Equality of Opportunity

Equality of Opportunity

Postingan ini aku tulis karena ada beberapa hal yang terpikir beberapa saat lalu. Postingan ini juga bukan postingan ilmiah walaupun judul yang tulis memakai istilah yang sangat spesifik. Hanya saja, cerita hari ini mengingatkanku pada beberapa hal yang aku tulis di thesis-ku; yang aku ga bakalan pernah tahu bahwa “Equality of Opportunity” itu ada; kalau aku tidak menulis thesis. #thankstomysupervisor

Ada sepupu yang datang berkunjung dari Tumpang. Seharusnya aku yang berkunjung besok; sekalian silaturahmi karena sudah lama aku tidak bertamu ke saudara-saudaraku di Tumpang, termasuk si sepupuku ini. Namun, karena beliau besok ada keperluan, beliau yang datang jauh-jauh ke rumahku hari ini.

Sepupuku sudah mempunyai 3 anak. Anaknya yang pertama sudah sebesar adik laki-lakiku yang kelas 3 SMA. Jadi, pembicaraan kami tadi seputar melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Kata sepupuku, aku pasti enak karena sudah lulus S2 dan sudah akan bekerja. Alhamdulillah. Aku hanya tersenyum. I don’t know how to explain. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena sudah lulus kuliah di luar negeri, tapi aku masih merasa belum apa-apa. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan aku juga masih harus banyak belajar.

Pokoknya aku mau kuliah, aku gak gelem kerja koyok sampean. Lanjut cerita sepupuku. Dia bilang anaknya yang sulung pokoknya ingin lanjut kuliah karena tidak ingin bekerja seperti bapaknya. Sepupuku dan suaminya adalah wiraswasta. Mereka memang dari keluarga yang selalu struggle di masalah finansial dari dulu. Jadi ketika mereka bertanya kepada ibuku berapa biaya kuliah, dan ibuku menjawab berdasarkan biaya adikku yang mahasiswa baru sekarang, ekspresi wajah mereka berubah. Dan aku paham. Tidak semua orang bisa mengakses bangku pendidikan karena biaya perkuliahan yang tinggi.

Kalau dibandingkan dengan anak sepupuku, aku dan dia mempunyai equality of opportunity berbeda. Equality of opportunity itu apa? Aku jelaskan pakai analogi.

Misalnya di sekolah ada beberapa murid yang terdiri dari murid Tuli, murid tuna netra, murid tuna daksa, dan murid non-disabilitas. Lalu kamu sebagai guru meminta murid tersebut untuk lari. Jika kamu tidak memberikan tools khusus untuk murid tuna netra dan tuna daksa, maka tentu itu tidak adil dan mereka tidak akan mendapatkan kesempatan untuk ‘sesukses’ murid-murid yang lainnya. Equality of opportunity berhubungan dengan kesempatan dan akses. Setiap murid tentu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, dan bahkan beberapa dari mereka mempunyai kebutuhan khusus. Pertanyaannya apakah mereka dituntut untuk sama-sama sukses di level yang sama? Tentu tidak. Equality of opportunity setidaknya memberi mereka kesempatan at least bahwa mereka bisa berprestasi semaksimal mungkin.

Analogi yang lain, misalnya main uno. Siapa yang bisa menang main uno? Random banget. Namun kalau dihubungkan dengan Equality of opportunity, maka setiap pemain uno harus mempunyai starting point yang sama agar mempunyai kesempatan untuk bisa sukses atau bisa menang. Setiap pemain mempunyai jumlah kartu dengan jumlah yang sama dan sama-sama acak. Maka, setiap pemain juga mempunyai kesempatan yang menang. It is all about opportunity, starting point, and access. Di bidang pendidikan, maka setiap murid harus dapat mengakses resources yang sama, apapun itu disabilities mereka atau kekurangan mereka.

Aku dan anak sepupuku sekolah di tempat yang berbeda. Ketika SD sampai SMA aku sekolah di kota, sedangkan dia di kabupaten. Aku merasa nilaiku bagus karena aku mempunyai kesempatan; materi sekolah yang advance dan guru yang mumpuni. Sepupuku concern dengan nilai anaknya karena rata-rata rapotnyanya di bawah 8. Namun aku merasa itu bukan berarti si anak bodoh, aku merasa dia tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan aku. Aku merasa -dan di lapangan memang begitu- sekolah di kota lebih ‘menguntungkan’ karena resources lebih banyak dan materi lebih advance dari mereka yang sekolah di kabupaten. Buktinya juga ketika nilai ujian nasional dibandingkan antara sekolah-sekolah di kota dan kabupaten, sekolah-sekolah di kota mempunyai rata-rata nilai ujian nasional yang lebih bagus dari kabupaten. Di Malang selalu begitu, mungkin bisa saja di daerah kalian berbeda. Sekolah-sekolah di kota dan kabupaten mempunyai outcome yang berbeda. Ini mengarah ke opportunity of outcome. Seharusnya jika pemerintah ingin semua sekolah memiliki outcome yang sama -setidaknya mirip, bukan sama persis- maka pemerintah harus memberikan sumber daya pendidikan lebih bagi sekolah-sekolah di daerah.

Jadi, aku juga merasa kami yang sekolah di kota sedikit lebih mudah untuk melanjutkan kuliah. Walaupun ini tidak selalu benar karena adikku tidak lolos ujian tulis PTN, sehingga dia harus masuk kuliah dengan ujian mandiri. Dan lagi-lagi ini perkara kesempatan. Aku dan adikku beruntung bisa berkuliah S1 karena kami mampu secara finansial, sedangkan tentu tidak semua orang mempunyai keadaan yang sama, termasuk tanteku.

Tidak banyak yang bisa kami perbuat untuk keluarga tanteku ini. Ibuku dan aku hanya bisa memberikan berbagai macam opsi termasuk jalur beasiswa yang dapat ditempuh untuk anaknya, misalnya ada jalur Bidik Misi, kalau tidak lolos, ada jalur undangan dan tes tulis. Lalu ketika kuliah pun banyak juga beasiswa yang bisa dicoba.

Jadi, kalau misalnya ada yang bertanya lagi bagaiamana perasaanku ketika sudah lulus kuliah, biasa saja. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini, tetapi karena aku merasa aku belum apa-apa, banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan, dan juga masih harus banyak belajar, lulus kuliah S2 itu bukan ‘end game’.

It is just a start of a new beginning.

8 thoughts on “Equality of Opportunity

  1. Nice post. Setuju banget sih ini. Dalam konteks pendidikan, equality of opportunity bisa berasa banget antara sekolah di kota dan desa. Saya pun termasuk golongan yang “lebih beruntung” dengan bersekolah di kota. Syukurnya ada banyak alternatif untuk berkuliah murah sekarang. Bidikmisi salah satunya. Atau tertarik sekolah dinas mungkin mbak? Ada beberapa sekolah kedinasan yang bebas biaya semester namun dengan kualitas jempolan (baca: STIS).

    Semoga anak sepupunya bisa mengikuti pendidikan kuliah terbaik yang diinginkan (y)

    Liked by 1 person

      1. Ehm maksudnya, kan setiap orang belum tentu sama-sama punya privilese. Karena itu, lalu equality of opportunity itu ada?

        Kayak contoh analogi tadi, antara siswa berkebutuhan khusus dan tidak.
        Karena yang satu punya privilese (bisa dengar/liat aba-aba) dan yang satu kebalikannya.

        Tidak punya privilese = beda starting poin = muncullah equality of opportunity.

        Equality of opportunity nantinya membuat yang tidak punya privilese jadi punya kesempatan juga.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s