Some Challenging Things of Being a Lecturer

Some Challenging Things of Being a Lecturer

This article has been on my draft for a couple of months. I only wrote some main ideas but I did not finish it. I guess at that time I was in the middle of something else. This article is my thoughts and reflection of being a lecturer for around seven or eight months now.

By writing this, it does not mean that I already know everything about being a lecturer. I’m literally still a noob lecturer and I still have to learn a lot from my students and my colleagues. I wrote this because I have never thought that being a lecturer, my what-so-called dream job back then, would be like this. I wrote this because I admire all of my lecturers and teachers who have taught me. For me, they are strong and amazing people. They teach and take care of their students, and still they have to take care of their family at home. I mean, it is not easy, believe me.

So, here are my lists about some hard parts of being a lecturer. This is solely my opinion. If you are a lecturer or a teacher, you obviously can have different opinions. If you do have the same thoughts like me, ngehehe, welcome to the club, biatch! Aku mengurutkan ini dari yang paling mudah ke yang paling sulit atau menantang. Ok, here we go.


1. Mahasiswa yang tidak punya etika.

Salah satu dosenku pernah tanya ke aku, “Gimana, Dis, jadi dosen? Kamu strict banget ngga? Aku dulu pas awal-awal juga strict banget”.

“Hah, iya, bu? Kayaknya saya ngga strict sama sekali”.

Memang sih menurutku semester kemarin, menurutku cara mengajarku santai sekali. Prinsipku, mahasiswa sudah dewasa. Bukan waktunya mereka di-dekte harus tidak terlambat lah, harus serius lah, dan lain sebagainya. Prinsipku, karena sudah dewasa seharusnya mahasiswa bisa berpikir secara sadar dan mandiri apa yang benar dan salah. Mereka seharusnya tahu apa yang penting dan tidak. Jadi, kalau mereka merasa tidak penting masuk ke kelasku atau datang terlambat, ya aku tidak terlalu memikirkan itu. Kan itu sudah pilihan mereka sendiri. Yang penting, sebagai dosen aku sudah memberikan contoh untuk datang tepat waktu.

Walaupun akhirnya aku menerapkan peraturan baru di kelas-kelas semester ini karena berdasarkan refleksi semester kemarin, mahasiswa yang terlambar itu cukup menghambat pelajaran. Jadi misalnya aku sudah menjelaskan simple present sampai habis. Eh, ada yang baru datang. Itu aku jadi mengulang-ngulang lagi, dan proses pembelajaran di kelas jadi kurang efektif.

Tentang mahasiswa yang kurang etika, selama ini nakalnya mahasiswa wajar seperti nakal-nakalnya mahasiswa pada umumnya sih, yang datang terlambat dan ramai. Karena aku memang cenderung santai, kalau ada mahasiswa yang tidak beretika, paling ya aku nasihatin. Cuman memang ada dua kelas yang lumayan parah waktu itu karena mereka kurang serius. Tapi yaudah aku bilang baik-baik dan mereka bisa kok dibilangin.

Atau, biasanya memang beberapa mahasiswa kurang punya etika ketika mengirim pesan ke dosen, misalnya seperti ini:

Kalau seperti itu, kadang tidak aku balas. Kadang aku balas, kalau misal konteks pesannya butuh di balas.

Mahasiswa terparah semester ini sih ini. Pertama, dia copy paste di brainly.com. Kedua, dia bikin sendiri tapi copy paste google translate. Sudah bisa dijamin, aku kasih nilai 0 untuk ini. Kalau misalnya dia tidak bisa dibilangi, aku bakalan bener-bener bodo amat, karena aku tidak mau buang-buang waktu mengurusi mahasiswa yang tidak mau belajar. Buat apa kan? Mending ngurusin mahasiswa yang niat-niat aja.

2. Menyesuaikan materi dengan situasi kelas padahal sudah bikin course outline di awal semester.

Di awal semester, biasanya kami (re: dosen) akan membuat course outline dari RPS (Rencana Pembelajaran Semester) yang ada. Lalu, di awal pertemuan, kami akan membagikan dan mendiskusikan course outline itu ke mahasiswa. Gimana, cocok ngga dengan jurusan kamu? Mau materi apalagi nih? Jadi, kami sebagai dosen bisa menyesuaikan.

Namun faktanya, course outline itu akan selalu berubah. Ini fakta di aku sih, aku ngga tahu dengan teman-teman dosen lainnya. Karena, mau bagaimana lagi, kadang mahasiswa tidak bisa dipaksa.

Misalnya, minggu pertama sudah bahas simple past, tetapi ternyata kalau mau bahas materi lain, mahasiswa-mahasiswa di kelas X belum siap kalau proficiency-nya di bawah rata-rata. Atau, aku akan mengubah course outline kalau ternyata materi yang akan aku berikan akan terlalu mudah untuk mahasiswa kelas Z. Bisa juga seperti ini, materi akan aku rubah ke lebih banyak game based learning, kalau mahasiswanya susah diajak serius.

Aku tidak mau memaksa mahasiswa, tapi di satu sisi memang susah ketika bener-bener harus ‘peka’ dengan kebutuhan mahasiswa, sedangkan yang diajar tidak hanya satu kelas saja.

3. Doing administrative jobs while I’m obliged to teach nine classes in the same time.

Sebagai dosen, kadang kita juga punya tugas administrative, misalnya ngurus nilai! Salah satu alasan aku memilih jurusan bahasa adalah agar tidak berurusan dengan matematika, tetapi aku salah, wahai anak muda — Aku tetap harus berurusan dengan excel dan segala tetek bengek-nya itu. Untung, ada mbah google.

Sebenernya selain tugas administratif, aku juga ada kegiatan di luar kampus karena aku punya komunitas, podcast, blog ini, dan aku masih suka ngopi di luar. Aku suka jadi orang yang produktif, tapi ya gitu, aku suka kewalahan sendiri. Jadi, di sini, sebagai orang dewasa, aku, kita, bener-bener harus pinter bagi-bagi waktu. Begitu, Ferguso.

Kadang aku capek, kadang aku semangat. Aku selalu sambat kok. Yah, wajar namanya juga manusia. Namun, di satu sisi, aku bersyukur bisa jadi orang yang produktif, gara-garanya ada satu orang yang aku kenal yang dia gabut all the time dan aku malah kasihan karena dari 24 jam waktunya dia cuman habiskan dengan leyeh-leyeh di kasur. :)) Kapan-kapan aku ceritakan tentang dia.

4. Pay attention to all of the students. Literally, all of the students.

Tau ngga sih, ngehafalin nama mahasiswa itu susah banget! Namun, di satu sisi, aku mau ngehafalin nama mahasiswaku di kelas. Aku ngga mau manggil mereka, “Ya mbak yang di sana, iya siapa namamu mbak?”, atau “Mas siapa tadi namanya”?. Lagian, siapa sih mahasiswa yang tidak suka kalau namanya diingat oleh dosennya. Waktu aku kuliah di Australia, aku bahagia banget dosenku ingat namaku dan cara melafalkan namaku. Namaku tipikal nama-nama Asia yang sulit dihafal dan lafalkan. Jadi, ketika dosenku ingat namaku, it means a lot to me.

Walau kadang ya, ada aja mahasiswa yang lupa namaku siapa. Padahal namaku mudah dihafal — karena jarang. Ya ga sih?

Itu baru persoalan nama, sebagai dosen aku harus peka bahwa setiap mahasiswa mempunyai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Karena sering ya mahasiswa itu bilang oke paham tapi sebenarnya tidak paham. Contoh, ketika aku mengajar kelas kemarin, aku bertanya:

“Oke, jadi, kalian sudah tahu purchase invoice itu apa?”

“Sudah, miss,” kata anak-anak kompak sekelas.

“Oke. Apa contoh purchase invoice?”

Satu kelas hening.

“Itu loh, purchase invoice itu nota atau struk pembelian ituloh”

Satu kelas: ooooooh.

5. Masalah judgement nilai.

Ini adalah salah satu hal yang paling sulit sejauh ini. Setiap dosen mempunyai idealisme dan cara penilaian yang berbeda. Aku mempunyai idealisme bahwa proses juga penting selain nilai atau hasil akhir. Kenapa aku juga menilai proses? Aku berharap setelah lulus dari kelasku, mahasiswa harus meningkat kemampuan Bahasa Inggrisnya. Sementara itu, kemampuan awal setiap mahasiswa berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata. Aku langsung kasih contoh deh.

Contohnya, aku sekarang sedang mengajar kelas writing. I literally read, and then revise their writings in term of grammar, content, and punctuation. Mahasiswa A draft awalnya sudah bagus dan tidak terlalu banyak revisian. Mahasiswa B banyak melakukan kesalahan di bagian grammar, content, dan punctuation. Namun, jika mahasiswa B mampu merevisi hasil tulisannya itu, maka aku akan memberi nilai mahasiswa A dan B antara 80-100, walaupun draft awal mahasiswa B jauh lebih jelek daripada mahasiswa A. Bagiku proses pembelajaran itu juga penting.

Kemudian, jika aku sudah memberi nilai akhir pun, aku juga masih sering berfikir, aku sudah adil belum ya? Aku bener ngga ya ini? Kemudian aku akan mereview lagi proses pembelajarannya, etika mahasiswanya, dan hasil akhirnya.

That’s a wrap! Walaupun banyak banget tantangnnya, tapi so far aku menikmati pekerjaan ini karena dua hal yaitu, (1) selalu unexpected, dan (2) tidak membosankan. Jadi walaupun aku menyediakan materi yang sama di kelas yang berbeda, situasi kelas itu akan selalu unexpected. Mengajar di kelas yang sama pun itu tidak akan membosankan karena intinya situasi kelas juga tidak akan pernah sama. Lagian, kalau aku bosan pakai metode A misalnya, aku bisa ganti atau cari metode mengajar yang lain. Gitu :))

2 thoughts on “Some Challenging Things of Being a Lecturer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s