Sambatan 2019

Sambatan 2019

This is a personal post. I consciously write about this because I need to. It is a reminder for a future me, that I have been through this. I appreciate if you read this (but you don’t have to anyway), because I’m going to literally nag the whole post.

Anyway, I’m used to afraid talking about personal stuff on social media. I control my self-image on social media. I tried to be strong, perfect, and happy, but I don’t care about it anymore. As human, we are vulnerable. And when we aware of our vulnerability, we actually become stronger because we accept who we are. As I getting older, I realise I should not think what other people think about me at all times. I should not give my time to other people who do not worth my explanation.

I should not give a fuck of everything. I should give a fuck to things that worth to give a fuck.

So, here is my top list:

1. Kecelakaan

Beberapa minggu lalu aku kecelakaan. I fell from the motorcycle. It was my brother who was driving.

Biasanya adikku emang suka ngebut. Aku juga suka adikku ngebut, dan biasanya dia nyetirnya aman. Tapi aku ngga tahu ada apa dengan dia hari ini. Entah ngantuk atau auto mata minus. Tadi dia pengen ngebalap mobil depan. Nah terus ada tiang listrik yang agak menjorok ke tengah jalan. Sebelah tiang listrik ada celah, tapi jelas gabisa dilewatin motor. Tapi dia maksa, terus aku tegur kan. Pas dia ‘nyadar’. Dia agak banting setir ke kanan tapi aku udah ngira kita bakal jatuh ini.

Terus aku langsung tutup mata, aku ngga ngerti gimana jatuhnya tapi aku tahu sepeda kami terpelanting ke kiri, kami ke kanan. Kaki kiri ku natap aspal keras banget, sakit luar biasa. Untungnya pas belakang ga ada motor atau mobil, kalau ada ga selamat kayaknya kami :’) adikku udah bangun tapi aku masih di aspal — Aku gabisa gerak si, soalnya shock dan beneran sakit. Aku mikirnya plis jangan patah — Terus diangkat bapak-bapak dong lol 🙃.

Untungnya ga patah soalnya kakiku bisa ditekuk. Tapi aku hampir gabisa jalan soalnya nekuk sakit, lurus juga sakit. Akhirnya kami memutuskan buat balik ke rumah dulu. (I don’t feel comfortable being at a stranger’s house). Terus we decided to go to hospital soalnya adikku ternyata bahu dan kuku kakinya berdarah. I also needed to check if my left leg was really okay because I barely can walk. Long story short, kamu gapapa sih cuman adikku banyak luka luar, aku luka dalam.

Jadi bukan murni accident sih, soalnya nabrak tiaaang 😭🤣. Dan emang adikku ini kayaknya dia harus introspeksi deh soalnya ini keempat kalinya dia kecelakaan.

Sekarang sudah hampir 4 minggu paska kecelakaan. Kemarin, tanggal 1 Januari, aku habis diurut lagi dan ternyata banyak syaraf yang belum bener. Jadi fix aku belum bisa lari, and basically doing any exercise, karena kalau aku maksain, justru makin parah.

Sebenernya aku sedih banget 😦

Karena lari udah bagian dari life style yang aku bangun sejak lama. Kalau aku lari atau olahraga, aku selalu ngerasa lebih sehat. Aku tidak pernah insomnia, pagi-pagi sudah produktif, karena aku ngantor jam 8 pagi, maka pukul 4 aku sudah bangun dan siap-siap lari. Menstruasi pun teratur dan tidak pernah sakit.

Sekarang, tidurku kurang teratur dan aku sering insomnia. :))

2. Live on my own

Sebenernya aku ingin tinggal di rumah sendiri, kontrak atau ngekos, walau aku hidup di Malang dan ortuku di Malang. Aku tinggal di Australia selama dua tahun, aku terbiasa dengan budaya mereka. Jadi di sana, kita sudah berumur 20 lebih, sangat wajar jika seorang anak ingin hidup sendiri atau mandiri. Aku pun juga ingin begitu, karena aku ingin mandiri. Apalagi aku sudah bekerja kan, jadi aku pikir aku mampu untuk hidup sendiri.

Yah, namun, orang tuaku tidak setuju karena alasannya aku belum bersuami. Antara make sense dan ga make sense sih alasannya. Emang orang tuaku religious banget, tapi aku jadi mikir gini banget ya jadi perempuan. Kalau masih ikut orang ta, harus nurut orang tua. Kalau ikut suami, harus nurut suami.

3. kerjaan

Aku bersyukur banget bahwa tepat setelah aku lulus kuliah S2, aku langsung dapat kerjaan. Yah tapi namanya manusia, apa sih yang ga bisa aku sambatin.

Kerjaan ini, termasuk dream job aku sih, cuman aku kurang suka bagian administrasinya. Jadi aku sering banget ngerasa suntuk, everything seems the same, tired endlessly, dan setres banget. Apalagi, aku gabisa olahraga.

Ketika aku lari pagi, setidaknya aku mempunyai kebebasan, yang mana aku bisa lari selama dan secepat aku mau. Aku ngerasa tenang banget, ga perlu dengerin mamaku ngomel pagi-pagi atau ngehadapin situasi kantor. Tenang banget.

Paska kecelakaan, aku ga punya motivasi stay awake after shubuh. Aku selalu tidur lagi. Pagiku ngga fresh sama sekali. Dan gitu aja terus, nothing is change. Yet.

23 thoughts on “Sambatan 2019

  1. Hai kak, sedih ya di tahun baru ini belum bisa balik ke rutinitas kesukaannya yaitu lari. Semoga kakinya lekas membaik ya abis ini, mungkin kegiatan paginya bisa diganti sama hal baru? Baca buku mungkin?

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Gadis Pratiwi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s