Top 5 Podcasts to Listen to (Gadis Version)

Top 5 Podcasts to Listen to (Gadis Version)

Do you like to listen to podcasts? Me too!

I love to listen to podcasts because I love listening to people. Well, I’m an auditory person :). I listen to it while I’m studying or writing something or mostly while I’m running. Sometimes I prefer listening to podcasts instead of music while running because I tend to get bored with my own running playlist. I most likely memorize all of the songs in my playlist. Meanwhile, if I listen to a new episode of a podcast, I never expect what I’m about to hear. Selain itu, menyiapkan running playlist takes time, apalagi kalau tidak mau bosan harus rajin-rajib update playlist. Sementara itu, kalau podcast tinggal download aja podcast mana yang mau didengarkan ketika lari.

Kalau misalnya mau lari lama, ga bakal terasa. Kalau kamu mau lari selama 30 menit, tinggal cari aja podcast yang durasinya 30 menit. Kalau mau jogging satu jam, tinggal download podcast yang durasinya satu jam. Jika dibandingkan dengan mendengarkan lagu, aku cepat bosen karena misalnya ya, kalau lari satu lapangan biasanya aku bakal habis 1 lagu, sekitar 3-4 menit. Kalau podcast, seperti yang aku bilang tadi, aku gatau mereka bakal bilang apa. Jadi ada faktor ‘surprise’.

So, here are my favorite podcasts ever that I think you should listen to it too:

Read more
Toxic Relationship

Toxic Relationship

I did not know that my relationship was a toxic relationship until I read The Subtle Art of not Giving a Fuck by Mark Manson. It was failed relationships, though, now I’m glad it was failed; because it was unpleasant – if I may say.

PS: I dare writing about this on my blog because I am 100% completely, quite sure, that my exes are not giving a fuck about this or about me writing about our past relationship. Plus, we are not following each other on social media. Even if they read this, I do not mention their name and the failed relationships were not absolutely their sole fault. Part of them was my fault too.

Read more
Peredaran Daging Babi Akan Mengganggu Keimanan (?)

Peredaran Daging Babi Akan Mengganggu Keimanan (?)

Beberapa hari lalu aku baca di story teman, kalau ternyata ada sebuah restauran yang ternyata jualannya ada daging babinya. Aku heran karena di Indonesia sering seperti itu. Misal, judulnya Bakso Ayam/Sapi, eh ternyata daging tikus/babi/anjing/siput yang dipakai.

Waktu aku di Melbourne, aku pernah ke Jyu-Jyu di Clayton karena aku pengen makan ramen. Aku bilang, “Can I have Karaage Ramen, please?”. Karaage itu dimana-mana ayam, jadi aku pikir tidak apa-apa. Lalu, masnya yang jualan bilang, “Oh, it has pork in it. We use pork broth”. Oh ada babinya, ini kami kaldunya pakai kaldu babi semua.

Jyu-Jyu
Read more
Tentang Bolos Kuliah

Tentang Bolos Kuliah

Sebagai dosen newbie, aku sering sedih sama mahasiswaku. Pasalnya, beberapa dari mereka sering minta libur. It’s okay, I get it. Aku juga pernah kuliah kok, dan kuliah emang capek dan kadang bosen. Selain itu, mata kuliah yang aku ajarkan memang mata kuliah wajib, tapi bukan mata kuliah yang jurusan kalian banget. You know what I mean. Jadi, aku ngajar English for Spesific Purpose (ESP). Semua mahasiswa di setiap jurusan pasti dapat ESP yang dibagi menjadi beberapa skill: listening, speaking, reading, dan semester depan akan ada writing.

Kalau capek, ya kuliah memang capek dan itu sudah menjadi resiko dari pilihan hidup kalian. Sepupuku pernah ngeluh ke nenek kalau kuliah capek, terus nenek langsung bilang, “Kesel gausah kuliah. Leren ae, turu ndek omah“. Kalau capek tidak usah kuliah, berhenti aja, tidur di rumah. Nenek gayanya memang savage gitu, tapi beliau ndak pernah savage ke aku. Soalnya aku udah lulus S2, hehehe. Savage-nya nenek itu tiap kali aku telfon atau berkunjung ke rumah beliau, beliau selalu mendoakan aku biar segera bertemu jodoh. Lalu kata ‘jodoh’ diucapkan berkali-kali dengan intonasi dan penekanan kata yang maksimal. Ya Allah, iya Nek, iya. Eh, tapi ini beda cerita —

Read more
2019: Birthday Note

2019: Birthday Note

First of all, I thank all of you for the birthday wishes. I feel loved and grateful. After all this year, you guys still remember me, and still being my friend no matter how weird and cranky I am sometimes (or maybe often, or always, I don’t know — you decide :D). I feel loved because even though I don’t care about my birthday thingy, yet you guys still care about it. So, I am sending this virtual hug to all of of my friends, and all of you who spend your time by reading this: I love you too guys!

Read more
Body Shaming

Body Shaming

Sudah tahu body shaming kan? Sepertinya tidak ada istilah khusus untuk collocation ini dalam Bahasa Indonesia. Body shaming adalah ketika kamu mengomentasi fisik seseorang, dan mengarah ke konotasi negatif. Sebenarnya ketika kamu mengomentari tubuh seseorang, itu sudah negatif sih, contohnya: “Kamu gendutan ya?”, “Jerawatmu kok banyak?”. Ya, tujuan kamu kasih komentar tentang fisik seseorang apasih?

Read more

Equality of Opportunity

Equality of Opportunity

Postingan ini aku tulis karena ada beberapa hal yang terpikir beberapa saat lalu. Postingan ini juga bukan postingan ilmiah walaupun judul yang tulis memakai istilah yang sangat spesifik. Hanya saja, cerita hari ini mengingatkanku pada beberapa hal yang aku tulis di thesis-ku; yang aku ga bakalan pernah tahu bahwa “Equality of Opportunity” itu ada; kalau aku tidak menulis thesis. #thankstomysupervisor

Ada sepupu yang datang berkunjung dari Tumpang. Seharusnya aku yang berkunjung besok; sekalian silaturahmi karena sudah lama aku tidak bertamu ke saudara-saudaraku di Tumpang, termasuk si sepupuku ini. Namun, karena beliau besok ada keperluan, beliau yang datang jauh-jauh ke rumahku hari ini.

Sepupuku sudah mempunyai 3 anak. Anaknya yang pertama sudah sebesar adik laki-lakiku yang kelas 3 SMA. Jadi, pembicaraan kami tadi seputar melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Kata sepupuku, aku pasti enak karena sudah lulus S2 dan sudah akan bekerja. Alhamdulillah. Aku hanya tersenyum. I don’t know how to explain. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena sudah lulus kuliah di luar negeri, tapi aku masih merasa belum apa-apa. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan aku juga masih harus banyak belajar.

Pokoknya aku mau kuliah, aku gak gelem kerja koyok sampean. Lanjut cerita sepupuku. Dia bilang anaknya yang sulung pokoknya ingin lanjut kuliah karena tidak ingin bekerja seperti bapaknya. Sepupuku dan suaminya adalah wiraswasta. Mereka memang dari keluarga yang selalu struggle di masalah finansial dari dulu. Jadi ketika mereka bertanya kepada ibuku berapa biaya kuliah, dan ibuku menjawab berdasarkan biaya adikku yang mahasiswa baru sekarang, ekspresi wajah mereka berubah. Dan aku paham. Tidak semua orang bisa mengakses bangku pendidikan karena biaya perkuliahan yang tinggi.

Read more