Have I Moved On?

Have I Moved On?

Seleksi alam itu berlaku di segala lini kehidupan kita; termasuk pertemanan. Setiap orang pasti punya pengalaman yang berbeda-beda, tapi kata kebanyakan orang, semakin kita dewasa, teman kita semakin dikit. Aku tidak tahu ‘dikit’ ini seberapa, karena dikit dan banyak itu sangat relatif. Namun, bagiku yang jelas, seleksi alam berlaku. Temanku yang masih membersamai aku sampai sekarang, bukan sekedar teman haha hihi, tapi teman yang aku bisa cerita dan diskusi apa saja, dari hal serius sampai remeh temeh. Dari teman jalan, teman kerja, teman komunitas, teman podcast, dan teman ngopi. Ain’t nobody got time for fake friends right.

Kemudian, aku tidak tahu kenapa ketika aku dan sobat kopiku ngopi, perbincangan kami selalu mengarah ke hal-hal yang mengarah ke logika analisis yang berat (hahaha!). Kayaknya bisa nih, dibuat penelitian: dampak minum kopi terhadap psikologis para pecandu kafein —

Waktu itu, kami lagi bahas tentang move on. Aku tanya temanku, kamu sudah move on?

Gatau.

Loh?

Dan akhirnya, kami bahas move on. Aku menulis ini karena aku sudah move on. hahaha. It wasn’t easy though. I had different ways to cope up with my failed relationships, but the feeling when I moved on is the same, so I gotta share.

Aku tahu aku sudah move on ketika aku buka insta story dia yang ngepost seseorang yang lain, I literally feel nothing. Bahkan aku berharap dia baik-baik saja karena aku tahu his life is kinda rough. Seseorang yang dia post juga cantik banget dan aku merasa they deserve to be each other if it is meant to be. Padahal aku pernah suka dia; dan ketika aku suka banget dengan seseorang, pasti aku bikin puisi dan itu aku upload di blog. Ketika aku baca lagi puisi itu, puisi itu cuman sederet kata-kata untuk orang yang aku suka, but I don’t feel it that way anymore.

This is one of the cool things I ever feel!

Aku juga pernah ngetes diriku sendiri dengan cara stalk IG orang yang aku suka. Ketika aku sudah berbaikan dengan diriku sendiri dan aku sudah rela, aku merasa biasa aja ketika melihat foto-foto si dia.

Bahkan pernah ada aku suka dengan seseorang, dan kita sempat dekat. Dia tahu bahwa aku suka menulis di blog, dan aku tahu bahwa dia suka baca. Karena itu, aku juga rekom dia buat nulis di blog. Dan emang iya, dia tulisannya bagus. Namun yang bikin aku sedih adalah ternyata dia mengunggah puisi buatan dia untuk orang lain di blog yang dibuat karena aku. I knew the poem was not about me because it wasn’t me. Aku butuh waktu lama berbaikan dengan keadaan. Sekarang, aku sudah baik-baik saja dan sebenarnya aku justru suka baca puisinya, walau itu bukan buat aku. Kalau kamu baca puisi dia, kamu juga pasti bakalan suka, karena kamu itu puisi yang dia bikin bener-bener dibuat dari hati dan ga asal menye-menye.

That is why, I also want be in love and to be loved by a writer. I want to be eternal in his writings.

Anyway, lanjut.

Aku juga tahu aku sudah move on ketika aku rindu situasi ketika bersama dengan seseorang itu, tetapi aku tidak rindu orangnya. Paham nggak sih? Misalnya, aku ngga tahu kalian gini juga atau gimana, tapi pas lagi pacaran sama seseorang aku selalu punya one or two favorite songs yang related dengan dia atau hubungan kami. Contohnya, waktu aku sama si dia, Secondhand serenade itu lagu kami banget, atau I’m Yours-nya Jason Mraz deh, soalnya dia pernah nyanyiin lagu itu buat aku. Pas belum move one dan mendengarkan lagu itu, pasti merasa desperate bange, pengen nangis dan auto skip lagu. Ketika sudah move on, lagu itu ya cuman sebatas lagu. Oh si doi pernah nyanyi lagi, dan yaudah. I still like those songs, and the songs are just like any other songs, yang tidak ada arti apa-apanya.

Atau misalnya pas belum move on, dulu kalau aku jalan-jalan di Malang, terasa merana sekali karena aku dan mantanku juga pernah jalan-jalan ke tempat itu. Jadi, dikit-dikit ingat mantan, dan akhirnya aku tidak kemana-mana karena aku merasa Malang jadi tempat penuh kenangan dan itu menyedihkan karena aku tidak sama si dia. It was my saddest moment. Aku sampai buat blog baru (blog yang ini), yang lama aku matikan karena penuh cerita sama dia (hahaha). Sekarang ketika aku sudah move on dan aku baca cerita-cerita aku lagi di blog lama, I recognize that I loved him, but I don’t have that feeling anymore. Ketika aku jalan ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dengan dia, tempat-tempat itu menjadi hal yang biasa saja karena aku sedang membuat moment baru tanpa dia. Again, this is one of the cool things I ever feel 🙂

Tapi, aku suka ilfeel dengan beberapa teman yang suka men-cie-cie-kan aku dengan ex gebetan atau mantan, misal seperti, cie gimana sama si dia. It’s lame. Awalnya aku kesel sih, tapi lama-lama aku sadar karena Allah nunjukin mereka yang kayak begitu emang bukan temanku. Mereka cuman teman haha hihi, who doesn’t know me and my story. Kalau teman kayak gitu cocoknya juga cuman dibales haha hihi, dan gausah diseriusin. Waktu kita terlalu berharga buat ngurusin mereka yang sok ngurusin kita.

Buat yang belum move on, it is okay, it takes time. Setiap orang punya cerita yang berbeda, dan jangka waktu yang berbeda untuk benar-benar melupakan perasaan akan seseorang. Perasaan ya. Karena kita tidak pernah bisa benar-benar lupa orangnya, tetapi kita bisa meniadakan perasaan suka kita ke orang lain.

Nih lagu buat kamu yang belum move on:

9 thoughts on “Have I Moved On?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s