What Can We Learn from Netflix’s Money Heist

What Can We Learn from Netflix’s Money Heist

Di postingan sebelumnya aku pernah nulis What can we learn from Netflix’s Sex Education, hal-hal apa saja yang bisa kita pelajari dari serial Netflix Sex Education. Kali ini aku pengen nulis, apa yang bisa kita pelajari dari serial yang lagi hits: Money Heist/ La Casa De Papel. Di postingan sebelumnya aku nulis pakai Bahasa Inggris, sekarang aku lagi pengen nulis pakai Bahasa Indonesia 🙂 Aku pengen sih buat versi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, tapi capek mikirnya, wk.

Buat kalian yang belum nonton, menurutku kalian harus nonton ini. Genre-nya crime, drama, action, dan thriller. Aku suka banget serial ini karena sutradara, penulis naskah, dan siapapun yang buat serial ini bisa ngebuat kita simpati dengan orang-orang yang melakukan tindakan kriminal. Para kriminal ini punya prinsip anti kapitalisme. Jadi, bisa jadi serial ini cocok buat kamu yang ‘kekiri-kirian’ hahaha. If you know what I mean.

Jadi, apasih yang aku pelajari dari serial ini?

  1. Bahasa Latin

Jelas! Sebenarnya sebelum nonton Money Heist, aku udah nonton 3% dan Elite. Serial-serial tersebut juga berbahasa latin. Aku nonton serial ini di Netflix pakai subtitle Bahasa Inggris, karena aku juga pengen tetep mem-exposure diriku dengan Bahasa Inggris biar fluency-ku tidak hilang. Di saat yang bersamaan aku bisa tangkap beberapa kosa kata dalam film ini karena diulang-ulang, misalnya:

Apa? Qué? Qué pasa?

Apa kabar? cómo estás?

Baik. Bien.

Kenapa? Por qué?

My love. Mi amor. I love you. Te quiero.

Fuck! Puta! (karena mereka sering ngomong kata ini sih wkwk)

Nonton serial-serial selain Bahasa Inggris selalu menyengkan buat aku karena aku suka banget belajar bahasa.

2. Trust

Serial ini mengajarkan kita saling percaya itu penting. Ada kata ‘saling’-nya berarti dua belah pihak harus sama-sama saling percaya. Dalam serial Money Heist, ada beberapa karakter yang tidak sabar dan tidak percaya dengan rencana Professor, dan akhirnya balik jadi boomerang ke mereka sendiri.

Dalam kehidupan, aku juga setuju saling percaya itu penting, misal antar teman. Ada teman yang merasa, aku tidak percaya dengan dia gara-gara aku tidak cerita masalahku ke dia. Padahal waktu itu, ceritanya aku sedang tidak cerita karena aku butuh waktu untuk mencerna masalahku. Dia marah, dan aku tidak paham karena aku merasa, ya itu hak-ku untuk cerita atau tidak karena itu ceritaku. Kemudian, ternyata itu kejadian di aku juga.

Aku punya teman yang aku bakal cerita apa saja ke dia, tapi ternyata ketika dia ada sesuatu, dia tidak cerita ke aku. Namun, dia cerita ke temannya yang lain. Dia juga tidak memberikan alasan yang jelas ke aku kenapa dia tidak cerita. Di sini, aku mulai merasa aku percaya dia, tapi dia tidak percaya aku. Rasanya sakit guys wk. Aku paham itu ceritanya dia, tapi aku juga merasa tidak dipercaya.

Jadi, itulah, saling percaya itu penting.

3. Friendship

Aku suka banget pertemanan mereka. Mereka bukan tipe teman yang cuman haha hihi udah. Pertemanan mereka di saat senang, susah, dan bisa banget diajak buat deep talk. Bayangin, mereka bikin heist yang kedua cuman gara-gara mau menyelamatkan temen mereka. Oke ini spoiler dikit. Bahkan si professor bersedia jadi penyumbang sperma buat Nairobi atas nama pertemanan.

Di kehidupan aku, yang aku anggap bener-bener teman itu adalah mereka yang bisa aku ajak deep talk, dan mereka bisa bersimpati balik; karena ga ke semua orang aku bener-bener bisa kasih tahu kalau aku kenapa-kenapa. Dan ini kayaknya ga cuman aku deh, aku pikir semua orang punya banyak sisi. Kita bisa pura-pura kuat, tapi cuman ke teman kita bisa jadi versi kita yang sejujur-jujurnya.

4. Loyal

Loyal itu artinya setia. Di serial ini, kita dikenalkan sama Arturo yang ga setia banget sama pasangannya. Di seaosn 4 dia semakin parah sih.

Jadi gini, kita emang gabisa milih kita suka sama siapa. Tiba-tiba aja kita suka sama seseorang padahal bisa aja si dia bukan tipe kita. Ya ngga sih? Aku sih gitu. Namun, kita bisa milih aksi kita gimana. Misal di kasusnya Arturo, oke dia udah beristri. Namun, sebenarnya dia bisa memilih tetap loyal atau selingkuh. Kadang kita tetep harus pakai logika dalam perihal cinta-cintaan ges :)) Apalagi kalau sudah menikah, karena itu komitmen banget.

5. To love, you need courage.

Ini yang bilang Nairobi di season ke-4. To love, you need courage, artinya, untuk mencintai kamu butuh keberanian. Ada banyak interpretasi untuk mengartikan ini secara harfiah.

Aku ingat banget kutipan di film The Perks of Being A Wallflower’, yaitu “We love someone we think we deserve“. Kita cinta seseorang yang kita pikir kita layak dapatkan. Pernah ga sih kamu mikir kayak gitu? Ga mungkin deh si A suka sama aku soalnya aku mah remahan rengginang. Ga mungkin deh aku sama si B, mana mungkin si B mau sama aku. Ah si C terlalu baik buat aku, aku ga pantes — Itulah makanya to love, you need courage.

Kamu butuh keberanian buat mengakui kamu suka sama seseorang. Kamu butuh keberanian buat menyatakan kalau kamu suka sama seseorang. Ga ada salahnya suka sama siapa aja, yang salah ketika kamu maksain perasaan orang lain ke kamu padahal dia ga suka. Yang salah ketika kamu udah tahu dia ga suka kamu, tapi kamu ngga move on. Nanti jadinya kayak Palermo :))

Aku gamau kayak Palermo :((

6. Money is not everything

Setelah heist yang pertama, mereka semua auto OKB (orang kaya baru), misalnya Rio dan Tokyo. Tapi ternyata bergelimang kekayaan tidak menjamin mereka bahagia, terutama Tokyo. She wants something more.

Menurutku, ini juga harfiahnya manusia. Ketika kita sudah mencapai sesuatu, kita selalu menginginkan hal-hal yang lain. Aku juga kayak gitu, dan ini wajar karena hidup terus berputar dan kita tidak stuck di tempat. Hal yang aku pelajari adalah, nikmati proses.

7. Apapun tindakan kita, selalu ada konsekensinya.

Aku lupa siapa yang bilang dan di episode atau serial mana, tapi ini bener banget. Apapun yang kita lakukan selalu ada konsekuensinya. Apapun jalan yang kita ambil selalu ada sisi positif dan negatifnya. Banyak banget sih contohnya kalau di serial Money Heist, tapi aku gabakal sebutin karena otomatis jatuhnya bakal spoiler to the max buat yang belum nonton.

Aku mau ambil contoh cerita dari kehidupanku tapi yang kepikiran cerita cinta semua, jadi gajadi ah males. wkwkwk. Memang tida niat :))

8. Orang semacam Arturito selalu ada dimana-mana

Arturo itu emang gapunya akhlak :). Tiap Arturo berulah, aku auto darah tinggi rasanya, padahal aku punya kecendurangan darah rendah. Makanya gabisa donor darah sampai sekarang karena tensiku kalau ngga 90/70 ya 90/60. Dan di kehidupan nyata, orang-orang seperti Arturo memang ada. Kenapa? Buat nguji kesabaran kita wkwk. Yang penting, kitanya jangan kayak Arturo!


That’s a warp! Itusih hal-hal yang bisa aku pelajari dari Money Heist. Menurutmu ada hal-hal lain yang bisa kita pelajari dari Money Heist?

2 thoughts on “What Can We Learn from Netflix’s Money Heist

  1. wadaaaawww wadidaaawww. belum sempat kelarin bahkan yang musim pertama nih.

    untuk masalah umpatan, berkat tontonan yang beragam, akutu bisa ngumpat dengan banyak bahasa. herannyaaaa… bahasa beginian yang cepet banget masuk di kepala.

    mau nonton ini. tapi yang laen jd blm pada kelarrr… dasar aku

    Liked by 1 person

    1. kamu lagi nonton apa aja mo? wkwkwk.

      nah itu ada penjelasan ilmiahnya :p jadi aku pernah baca, mengumpat itu release hormon yg aku lupa namanya atau sesuatu gitu di otak, dan dengan mengumpat kita lega karena kita release energi negatif.

      serius ada penelitiannya kok cuman aku lupa detailnya. google aja :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s