Aku, Kamu. Kita?

Aku, Kamu. Kita?

Aku, Nata, dan Arin sedang edit buku. Buku kami terdiri dari beberapa penulis. Setiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda. Nah, tugas kami adalah menyatukan tulisan-tulisan tersebut agar roh-nya sama.

Buku tersebut dimulai pada tahun 2016/2017. Sempat berhenti. Lalu aku ingat kembali dengan buku tersebut awal tahun ini karena sesuatu. Kami benar-benar ingin buku ini terbit, karena sayang kalau tidak terbit. Cuman ada beberapa hal yang menurut kami kurang, jadi masih saja terus diedit. Sekarang, Arin yang sedang aktif berproses mengedit buku tersebut. Aku dan Nata masih stuck.

Suatu ketika, Arin bertanya, “Eh, ini satu paragraf ada yang pake ‘saya’ terus pake ‘aku’ juga?”

“Pakai kata ‘aku’ aja. Aku ngerasa lebih deket dengan penulis ketika dia bilang aku”.

“Ada teori psikologinya ga sih itu? Or just you. Soalnya temenku juga gitu”.

Nah, aku jadi ingat kuliahku dulu, bahwa pronoun yang kita gunakan ke orang lain itu bisa mempengaruhi kedekatan kita dengan orang lain. Kalau di buku Heather Bowe dan Kylie Martin berjudul ‘Communication Across Cultures’, pronoun of address menentukan hubungan pembicara dan pendengar pada dua dimensi tertentu, yaitu power atau status dan solidarity atau intimacy. Pronoun of address itu maksudnya kata ganti yang kita gunakan untuk menyapa/memanggil seseorang, contohnya kalau Bahasa Indonesia adalah kamu dan anda. Kalau Bahasa Jawa banyak sekali dari halus sampai kasar, misalnya, sampean, njenengan, awakmu, kon. Kalau Bahasa Inggris cuman satu, yaitu, you.

Gampangnya nih, pada dimensi power, terdapat hubungan superior-inferior. Kalau dalam Bahasa Inggris, aku pikir hampir tidak ada hubungan superior-inferior karena anak ke orangtua atau mahasiswa ke dosen kalau manggil tetep ‘kamu’, sedangkan kalau di Bahasa Indonesia seorang anak tidak bisa memanggil orangtua ‘kamu’ karena ada hubungan superior-inferior. Apalagi Bahasa Jawa, bahasa menentukan dengan siapa kamu berbicara. Kalau orangtuaku udah manggil aku ‘kon‘, dalam hati aku mbatin, salah apa aku nih?

Pada dimensti solidarity atau intimacy, tidak ada hubungan superior-inferior, tetapi lebih ke hubungan kedekatan pembicara dan interlokutornya. Contohnya, kalau orang Jawa Barat kalau sudah dekat dengan temannya pasti manggilnya lo-gue, tetapi kalau panggilan tersebut shift menjadi aku-kamu, kebaperan terjadi. Kalau di Bima, orang suka menyebut dirinya sendiri ‘saya’. Bagi orang Jawa Timur, memanggil diri sendiri ‘saya’ terlampau formal. Aku dulu pernah ada teman dari Bima suka bilang saya-saya, dan aku jadinya merasa dia jaga jarak dengan aku. Padahal memang kalau di Bima orang bilang ‘saya’ itu sudah umum sekali, sedangkan jika memakai kata ‘aku’ kesannya jadi manja.

Kalau aku? Aku biasanya pakai kata ‘saya’ kalau ingin bersikap sopan, misalnya sedang berbicara dengan yang lebih tua. Selain itu aku juga pakai kalau ingin menjaga jarak dengan orang lain, atau ga pengen deket-deket banget dengan orang tersebut. Aku pakai kata ‘aku’ kalau ke teman-teman dan ke orang asing yang aku ingin akrab dengan orang tersebut, atau aku ingin bersikap casual aja. Aku menyebut namaku sendiri, Gadis, kalau misalnya ingin bersikap teramat sangat sopan.

Kalau memanggil teman yang lebih tua, biasanya aku jarang pakai embel-embel ‘mbak’ atau ‘mas’, karena aku ingin dekat dengan mereka tanpa ada hubungan superior-inferior. Aku pun jarang mau dipanggil ‘mbak’ dengan teman yang lebih muda, karena kadang aku merasa mereka menghormatiku dengan berlebihan, padahal aku maunya hubungan kita equal aja tanpa dimensi power itu tadi.

Aku juga kurang suka dipanggil tante. Pasalnya, namaku Gadis. Lalu, dipanggil Tante Gadis. Aku merasa aneh.

Namun, sayangnya ternyata ada teman yang dia protes karena dia tidak aku panggil ‘mbak’, padahal sebenarnya maksud aku biar kita bisa lebih dekat. Tapi ya tidak apa sih. Pada akhirnya aku panggil dia mbak, dan memang benar, kita sebenarnya bukan even teman. 😌

Kemudian kalau sedang menulis, hubungannya dengan pembaca apa?

Menurutku memang tergantung genre tulisanmu, sedangkan buku yang kami garap yang ngga jadi-jadi ini, lebih cocok kalau penulis menulis ‘aku’. Aku pun ketika membaca cerita teman-teman, dan mereka menulis ‘aku, aku jadi merasa dekat dengan mereka dan menjadi bagian dari cerita.

Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa memang sebenarnya seru kalau dikaji tentang naming dan addressing, karena kalau Bahasa Inggris memang budayanya tidak ada budaya superior-inferior (aku lupa istilah khususnya), jadi panggilan cuman ‘I’ dan ‘You’. Coba deh dengerin lagunya Vera Blue – Like I Remember You. Kita tidak bisa menelaah kedekatan seseorang melalui pronoun of addressnya, tapi harus lewat konteks.

This Vera Blue song is my favorite song of the week. It is such an eargasm. Just listen to the music. And because today’s topic is about pronoun of address, it reminds me of how my ex-partner called me. It is amazing that one specific pronoun could make my day. I didn’t know how he knew it, but he knew it and I loved it. It was a bad breakup, unfortunately. It was inevitable in anyways I tried to make peace. So, that’s it.

Keep falling on a loaded gun, do you remember me like I remember you?

5 thoughts on “Aku, Kamu. Kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s