Makna Referensial: (Unicorn yang onlen-onlen itu?)

Makna Referensial: (Unicorn yang onlen-onlen itu?)

Beberapa hari lalu, aku lihat soal-soal Bahasa Indonesia USBN adikku yang kelas 12. Adikku memang Bahasa Indonesia-nya jago. Nilai Bahasa Indonesianya bagus, dan, in fact, terbagus dari nilai-nilai yang lain. Ada satu soal yang menurutku menarik, tentang kata yang mengandung makna referensial.

Aku de javu, karena aku seperti pernah mempelajarinya. Setelah adikku menjelaskan, oh ternyata aku pernah baca itu di buku semantik, dan istilah Bahasa Inggris-nya reference. Aku baru tahu kalau di Bahasa Indonesia-kan jadi referensial.

Sebuah kata bisa disebut bermakna refensial jika dia mengandung makna yang pragmatis. Kata tersebut diartikan benar-benar dari konteksnya, dan artinya tergantung dari si pembicara. Misalnya, tergantung dari si pembicara kapan bicaranya, acara apa, waktunya kapan, dan lain-lain. Jadi intinya, tergantung konteks. Sebenarnya dalam semantik selain reference, ada juga sense yang merupakan makna kontekstual dari kamus; denotasi, ekstensi, dan intensi. Namun, dalam pemaknaan kata kali ini, aku hanya membahas tentang kata bermakna refensial.

Oh ya, beberapa artikel di blog yang aku baca tentang makna referensi memiliki definisi yang berbeda dari aku. Contohnya blog ini dan blog ini. Tulisan mereka sama persis. Gatau deh siapa yang duluan menulis. Blog tersebut memberi contoh kata referensi adalah ‘meja’ dan ‘kursi’, karena mereka punya acuan dan kita sama-sama tahu apa itu meja dan apa itu kursi. Namun, dari yang aku baca, ‘meja’ dan ‘kursi’ adalah kata yang mengandung makna sense, yang mengandung makna kontekstual dari kamus, kecuali kalau kalimatnya berubah jadi begini, maka akan menjadi kata yang bermakna referensial:

(a) Mejaku kamu coret-coret ya?

(b) Kursimu kok bagus banget?

Ketika pembicara berbicara ‘mejaku’ pada kalimat (a) maknanya berubah menjadi kata bermakna referensial, karena konteksnya berubah menjadi mejanya pembicara (a), bukan sembarang meja. ‘Mejaku’ pada kalimat (a) ada acuannya meja yang mana. Begitu pula pada kalimat (b).

Dalam contoh ini memang pembicara dan pendengar, atau interlokutor istilahnya, harus mempunyai common ground yang sama agar memahami konteks.

Sekarang kita bahas contohnya kata referensi yang lain!

Ada temanku yang sudah menikah, dia suka cerita tentang mas-nya. Namun, mas yang dia maksud ini bukan mas dalam artian saudara laki-laki yang lebih tua. Dia manggil suami-nya ‘mas’. Kata ‘mas’ yang sering dia pakai ini mengandung makna referensial, karena kalau kita tidak tahu konteksnya, maka kita bisa saja mengira kalau yang dia ceritakan itu kakaknya, bukan suaminya.

Waktu itu aku bisa menerka kalau yang dia sebut ‘mas’ itu suaminya dari ceritanya, kalau dia punya bayi dan biasanya dia akan begini dan begitu dengan si-mas. Lalu dia juga cerita kalau dia sebenarnya tidak pernah memanggil suaminya mas, tetapi kalau membahasakan ke orang lain, dia manggilnya mas. Aku juga sempat tanya ke dia waktu itu kenapa kok bilang ke orang lain, bilangnya, ‘masku’ bukan ‘suamiku’, karena menurutku ini hal yang unik dan aku selalu mempertanyakan hal-hal yang tidak biasa.

Contoh kedua, pada nonton debat presiden yang kedua ngga nih?

(c) “Infrastruktur apa, yang akan bapak bangun, untuk membangun pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?”

(d) “Yang bapak maksud unicorn. Unicorn. Maksudnya apa itu, yang online-online itu?”

Sebelumnya, aku disclaimer dulu ya, bahwa aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan salah satu paslon; dan postingan ini tidak bermaksud bahwa pasti aku akan memilih paslon A atau paslon B. Namun, dua kalimat di atas bagus untuk dibahas.

Pada kalimat (c), kata ‘unicorn’ jelas merupakan makna referensial, bukan sense. Pada kamus memang terdapat beberapa makna unicorn, tetapi dalam kalimat (c) menjadi makna referensial karena jelas bahwa pembicara di kalimat (c) mengacu pada kata tertentu. Konteksnya apa? Konteksnya jelas bahwa ada kata ‘infrastruktur’ dan jelas unicorn yang dimaksud itu bukan kuda bersayap.

Interlokutor pada kalimat (d) tampaknya memiliki common ground yang agak sama dengan pembicara (c). Aku bilang agak, karena dia sepertinya agak kurang yakin dengan apa yang dimaksud unicorn, tetapi dia bisa menebak bahwa unicorn yang onlen-onlen itu kan?

Untung yah, bisa nebak. Kalau aku mungkin, “Hah, unicorn?”, karena aku dan pembicara (c) tidak mempunyai common ground yang sama.

Tapi kalau dibahas atau dianalisis jawaban kelanjutan interlokutor (d) itu (…) ngga jadi deh, ntar jadinya discourse analysis dong, bukan semantik. 😌 Jadi itu ya penjelasanku tentang kata bermakna referensial. Semoga kalian paham dan senang! 😌

ps:

Ketika aku menulis pembicara (c) dan (d) itu termasuk kata bermakna referensial karena kita sama-sama tahu siapa dan kita mempunyai common ground yang sama. 🙊


Referensi:

Allan, K. 2001. Natural language semantic. USA: Blackwell Publishers

Allan, K., Bradshaw, J., Finch, G., Burridge, K., & Heydon, G. 2010. The English language and Linguistics companion. UK: Palgrave Macmillan

2 thoughts on “Makna Referensial: (Unicorn yang onlen-onlen itu?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s