Teori Sosialisasi Bahasa Kedua

Teori Sosialisasi Bahasa Kedua

SLA (Second Language Acquisition) adalah mata kuliah yang paling aku suka yang aku harap bisa ambil di awal-awal semester. Alasannya karena ketika mempelajari teori-teori tentang SLA, sebagai pembelajar Bahasa, hampir semua teori yang aku pelajari bisa aku refleksikan dalam kehidupanku sehari-hari. Namun sayangnya karena mata kuliah ini adalah mata kuliah inti, atau core istilahnya, kami harus mengambil beberapa mata kuliah dulu sebelum mengambil mata kuliah ini. Padahal jika aku mempelajari semua hal tentang SLA pada tahun pertama aku kuliah di Australia, aku yakin hal tersebut akan membantu aku untuk belajar dan memahami Bahasa Inggris di Australia secara cepat.

Salah satu teori yang aku bahas kali ini adalah second language socialisation atau sosialisasi bahasa kedua. Teori ini aku pelajari di minggu ke-10, dan yang aku bahas kali ini cuman secuil dari materi minggu ke-10. Kenapa cuman bahas ini? Biar fokus bahasannya. Selain itu semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin sekarang sedang di luar negeri dan berproses mempelajari Bahasa kedua. Dan bisa juga sebagai awareness untuk teman yang di dalam negeri yang sedang belajar Bahasa Inggris, bahwa jika kita mempelajari Bahasa, tidak cukup jika kita hanya mempelajari bahasanya seperti kosakata atau grammar, tanpa budaya. Bahasa dan budaya itu intertwined.

Kalau kata Duff (2007) dalam bukunya Ortega (2009) berjudul “Understanding Language Acquisition” studi tentang sosialisasi bahasa kedua merekonseptualisasikan bahwa lingkungan social kita tidak hanya membantu proses belajar Bahasa tetapi juga membantu outcome-nya. Jadi, ketika kita bisa merekonseptualisasi Bahasa yang kita pelajari dengan lingkungan sekitar, pemahaman kita tentang Bahasa sudah sampai ke meta-cognition level.

Contohnya begini, dalam penelitiannya, Duff memberi contoh seseorang yang sedang mempelajari Bahasa Indonesia sebagai Bahasa kedua. Lalu si pembelajar ternyata bisa mempelajari bahwa, oh, Orang Indonesia itu melihat makanan dari sisi enak atau nggak-nya. Istilah yang sekarang lagi hits: ‘endolita’, yang artinya enak banget. Beda dengan orang Barat yang melihat makanan dari sehat atau tidak misal makanan ini sehat atau tidak, vegan atau non-vegan, dairy-free atau tidak. Berdasarkan pengalamanku di Australia memang, hamper semua produk makanan pasti ada tulisannya apakan produk tersebut vegan, dairy-free, dan lain sebagainya.

Nah, si bule yang belajar Bahasa Indonesia itu yang berhasil merekonseptualisasikan gaya hidup, dia berhasil menambah kosakata Bahasa Indonesia tentang makanan dan masakan. Dia bisa mempelajari discourse, pragmatic, dan norma-norma orang Indonesia. Ketika dia bisa mempelajari budaya kita, maka dia bisa belajar Indonesia dengan cepat dan pemahamannya sudah sampai level meta kognitif.

Kalau aku? Kebalikannya. Ketika aku mempelajari teori, aku ngerasa teori ini mind-blowing, karena sangat relevan dengan yang aku rasakan dan aku lakukan. Ketika semester dua, aku mulai aktif melibatkan diriku dengan orang-orang lokal, salah satunya ikut kegiatan volunteer di kampus dan di social masyarakat, karena aku ingin Bahasa Inggrisku lebih fasih dan aku ingin memahami Orang Australia itu bagaimana sih. Lalu di semester ke-tiga aku mulai mengubah pola makan dan gaya hidup. Memang proses sudah dari semester satu, tetapi ketika semester tiga, aku merasa perubahanku cukup drastis. Komunikasi dengan orang-orang lokal, sok-sok curhat gitu. Dan aku menemukan pola misalnya, Orang Australia itu kalau ngomong suka nambah kaya ‘yeh’ di belakang kalimat. “Today is kinda hot, yeh?”. Pola makanku yang berubah misalnya aku makan makanan sehat, clean eating, minum kopi tanpa gula dan ngopinya di pagi hari. Aku tahu istilah perkopian. Aku tahu bedanya vegan atau vegetarian itu apa. Jadi, dengan merekonseptualisasi dengan lingkungan sekitar, aku bisa belajar Bahasa dan budaya, dan itu dalam level meta kognitif.

Itu kalau di luar negeri, tetapi kalau teman-teman yang sedang di Indonesia mungkin kalian mikir agak susah ya, karena kita ngomong Bahasa Inggris-kan cuman di kelas, atau bahkan ga ad akelas Bahasa Inggris. Bahasa Inggris paling cuman di film dan itu pun baca subtitle-nya.

Nah, sebenarnya ketika menonton film barat, itu kita bisa belajar Bahasa dan budayanya loh. Misalnya sekarang aku lagi nonton Walking Dead. Film ini konteksnya pakai Bahasa Inggris Amerika ya. Ketika aku nonton film ini, aku bisa belajar orang ‘sana’ kalau berkomunikasi dengan orang tua-nya seperti itu dan diksi-nya seperti itu. Aku juga belajar budaya bagaimana orang tua menasihati anak, kan beda tuh dengan budaya Indonesia. Coba juga subtitle-nya pakai Bahasa Inggris, jadi kamu bisa belajar listening, pronounciation, reading, dan vocab secara sekaligus.

Kesimpulannya, ketika belajar Bahasa, kita juga harus belajar budayanya. Ketika sedang di luar negeri, jika kita bisa merekonseptualisasikan Bahasa dengan lingkungan sekitar, kita bisa lebih ngeh dengan Bahasa yang kita pelajari tersebut. Kalau pun kita tidak di dalam negeri, kita bisa belajar melalui media yang ada.

3 thoughts on “Teori Sosialisasi Bahasa Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s