Tentang Bolos Kuliah

Tentang Bolos Kuliah

Sebagai dosen newbie, aku sering sedih sama mahasiswaku. Pasalnya, beberapa dari mereka sering minta libur. It’s okay, I get it. Aku juga pernah kuliah kok, dan kuliah emang capek dan kadang bosen. Selain itu, mata kuliah yang aku ajarkan memang mata kuliah wajib, tapi bukan mata kuliah yang jurusan kalian banget. You know what I mean. Jadi, aku ngajar English for Spesific Purpose (ESP). Semua mahasiswa di setiap jurusan pasti dapat ESP yang dibagi menjadi beberapa skill: listening, speaking, reading, dan semester depan akan ada writing.

Kalau capek, ya kuliah memang capek dan itu sudah menjadi resiko dari pilihan hidup kalian. Sepupuku pernah ngeluh ke nenek kalau kuliah capek, terus nenek langsung bilang, “Kesel gausah kuliah. Leren ae, turu ndek omah“. Kalau capek tidak usah kuliah, berhenti aja, tidur di rumah. Nenek gayanya memang savage gitu, tapi beliau ndak pernah savage ke aku. Soalnya aku udah lulus S2, hehehe. Savage-nya nenek itu tiap kali aku telfon atau berkunjung ke rumah beliau, beliau selalu mendoakan aku biar segera bertemu jodoh. Lalu kata ‘jodoh’ diucapkan berkali-kali dengan intonasi dan penekanan kata yang maksimal. Ya Allah, iya Nek, iya. Eh, tapi ini beda cerita —

Aku percaya, hidup itu pilihan. Apapun itu; ngga ada yang namanya kita ngga punya pilihan hidup. Misalnya, ada mahasiswa yang sudah datang ke kelas, tetapi pas di kelas minta libur. Padahal sebenarnya dia punya pilihan untuk tidak datang ke kelas sekalian, atau bolos, daripada pas di kelas ngeluh. Kalau misalnya milih bolos, ya kan berarti tinggal aku alfa daftar hadirnya. Kalau misalnya milih hadir di kelas, ya seharusnya fokus di kelas itu, karena sudah memilih untuk datang hadir di kelas. Sebenarnya aku ngga terlalu mempermasalahkan kalau ada mahasiswa yang bolos, karena itu sudah pilihan hidup dia. Yang aku permasalahkan, seakan-akan mereka tidak punya pilihan. Kesannya seperti, kuliah karena terpaksa.

Memang sih, ketika mahasiswa hadir di kelas, oke dia nggak alfa dan berarti presentasi kehadirannya bagus. Tapi aku tipe orang yang punya prinsip, kalau jadi orang jangan setengah-setengah. Buat apa datang kuliah tapi pas di kelas ngga serius dan tidur? Mending tidur aja di rumah. Lebih enak kali, ada kasur, beb. Meskipun begitu, aku tetapi menghargai mereka yang sudah memilih datang ke kelas aku, karena mereka sudah niat dan sudah ada effort-nya lah, walau setengah-setengah.

Sementara itu, proses pembelajaran yang efektif itu butuh kerjasama kedua belah pihak, dosen dan mahasiswanya. Kalau dari sisi aku, aku berusaha memahami kenapa kok mahasiswa begitu. Kok males-malesan? Kok mahasiswa seperti terpaksa? Padahal sudah bayar SPP mahal-mahal lo. Kalau ngga niat, kalau aku mah, mending buat modal warung kopi. Atau, apakah cara mengajarku yang monoton atau bagaimana? Jadi aku sering tanya mahasiswa tentang pendapat mereka, dan aku berusaha agar tiap minggu selalu ada hal yang berbeda. Karena kalau metode pembelajaranku sama, aku juga bosen.

Tapi kalau mahasiswanya tetep gitu, aku paham mungkin beberapa mahasiswa kurang mempunyai motivasi belajar. Banyak sih indikator yang terpikirkan, tapi menurutku ini indikator yang paling utama — masalah motivasi. Jadi kesannya ya begitu, kuliah karena terpaksa. Maunya minta libur.

Dalam hal motivasi, aku tidak bisa membantu banyak. Ketika kuliah S1 dan S2, aku suka banget kuliahku, jadi aku pasti masuk-masuk aja. Aku suka banget sebagian besar mata kuliahnya, dan sebagian besar dosennya menurutku asik. Aku ingat selama S1, aku cuman bolos mungkin 3-4 kali. Itu pun aku bolos karena dosennya sering tidak masuk tanpa kabar, jadi kan males juga. Ketika S2, aku bolos satu kali karena waktu itu ada kegiatan relawan yang lebih seru dari kuliahku. Jadi aku merasa, kuliahku worth it untuk ditinggal. Nah pas kalian bolos, bolosnya kalian worth it ngga? Kalau iya sih, silahkan, kalau nggak, ya buat apa bayar SPP.

Nah, pas banyak mahasiswa yang cerita, kuliah karena dipaksa orangtua atau jurusannya tidak cocok. Aku cuman bisa menjadi pendengar yang baik, karena ketika aku memberi saran, belum tentu saranku cocok dengan konteks mahasiswa yang curhat itu. Yang bisa aku sarankan adalah, entah bagaimana, kalian bisa memanfaatkan jurusan yang kalian jalani sekarang untuk hal-hal yang kalian suka. Misalnya nih, sekarang belajar Pendidikan Bahasa Inggris, tetapi sebenarnya tidak suka, sukanya jadi entrepreneur. Nah tapi kalian kan bisa pakai ilmu Bahasa Inggrisnya ketika kalian jadi wirausaha. Does it make sense for you? 🙂

Ini klise, tapi banyak orang yang pengen kuliah tapi ngga bisa bayar SPP, atau yang orangtuanya harus banting tulang demi anaknya kuliah. Jadi aku sering sedih, kalau ada mahasiswa yang meremehkan kuliahnya. Aku berharap mereka kedepannya bisa sadar, karena sayang banget kalau kuliah lama-lama tapi karakternya tidak semakin baik. Itu juga masih tantangan buat aku, gimana caranya mengajar tapi bukan cuman materi aja, tapi juga pendidikan karakter.

Kadang aku juga ngga tahu lagi gimana caranya menghadapi mahasiswa yang jarang masuk, tapi kalau masuk tidak pernah aktif, ngga ada respect-nya sama sekali ke aku, dan dia juga ngga pernah cerita dia kenapa. Aku selalu berusaha buat ngga judgmental, karena aku paham tipe-tipe mahasiswa kayak gini pasti ada masalah. Dia juga otomatis terancam ngga lulus, karena dia ngga ada effort-nya sama sekali.

Aku juga bukan tipe dosen yang pelit nilai sih sebenernya, I think, though. Karena aku seberusaha mungkin menilai dari proses belajar dan mengajar, bukan dari hasil akhir saja. Aku juga punya standar yang berbeda untuk setiap mahasiswa, karena aku percaya setiap orang mempunyai starting point yang berbeda-beda. Dan aku juga penganut equality of opportunity. Aku sangat menyayangkan kalau ada mahasiswa yang sampai tidak lulus, karena mereka sebenarnya mereka belum sadar dengan pilihan hidupnya itu. Kecuali kalau emang beneran ada mahasiswa yang memilih untuk super santay dan ngga lulus gapapa sih, ya who knows ~

Sementara itu, aku respect banget ke mahasiswa yang masih semester satu, tapi mereka kritis banget. Diam-diam aku suka terharu, alhamdulillah, Indonesia punya orang-orang kayak gini. Atau mahasiswa yang berani mengkritik, misalnya dia minta aku seharusnya setelah ngomong Bahasa Inggris, langsung Bahasa Indonesia. Aku suka mereka-mereka yang punya karakter. Dan sekali lagi, ngajarin orang untuk mempunyai karakter itu susah, dan aku pun masih belajar.

Terakhir nih, aku cuman pengen menekankan bahwa apapun langkah yang kita ambil itu, sebenernya kita sudah mengambil pilihan. Di setiap pilihan, kita bertanggungjawab atas apapun resiko pilihan yang kita ambil itu. Kalau meninggalkan kewajiban kuliah (atau kerja misalnya), coba tanya ke diri kita sendiri, apakah worth it? Dan pertanyaan yang paling penting, buat apa sih kuliah?

Kuliah ngga wajib kok, yang wajib itu sholat lima waktu —

11 thoughts on “Tentang Bolos Kuliah

  1. Setuju banget sama Bu Dosen ini. Yang terpenting sebenarnya bukan kuliah atau nggak. Tapi, sejauh mana kita bisa membuat pilihan ya :’)

    Dulu, saat masih sekolah ataupun kuliah pun aku jarang bolos, mbak. Hanya hitungan jari lah pokoknya. Bahkan saat aku mau bolos pun, biasanya aku izin ortu wkwk (saat itu, ada perbaikan jalan menuju sekolah. Jadi aku nggak bisa lewat. Akhirnya bolos deh 🤣)

    Dan entah kenapa, dari dulu udah muncul kesadaran kalo cara terbaik menghargai kebaikan ibu guru yang udah kasih ilmu ya hadirnya aku di kelas itu, gitu.

    Dan kalo datang terlambat pun, merasa bersalah sama ibu gurunya. Mikirnya tuh gini mbak,”Kok belagu banget si murid dtg telat. Lah, si ibu gurunya aja yang ksh ilmu datengnya gapernah telat?”

    Makasih, sharingnya, Mbak Gadis 😄💕

    Liked by 1 person

    1. anak teladan bangeeeet wkwkwk. terimakasih sudah baca 😀

      kalau di kampusku memang kehadiran tetep dihitung dan dimasukin nilai. jadi kalau kamu rajib masuk ya presentasi kehadiranmu bagus, nilaimu bagus. ga masuk banyak ya berarti nilaimu berkurang.

      aku cuman ga terlalu memusingkan anak-anak yang bolos sih, karena ya seharusnya mereka udah gede, ya tahu konsekuensinya. aku cuman gasuka mereka yang sudah masuk terus ngeluh wkwk, yaudah sih kenapa ga sekalian ga masuk aja toh aku bebasin gitu hahaha. bolos itu pilihan.

      terus juga ini sih, pas aku S2, dosen juga santai aja. masuk ga masuk terserah. cuman konsekuensinya kalau ga masuk, pasti ketinggalan pelajaran banyak. dan emang kalau kuliah di luar negeri, apalagi S2, beda ya. emang sih ga masuk misalnya, tapi tetep ada deadline tugas dan harus bener-bener belajar dan baca kalau mau lulus. kulturnya emang beda banget sih di luar negeri dan di sini.

      Like

      1. Kalo rajin masuk itu teladan ya wkwkwk anaknya emang suka ke sekolah. Mungkin karena di sekolah ada banyak temen2 kali ya 😍

        Mbak Gadis sekarang udah di Indo kah? Iya, kalo di Indo kebanyakan absen jadi penilaian. Dibagi gitu persentasenya antara kehadiran dan nilai.

        Dan di kampusku, bahkan ada dosen yang nggak izinin kami dateng telat mbak 🤣

        Iya, aku pun setuju sama Mbak Gadis. Seharusnya anak2 ini kurang2in ngeluh. Bener, bolos itu pilihan hahahaha

        Kalo di luar negeri tugasnya lebih banyak project kayaknya ya, Mbak. Jadi, asalkan projectnya kelar dengan baik, yasudah aman2 aja. Kalo di Indo kan dosen masih kasih materi gitu, ya. Mungkin, harapan dosen, dengan masuk ke kelas, materinya ada yang masuk, gitu 😅

        Like

  2. “Buat apa datang kuliah tapi pas di kelas ngga serius dan tidur? Mending tidur aja di rumah. Lebih enak kali, ada kasur, beb” aku banget Dis hiho. Bolos hari itu, ya tanggung jawab atas smua resiko. Mungkin bosan, cari motivasi. dan minggu depan masuk dengan smngat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s