Peredaran Daging Babi Akan Mengganggu Keimanan (?)

Peredaran Daging Babi Akan Mengganggu Keimanan (?)

Beberapa hari lalu aku baca di story teman, kalau ternyata ada sebuah restauran yang ternyata jualannya ada daging babinya. Aku heran karena di Indonesia sering seperti itu. Misal, judulnya Bakso Ayam/Sapi, eh ternyata daging tikus/babi/anjing/siput yang dipakai.

Waktu aku di Melbourne, aku pernah ke Jyu-Jyu di Clayton karena aku pengen makan ramen. Aku bilang, “Can I have Karaage Ramen, please?”. Karaage itu dimana-mana ayam, jadi aku pikir tidak apa-apa. Lalu, masnya yang jualan bilang, “Oh, it has pork in it. We use pork broth”. Oh ada babinya, ini kami kaldunya pakai kaldu babi semua.

Jyu-Jyu

Karena aku berjilbab, si senpai auto paham kalau aku muslim dan sebagai muslim kami tidak makan babi. Dia paham itu, dan dia secara terang-terangan memberi tahu kami. Aku pun auto terharu. Mas-nya bukan islam. Mas-nya tahu kalau aku pasti tidak akan jadi beli karena ramen-nya ada babinya. Mas-nya tidak takut ‘rugi’ atau ada konsumen yang tidak jadi beli. Coba kalau di Indonesia. Tidak semua orang sejujur ini. Sorry to say, but this is true.

Itulah salah satu hal yang aku rasakan bahwa Australia memang negara kafir yang orang islam itu minoritas, tapi aku merasa Australia ini islami banget. 🙂

Menu at Jyu-Jyu 🙂

Seharusnya mereka tidak perlu takut tidak laku, karena aku yakin sebenarnya di Indonesia banyak kok orang yang suka makan babi. Maksudku, pasarannya ada sendiri, jadi tidak perlu takut tidak ada yang beli. Atau, apakah di Indonesia sulit perizinannya kalau mau buka restaurant non-halal? Please let me know in the comment section below.

Di satu sisi, memang ada artikel yang aku baca, yang menuliskan bahwa peredaran daging babi akan menganggu akidah umat. I’m be like, hellow, please. Mungkin yang nulis mainnya kurang jauh. Kalau dia ke luar negeri, ke negara yang mayoritas ‘kafir’, mungkin akidahnya tergugat kali ya. Kan babi dan minuman keras dimana-mana. Mana murah lagi.

Di Australia minuman beralkohol yang kalengan ada kok yang cuman 10K rupiah. Di kampusku, di event-event tertentu, kami akan bagi-bagi minuman kalengan beralkohol dan tidak beralkohol secara gratis. Aku tahu, karena aku volunteernya (haha).

Kalau aku, aku percaya jika seseorang sudah kuat akidahnya, maka hal seremeh temeh daging babi dan minuman keras yang dijual di tempat umum, tidak akan menganggu keimanan dia. Sama kayak misal jual makanan ketika bulan puasa. Menurutku sah-sah aja sih. Justru orang yang khawatir keimanannya goyah karena ada orang jualan di bulan puasa, atau buka warung babi, keimanannya itu patut dipertanyakan. Karena menurutku kita tidak bisa memaksakan kepercayakan kita kepada orang lain. Sebagai muslim, aku percaya bahwa makan babi dan minuman keras itu haram. Yaudah, itu kan aku. Kalau misal ada non-muslim makan daging babi, ya itu kan urusan dia dan dia memang punya kepercayaan yang berbeda denganku. Kalau ada orang muslim yang makan babi atau minum minuman keras, ya kalau menurutku itu urusan dia. Toh, mana ada sih muslim yang tidak tahu kalau babi dan minuman keras itu haram (atau mualaf kali ya). Sekali lagi itu urusan dia. Kecuali, kalau dia bertanya ke aku atau minta nasihat, ya aku bilang kalau itu haram.

Bukannya aku tidak peduli. Dakwah memang bagus, dan memang kita dapat pahala begitu kan, kalau saling mengingatkan dalam kebaikan. Tapi sekali lagi, menurutku, harus disesuaikan dengan konteks. Kalau konteksnya ceramah, jelas oke. Namun, kalau konteksnya secara tiba-tiba mengingatkan orang tidak kenal (?), I’m not so sure. Konteks dan situasi itu penting.

That’s a wrap. Jadi, aku tidak mempermasalahkan kalau ada restauran non-halal di manapun. Yang aku permasalahkan adalah ketika mereka tidak jujur bahwa jualan mereka tidak halal.

26 thoughts on “Peredaran Daging Babi Akan Mengganggu Keimanan (?)

  1. SubhannAllooh suka dengan artikelnya. Kebanyakan yang minoritas muslim malah lebih aware ya dengan yang muslim. hehehe

    Semoga para pedagang di negara kita lebih percaya diri dengan kejujuran pada dagangannya, ini yang udah sangat luntur di masyarakat kita, sehingga tidak merugikan banyak orang. Yakin, semua pasti ada rezekinya sendiri-sendiri.

    Liked by 1 person

    1. Terimakasih mbaaaaa :))
      iya temenku di IG cerita, dia pas kecil sekolah di madrasah, di bully; karena dia turunan cina gitu kan. gurunya pun juga ga membantu akhirnya dia SMP sekolah di sekolah di sekolah kristen dan katanya di sana suasananya lebih baik :’))

      dia juga cerita temennya kalau ga salah, intinya dibully karena gabisa ngaji atau apa gitu, aku lupa detailnya. akhirnya sampai sekarang dia gamau ngaji.

      aaamiin :))
      bisa dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar 🙂

      Like

  2. Kalau sudah dimakan, masuk perut, jadi darah dan beredar di tubuh kita jelas akan mengganggu akidah dan Iman orang “muslim” yang makan itu daging. Apalagi makannya sengaja.
    Ketakutan akan perbuatan dosa itu bukan diantisipasi dengan membatasi/melarang faktor eksternal, melainkan meningkatkan kekuatan internal dari dalam diri kita atau membatasi ruang gerak dari diri kita sendiri. Puasa misalnya.
    Tapi kalau ranahnya dakwah ya beda lagi, harus sadar niat berdakwah (bukan mendadak dakwah), dipersiapkan sebaik mungkin dan dilakukan secara bertahap.
    Nice share anyway! 👍
    BTW kucing itu haram ya kakak, kelinci yang halal.. Wkwk

    Liked by 1 person

  3. Bener sih, malah lebih respect ketika ada warung yang jualan menu B1 atau B2, ya jujur aja, daripada nanti ketauhannya setelah digrebek gitu.

    Temen saya pernah ada tuh, makan bakso, enak, nggak taunya, esok harinya warung baksonya ditutup karena pake daging… kucing.

    Sianjir.

    Liked by 1 person

    1. He em. Harus selalu ngeliat konteks.

      Soalnya temenku pernah cerita, dia dikomen dm sama temennya, kenapa ko berjilbab, semacam itu. Ya maksudnya baik, ta tapi temenku ilfeel-lah. Bukan temen deket, ga ada angin, ga ada hujan, ngekomen gitu. Kesannya kayak ngegurui.

      That’s what I think sih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s