things i should be thankful in 2019

things i should be thankful in 2019

Kemarin, aku menulis hal-hal yang aku sambati di tahun 2019. Aku sudah berencana menulis tentang ini juga tahun kemarin. Kalau ada yang disambati, berarti ada yang harus disyukuri juga dong, karena hidup itu adil.

Kamu merasa hidup itu ngga adil? Ngga papa kok, aku pun sering begitu. Aku sering iri ke teman karena dia punya banyak hal yang aku tidak punya. Padahal, bisa jadi ada banyak hal yang aku punya, tapi dia tidak. Atau segala achievement yang dia raih, banyak pengorbanan yang aku tidak tahu. Jadi, sambat memang gapapa, karena kita manusia kok, tapi harus ada batasnya. dan juga, jangan membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan orang lain, karena kita tidak tahu kehidupan dia seperti apa. :))

So, here are the things that I should be grateful in 2019:

1. Lulus S2 dengan beasiswa

Ayahku adalah kompetitor nomor satu. Ketika kuliah S1, beliau berkuliah dengan biaya pemerintah. Setelah itu, langsung ditempatkan di sebuah universitas dan bekerja sebagai dosen. Sejak kecil, aku selalu ingin mengalahkan ayah, termasuk dalam bidang akademik dan pekerjaan.

Kali ini, aku merasa menang, karena walaupun S1 aku tidak mendapatkan beasiswa, aku berhasil lulus S2 dengan beasiswa pemerintah. Aku juga anak pertama dalam keluarga besar yang berhasil kuliah di luar negeri 🙂 It feels good when I can defeat my father.

2. Dapat pekerjaan

Dulu lulus S1, aku juga pernah bekerja, tetapi tidak full time dan tidak seresmi yang sekarang. Pekerjaan aku yang sekarang resmi, ada SK-nya, da bener-bener full time. I need to adjust to a lot of things, termasuk jadwal olahraga dan jadwal main. Awalnya aku kesal karena harus kerja 8 jam sehari, but I get paid anyway. Jadi aku tidak membebani orang tua, dan sempet jajanin adik-adikku juga.

I also love my job too (kecuali yang bagian administrasi). Nanti kapan-kapan aku ceritain deh di post khusu tentang jadi dosen muda :))

3. Feel good about myself

Jadi, aku sempet ngga percaya diri dengan diri aku sendiri. Selama bertahun-tahun. Cerita asal muasalnya panjang sih. I need a very long time to feel good about myself :)) Caranya gimana? Aku baca banyak buku. Beberapa buku yang mengubah pandanganku adalah buku-buku Paulo Coelho, Mark Manson, dan penulis Tuesday with Morries yang aku lupa namanya siapa.

Intinya sih, everyone is taken. Why would you be anyone? Setiap orang itu berbeda, punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mending fokus mengembangkan diri sendiri daripada pengen jadi orang lain.

4. Friends and family

Ini klise banget yah. Tapi seriusan.

Persoalan teman, aku bersyukur banget punya banyak teman yang mau aku curhatin, dan mau sama aku segila apapun aku. Walau pun mereka jauh, mereka selalu ada buat aku.

Ngga enaknya sih, kalau usia dewasa gini, teman-teman dekat sudah pada kerja semua, jadi kalau misalnya pengen main bareng susah banget nentuin waktunya. Makin kita dewasa juga, teman emang makin sedikit karena seleksi alam itu berlaku. Namun, enaknya adalah, less drama. Jadi kalau misal ada masalah langsung diomongin dan diselesain ga pakai ngode. Semakin kita dewasa, kita sadar kita semakin ga butuh drama.

Keluarga juga. Keluarga juga lengkap, walaupun aku belum punya keluarga sendiri :)) Ini sih, satu-satunya yang aku gabakalan bisa defeat ayah aku karena dia menikah umur 25 dan aku udah melewati angka itu. Aku sebenarnya santai sih. Logikanya, belum ada jodoh, mau menikah sama siapa kan? Masa iya mau buat undangan dulu terus entar nama calon ditempel :))

Oke. Jadi, that’s a wrap. Males nulis panjang-panjang. Bye, sampai ketemu di post selanjutnya :))