Body Shaming

Body Shaming

Sudah tahu body shaming kan? Sepertinya tidak ada istilah khusus untuk collocation ini dalam Bahasa Indonesia. Body shaming adalah ketika kamu mengomentasi fisik seseorang, dan mengarah ke konotasi negatif. Sebenarnya ketika kamu mengomentari tubuh seseorang, itu sudah negatif sih, contohnya: “Kamu gendutan ya?”, “Jerawatmu kok banyak?”. Ya, tujuan kamu kasih komentar tentang fisik seseorang apasih?

Tujuan aku menulis body shaming ini karena pengalaman aku sendiri dan banyak teman yang cerita tentang pengalaman serupa. Cerita yang paling parah yang pernah aku dengar dari seorang teman adalah ketika dia dikomentarin hal yang buruk oleh orang yang tidak dia kenal. Ketika dia sedang di jalan, ada beberapa orang di belakang dia yang berkomentar tentang betapa buruk gigi yang dia punya, betapa hitam kulitnya, dan betapa jeleknya dia. Temanku cerita bahwa tidak peduli seberapa sayang keluarganya dengan dia, seberapa sering keluarganya bilang kalau dia cantik, dia tidak percaya itu. Dia bahkan butuh beberapa lama untuk sayang dengan dirinya sendiri dan percaya bahwa dia seseorang yang berharga.

Aku sangat paham dengan apa yang dia rasakan, karena aku juga sering dikomentari orang. Sekarang, aku sudah recover. Aku tidak peduli ketika orang berkomentar aku tambah gendut, hitam, dan pendek. Yang terakhir paling ga make sense, but it happened. Namun dulu ada saat ketika aku pernah dikomentari, “Dis, kamu kok gendut sih”, aku merasa kepercayaandiriku langsung jatuh. Ya, aku tahu memang aku gendut, but I do not need other people to tell me that. Itu adalah masalahku, dan dengan dikomentarin bahwa aku gendut, terus mereka bisa apa selain komentar. Semenjak dikomentarin oleh temen sekelasku itu, aku butuh waktu bertahun-tahun to feel good about myself. Aku butuh wkatu sangat lama untuk percaya diri, merasa diriku berharga, merasa aku cantik, dan merasa bahwa aku berhak disayangi.

Iya, efek body shaming bisa separah itu. Kamu tidak pernah tahu komentar kamu tentang fisik orang lain bisa mempengaruhi mental orang lain seberapa berat.

Dengan aku menulis ini, aku berharap siapapun yang membaca ini, yang mengalami body shaming, untuk selalu berbesar hati. Ketika ada orang yang komentar fisik kamu, orang yang komentarin kamu emang punya badan yang sempurna gitu? Ya pasti mereka kekurangan, cuman mereka punya banyak kelebihan waktu untuk mengurusi kekurangan orang lain dan lupa dengan kekurangan dirinya sendiri. Selain itu, hal yang aku lakukan untuk recovery adalah menjauhi orang tersebut dan melakukan kegiatan yang aku suka. Kita tidak perlu membalas, karena kalau kita membalas, apa bedanya kita dengan orang tersebut. Buktikan juga bahwa kamu orang yang worth it dan berprestasi dalam bidangmu. Do things what you like and be the best version of you. Jadi, hiraukan orang yang cuman bisa komentar, because in the end of they day, it is the only thing they can do. (Kurang savage apa aku).

Kedua, aku juga berharap dengan menulis ini kesadaran kita tentang body shaming meningkat. Jujur, aku juga pernah melakukan body shaming ke orang lain kok, dan untuk mengubah kebiasaan buruk memang tidak mudah. Aku juga tidak bisa expect semua orang untuk berhenti body shaming, tapi aku bisa mulai dari diriku sendiri. Dan kamu, yang juga concern dengan masalah ini, bisa memulai dari diri sendiri. Kamu juga ga suka kan kalau bagian dari fisikmu dikomentarin?

Namun, ada perspektif lain. Apakah body shaming selamanya buruk?

Oke, kita tahu body shaming itu “Indo banget”. People do this everytime. Tapi kenapa orang kita melakukan body shaming? Setelah melakukan diskusi dengan teman, aku setuju body shaming bisa jadi adalah salah satu bentuk perhatian. Misalnya ada anggota keluarga kita yang obese, lalu kita “Kamu terlalu gendut deh”. Hal ini merupakan bentuk perhatian karena orang yang mempunyai badan yang terlalu besar mempunyai resiko kesehatan yang tinggi. NAMUN, aku hanya setuju bentuk perhatian ini dilakukan oleh anggota keluarga dan teman terdekat saja.

Aku saling olok-olokan dengan adikku, tetapi kami memang biasa begitu. Adikku memang agak-agak obese, tetapi aku tidak bully dia terus. Aku terus memotivasi dia untuk olahraga dan makan sehat, seperti tidak makan makanan yang digoreng. Kalau dia tidak mau, ya itu pilihan hidup dia. Jadi bentuk perhatianku seperti, selain itu aku tetap akan sayang dia walaupun dia badannya besar. Aku menilai atau menghargai adikku ya karena dia adikku, aku tidak peduli dia badannya begitu atau hidungnya begitu. Selain anggota keluarga dan teman yang dekat, aku pikir orang asing atau misal teman yang jarang bertemu tidak mempunyai hak untuk mengomentari badan kita. Ngapain, gitu kan. Walau, sekedar basa-basi, mulut kita bisa menyakiti orang lain loh.

Lalu dengan tidak melakukan body shaming atau fat shaming apakah kita normalize obesity?

Ada diskusi lagi yang aku bahas dengan temanku. Tahu fat shaming kan? Body shaming sama seperti fat shaming, tetapi fat shaming khusus tentang mengomentari apakah badan seseorang gemuk atau tidak. Temanku berpendapat bahwa dengan tidak melakukan fat shaming, maka seakan-akan kita menormalisasikan bahwa gendut itu tidak apa-apa; gendut itu sehat. Kalau pendapatku, tergantung. Kurus atau punya badan ideal belum tentu otomatis badannya sehat. Kalau kurus tapi suka makan gorengan, merokok, consume too much sugar, ya bye. Mempunyai terlalu banyak presentase lemak dalam badan memang tidak baik, tetapi apakah fat shaming merupakan cara yang tepat untuk membuat seseorang yang badannya besar merasa lebih baik tentang dirinya dan badannya? Menurutku sih enggak. Kalau dia temanmu atau keluargamu, kita bisa ajak pelan-pelan untuk makan sehat dan berolahraga. Kalau dia orang asing seperti tetanggamu atau orang yang kamu tahu di internet, jika mereka tidak meminta pendapat, menurutku kita tidak perlu berkomentar. Itu masalah mereka dan kita tidak perlu menambah masalah mereka lagi dengan body shaming atau fat shaming.

Pencitraan yang dilakukan media tentang “perfect body” memang membuat kita terpatri pada satu acuan, bahwa yang cantik atau “body goals” itu yang begini dan begitu. Selain itu, jelek dan pantas dikomentari. Itu sih salah satu sebab yang menurutku orang melakukan body shaming, karena berbeda dari standar.

Jadi kembali lagi sih, tujuanku menulis ini untuk mengingatkan aku sendiri dan kamu yang concern dengan issue body shaming, untuk berusaha sekuat mungkin tidak melakukan body shaming. Untuk teman-teman yang pernah dikomentarin masalah badan, it is okay to be different. You should feel good about yourself, karena kalau kamu tidak bisa mencintai dirimu, siapa lagi. Kalau kamu tidak bisa mencintai dirimu sendiri, bagaimana kamu berharap orang lain untuk mencintai dirimu?

6 thoughts on “Body Shaming

  1. It happened on me lately months.
    Awalnya.. I feel nothing but lama2 ak stress. Bbrp rekan komentarin ak yg mkin gendut dan g bgt dliat krn apalagi ak pndk jd ga pas. Hmm.. smpe akhrnya ak iku exercise online dan I feel ak kurusan tp yg tjdi adl dblg ttp gndut. I feel distress.. I knew that bad idea but.. u know kan.. rasanya dikatain gt sm org2 yg tiap hr ktmu km gmna. And… skr ak ad d fase brsha mencintai driku.. walaupun sometimes ak keingt komentar it dan kmbli stress.
    Dear Gadis,
    Thank u for this blog..
    I’m trying to fight my distress. πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Ya ampun 😦 ga kebayang sih kalau aku di posisimu. Sabar yaaaa. dan percaya aja kamu pasti punya sesuatu yang mereka gapunya dan fokus di situ. Tetep olahraga juga gapapa sih, itung-itung sehat.

      kadang badan besar tapi siapa tau itu lebih banyak protein/body mass nya daripada fat-nya.

      Makasih juga sudah mengapresiasi! πŸ™‚

      Like

  2. body shaming, mom shamming, n also baby shamming udah aku alami selama ini πŸ™‚ dan aku udah coba buat nggak bls dan coba menjauhi lingkungan2 dmn aku di komentari.. but, masalah baru datang justru aku dibilang orang nggak “srawung” .. hihihi terus, sebenernya mereka maunya apa ya? lucu menghadapi orang2 seperti itu

    Like

    1. Ohya betul. Saya belum menjadi seorang ibu, tapi saya kerap kali mendengar teman saya mengeluh tentang mom shaming dan baby shaming. “Kok kamu mengasuh anakmu seperti itu”. “Kok anakmu ga ada rambutnya?”.

      Srawung apa bu? hehehe.

      Ya begitulah, saya berusaha menghindar, tapi susah juga sih karena sepertinya sudah membudaya. Yang penting bisa mulai dari kita untuk menghindari komentar basa-basi yang tida ditanya, tidak penting, dan tidak mengenakkan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s