Barbie Snag on Weds

Barbie Snag on Weds

Untuk memperkuat sosialisasi bahasa keduaku, aku mengikuti banyak kegiatan volunteer di kampus. Selain ‘memaksa’ku untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan orang-orang berbagai budaya dan aksen, aku suka karena kampus suka memberi kaos dan jaket gratis kepada volunteer. ๐Ÿ˜Œ Siapa yang tidak bangga memakai hoodie apparel kampus?

Kali ini aku menjadi volunteer Wednesday Session. Di Kampus Monash, setiap Hari Rabu selalu ada makanan dan minuman gratis dan juga band indie. Mendengarkan band-band indie Australia aku pikir juga memperkuat kognitifku pada bahasa keduaku, Bahasa Inggris, yang tengah aku pelajari.

Shift-ku pukul 10.00 sampai 11.00, tetapi aku malah bangun pukul 10.15. Pasalnya, aku masih jetlag, dan aku baru bisa tidur setelah subuh. Apalagi subuh tadi hujan, dan hujan adalah hawa paling enak untuk tidur. Aku hanya berniat tidur satu jam saja dan sudah men-setel alarm, tetapi entah kenapa aku tidak dengar dan terlelap sampai pukul 10. Alhasil, aku segera buru-buru merbersihkan diri, dan aku mengganti shift-ku yang jam 10, jadi jam 11. Untung saja rumahku dekat dengan kampus, yang hanya berjarak 15 menit jalan kaki.

Sesampainya di kampus, aku langsung pergi ke kantor – ambil jaket gratis – dan langsung ke lokasi.

Di lokasi aku kebagian bagi-bagi makanan atau serving. Kalau BBQ atau masak sosis, aku kurang tertarik karena pasti terkena ter-ekspos asap panggangan di sana dan aku kurang tahu cara memanggang sosis. Kalau untuk minuman, harus volunteer yang mempunyai RSA (Responsible Service of Alcohol Victoria). Sepertinya beberapa minuman kaleng yang disedikan ada yang alcohol option. Awalnya, aku bagi-bagi sup, setelah sup habis, kami membagikan sosis.

Nah, ketika bagi-bagi sosis, aku kebagian bagi-bagi sosis daging babi, jadi aku pakai sarung tangan agar tanganku tetap bersih. Ujung-ujungnya aku juga tetap terkena asap panggangan, daging babi pula. Aku jadi ingat kasus di Indonesia yang ada orang islam protes ke tetangganya karena tetangganya masak daging babi. Waduh badanku udah tercemar model gimana kalau kayak gini ๐Ÿ™Š.

Namun, aku ngerasa justru ketika aku bagi-bagi sosis daging babi, aku bisa ngasih tahu temen-temen yang kira-kira Islam, kalau yang aku bagi itu daging babi. Pasalnya, aku lihat volunteer sebelumnya ketika menaruh sosis di atas roti yang mereka bawa, mereka langsung asal taruh aja, tanpa ngasih tahu daging apa. Yah, maklum, mungkin tidak semua orang punya awareness bahwa orang islam tidak makan daging babi. I’m cool with that. Mahasiswa baru pun yang kebanyakan internasional, aku merasa beberapa dari mereka yang islam tidak bertanya dahulu. Jadi ketika pas aku ngomong, “Ini daging babi”, mereka baru ngeh dan memutuskan untuk ambil sosis ayam di tray sebelah.

Lucunya, tadi itu, sosis daging babi cepat sekali matang, sedangkan sosis ayam lama sekali sampai berjam-jam, sehingga banyak antrian mahasiswa muslim yang menunggu sosis ayam. Sambil menunggu, mereka mengobrol, ada Samir dan Hasan, *bukan nama asli. Kalau di Bahasa Indonesiakan kira-kira seperti ini:

“Ambil daging babi lah yuk”, kata Samir.

“Hah, seriusan?”

“Iya, gapapa deh.”

“Nggak deh, aku nunggu ayam aja”.

“Iya deh aku juga”.

Lantas aku bilang, “Ini menguji keimananmu nih”, kemudian mereka tertawa.

Tetapi keimanan mereka tidak diuji di situ.

Karena tempat panggangan ayam lama sekali, sosis-sosis ayam dipindah ke bagian panggangan daging babi. Lalu, si Hasan bilang, “Eh itu tolong kasih tahu panitia-nya”. Lantas, aku bilang ke mereka yang bagian panggang-memanggang, kok dipindah?

“Iya, ga mateng-mateng soalnya”, kata Roni.

“Tapi jangan dipindah soalnya orang islam gabisa makan daging babi”, kurang lebih aku bilang seperti itu. Sebenarnya aku juga agak bingung menjelaskannya bagaimana karena, dan si Roni mukanya juga bingung dan sibuk banget.

Kemudian aku bilang lagi, “Maaf soalnya sosis ayam itu satu-satunya halal option, kalau kamu campur, mereka gabisa makan”.

“Oh maaf, soalnya aku cuman gamau sosis ayam-nya ga mateng-mateng”.

Akhirnya sampai di situ, sisa sosis ayam yang lain tidak dicampur. Sebenarnya di situ masalah sudah kelar, tetapi ada satu volunteer yang dia jutek banget. Hasan juga komplain ke dia ini, tapi dia tidak paham akar masalahnya dan dia malah bilang dengan muka jutek yang kasarannya seperti ini, “Ini itu makanan gratis, yaudah sabar aja nunggu, nanti juga mateng”. Aku ngga mau memperkeruh suasana, aku langsung aja bilang kalau sosis ayam-nya sudah mau matang. Dan emang bener sih, akhirnya matang juga dan mahasiswa-mahasiswa muslim yang sudah antri panjang akhirnya bisa makan juga.

Si volunteer yang jutek itu, aku juga ngga tahu masalah dia apa dan bagaimana. Dia tanya ke aku dan temanku yang Malaysia begini, “Kalian asalnya dari mana?”

“Indonesia.”

“Malaysia.”

“Iya, kok mirip banget?”

“Mirip apanya? Kalau kamu asalnya dari mana? Vietnam? Filipina?”. Then, she rolled her eyes, and just went somewhere without ansering my question. Dia marah ditanya seperti itu.

Banyak yang aku pelajari hari ini. Salah satunya adalah bagaimana mereka memanggang sosis. Memang yang ayam halal, tapi kadang bisa saja mereka campur alat panggangnya. Kalau yang baca ini mahasiswa Monash, mending kalau makan sosis BBQ, kalian ambil BBQ punya MUIS (Monash University Islamic Socety) karena insyaallah dijamin halal, jangan ambil di bagian MSA (Monash Student Association).

ps: Dalam bahasa slang Australia, ‘barbecue’ disebut ‘barbie’ dan ‘sausage’ disebut ‘snag’


4 thoughts on “Barbie Snag on Weds

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s