitu”.

Read more
Teori Sosialisasi Bahasa Kedua

Teori Sosialisasi Bahasa Kedua

SLA (Second Language Acquisition) adalah mata kuliah yang paling aku suka yang aku harap bisa ambil di awal-awal semester. Alasannya karena ketika mempelajari teori-teori tentang SLA, sebagai pembelajar Bahasa, hampir semua teori yang aku pelajari bisa aku refleksikan dalam kehidupanku sehari-hari. Namun sayangnya karena mata kuliah ini adalah mata kuliah inti, atau core istilahnya, kami harus mengambil beberapa mata kuliah dulu sebelum mengambil mata kuliah ini. Padahal jika aku mempelajari semua hal tentang SLA pada tahun pertama aku kuliah di Australia, aku yakin hal tersebut akan membantu aku untuk belajar dan memahami Bahasa Inggris di Australia secara cepat.

Salah satu teori yang aku bahas kali ini adalah second language socialisation atau sosialisasi bahasa kedua. Teori ini aku pelajari di minggu ke-10, dan yang aku bahas kali ini cuman secuil dari materi minggu ke-10. Kenapa cuman bahas ini? Biar fokus bahasannya. Selain itu semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin sekarang sedang di luar negeri dan berproses mempelajari Bahasa kedua. Dan bisa juga sebagai awareness untuk teman yang di dalam negeri yang sedang belajar Bahasa Inggris, bahwa jika kita mempelajari Bahasa, tidak cukup jika kita hanya mempelajari bahasanya seperti kosakata atau grammar, tanpa budaya. Bahasa dan budaya itu intertwined.

Kalau kata Duff (2007) dalam bukunya Ortega (2009) berjudul “Understanding Language Acquisition” studi tentang sosialisasi bahasa kedua merekonseptualisasikan bahwa lingkungan social kita tidak hanya membantu proses belajar Bahasa tetapi juga membantu outcome-nya. Jadi, ketika kita bisa merekonseptualisasi Bahasa yang kita pelajari dengan lingkungan sekitar, pemahaman kita tentang Bahasa sudah sampai ke meta-cognition level.

Read more
Makna Referensial: (Unicorn yang onlen-onlen itu?)

Makna Referensial: (Unicorn yang onlen-onlen itu?)

Beberapa hari lalu, aku lihat soal-soal Bahasa Indonesia USBN adikku yang kelas 12. Adikku memang Bahasa Indonesia-nya jago. Nilai Bahasa Indonesianya bagus, dan, in fact, terbagus dari nilai-nilai yang lain. Ada satu soal yang menurutku menarik, tentang kata yang mengandung makna referensial.

Aku de javu, karena aku seperti pernah mempelajarinya. Setelah adikku menjelaskan, oh ternyata aku pernah baca itu di buku semantik, dan istilah Bahasa Inggris-nya reference. Aku baru tahu kalau di Bahasa Indonesia-kan jadi referensial.

Read more
Indonesia Gawat Toleransi?

Indonesia Gawat Toleransi?

Jiu Jiu, nama Restauran Jepang tersebut. Tahun 2018, restauran tersebut adalah satu-satunya Restauran Jepang yang menyediakan Ramen dan Udon di suburbtempat kami tinggal. Letaknya pun di pojokan dan restaurannya tidak mewah-mewah amat. Kalau di Indonesia, modelnya seperti warung pinggir jalan. Tapi bersih, rapi, dan restaurannya ke-Jepang-Jepangan banget karena banyak tulisan hiragana-katakan beserta hiasan-hiasan Jepang.

Aku dan teman-teman saat itu sedang craving for ramen, sehingga kami memutuskan makan di tempat tersebut. Tidak ada tulisan halal di restaurannya, tapi biasanya ada banyak pilihan ramen dari chicken ramen sampai vegetarian ramen. Porkatau daging babi di ramen cuman sebagai hiasan atau toppingbiasanya.Kuah ramen pun biasanya bisa milih miso atau chicken atau apalah. Jadi, insyaallah aman.

Read more
Curhat Thesis (2): Transkrip Data

Curhat Thesis (2): Transkrip Data

Sebelumnya, aku ingin berterimakasih kepada teman-teman yang sudah membaca dan menulis komentar di postingan aku berjudul curhat thesis. Apa yang kalian lakukan berarti banyak buat aku, karena aku kadang bingung harus bercerita kepada siapa. Kadang tidak semua orang mengerti dan memahami apa yang sedang aku kerjakan. Jadi, aku berfikir, lebih baik aku tuliskan saja di blog. Bisa jadi tulisan tentang proses menulis thesis ini bermanfaat bagi kalian yang sedang menulis skripsi dan thesis, bahwa, kalian tidak sendirian! Wahai pejuang skripsi, thesis, dan disertasi, be strong!

Ohya tulisan ini, aku sengaja tidak terlalu serius. Tulisan ini lebih seperti tentang berbagi pengalaman, suka duka yang aku kerjakan, dan mungkin aku juga akan berbagi tips. Bagi teman-teman yang sedang membaca dan ingin memberi kritik dan saran, apalagi menyemangati, boleh banget! (haha).

Selain itu perjuangan thesis-ku masih panjang, jadi aku jamin akan ada seri curhatan thesis yang banyak sekali. Dan hari ini aku ingin bercerita tentang sulitnya membagi waktu, bagaimana mengatasi diri sendiri agar tidak panik, dan transkrip data wawancara.

Read more
Curhat Thesis

Curhat Thesis

Kalau zaman skripsian dulu, ada namanya panduan skripsi. Didalamnya sudah lengkap dari susunan skripsi sampai cara mereferensi. Jadi, sebenarnya ya tinggal dibaca.

Kalau sekarang, mana ada panduan thesis. Sebenarnya kalau susunan thesis kami sudah pernah diajari pada matakuliah Research Method, yang aku sudah ambil pada semester dua malah. Cara referensi juga sudah terlatih dari semester satu, karena pasti sama aja dan itu-itu aja. Panduannya bisa klik di sini kalau mau baca.

Penampakan kampus tercinta
Read more