Indonesia Gawat Toleransi?

Indonesia Gawat Toleransi?

Jiu Jiu, nama Restauran Jepang tersebut. Tahun 2018, restauran tersebut adalah satu-satunya Restauran Jepang yang menyediakan Ramen dan Udon di suburbtempat kami tinggal. Letaknya pun di pojokan dan restaurannya tidak mewah-mewah amat. Kalau di Indonesia, modelnya seperti warung pinggir jalan. Tapi bersih, rapi, dan restaurannya ke-Jepang-Jepangan banget karena banyak tulisan hiragana-katakan beserta hiasan-hiasan Jepang.

Aku dan teman-teman saat itu sedang craving for ramen, sehingga kami memutuskan makan di tempat tersebut. Tidak ada tulisan halal di restaurannya, tapi biasanya ada banyak pilihan ramen dari chicken ramen sampai vegetarian ramen. Porkatau daging babi di ramen cuman sebagai hiasan atau toppingbiasanya.Kuah ramen pun biasanya bisa milih miso atau chicken atau apalah. Jadi, insyaallah aman.

Setelah melihat-lihat menu, kami pun siap memesan.

“Can I have this and this. Saya boleh pesan ini dan ini?” kataku sambai menunjuk chicken ramen dan takoyaki.

“Sorry, these one has pork in it. Maaf ini ada babinya”.

“Sorry all of the ramen we have has pork base. The free pork option is udon. Maaf kalau ramen ada babinya semuanya. Yang ngga ada babinya cuman udon.”

Aku berjilbab dan dia tahu bahwa identitasku Islam. Saat itu aku cukup terkejut karena dia sudah tahu bahwa orang Islam dan orang Islam tidak makan babi. Aku terkejut, karena di Australia, Muslim adalah minoritas; jadi ketika dia tahu aku muslim dan tidak makan babi, dan dia kasih tahu aku sebelum aku bertanya bahkan, aku benar-benar menghargai orang tersebut. Dia tidak membiarkan aku makan babi, padahal bisa jadi itu bukan urusannya.

Aku bersyukur bahwa aku diajari Allah SWT untuk menghargai orang lain dengan cara-cara seperti ini; bahwa aku merasakan sendiri betapa bahagianya aku ketika ada orang yang beda keyakinan dengan aku, tapi sangat menghargaiku dengan pilihan-pilihan hidupku. 


Ayahku punya teman dekat non-muslim. Tidak dekat-dekat banget dalam artian sering curhat, tapi dekat karena ayah sering langganan menjahit di orang ini. Suatu ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba si tante membahas Bakso yang ada di Malang.

Heh ikulo Bakso ********* onok babine. Eh ini lo Bakso ********* ada babinya.”

Loh iyo tah, Te?” kata ayahku. Beliau manggil dia tante. “Mosok se, Te?”

Loh iyo lek awak-awak ngene iki wes eroh.”

“Lek Bakso Damas onok?”

Gaonok.”

“Bakso Kota?

Gaonok.”

“Ku loh Bakso ********* onok babine. Uenak.”

Ya wallahualam sih ya bener atau ngga ada babinya atau engga, karena tidak ada fakta tertulis. Sehingga aku tidak akan memberitahu kalian bakso yang aku maksud karena aku khawatir kalau ini tidak benar justru akan mencemarkan nama baik. Toh, si tante tidak memberi tahu dia tahunya darimana.

Namun, jika ini benar bahwa baksonya ada babinya, wah! Kok bisa setega itu demi mencari uang. Aku pernah makan di bakso itu dan pegawainya ada yang muslim. Makanya aku percaya tidak percaya ketika si tante bilang ada daging babi di bakso tersebut. Tapi untuk menjaga, aku tidak akan makan lagi di bakso tersebut. Tapi sayangnya, maaf ya, aku tidak bisa memberi tahu kalian, dan semoga isu ini tidak benar.

Selain membahas bakso, si tante juga bilang kalau cilok-cilok yang dijual di sepanjang Jalan Veteran sampai Matos dan yang di sebelah SMAN 8 itu terbuat dari daging tikus. Tante juga cerita kalau tikusnya itu sengaja diternah, jadi bukan tikus-tikus yang nyari di got. Kalau ini, aku percaya benar adanya, karena pernah ada mahasiswa UB yang meneliti ini dan menunjukkan bukti data bahwa ada daging tikus di cilok-cilok tersebut. Nah, buat teman-teman di Malang lebih baik jangan beli cilok di sana ya! Tapi wallahualam kalau pedagangnya sudah tobat dan ga jualan cilok pakai daging tikus. Ya terserah kalian kalau mau tetap beli daging di sana (haha).


Aku sudah hidup di Australia selama 1,5 tahun. Negara bukan mayoritas islam, tetapi aku merasa negara ini islam banget. Salah satu alasannya seperti yang aku sebutkan di atas. Mereka bukan orang Islam, atau bisa jadi bahwa tidak beragama, tetapi mereka jujur sekali. Kalau berdagang ya bener-bener berdagang. Kalau ada daging babinya, ya mereka bilang, tidak menutup-nutupi. Namun, kenapa justru di Indonesia yang mayoritas islam, malah seperti ini.

Oleh karena itu, aku jadi concern, apakah Indonesia gawat toleransi?

Beberapa hari lalu aku juga melihat postingan ini di status WA temanku. Kok sedih ya. Dan aku merasa aku jadi harus minta maaf. Aku minta maaf kepada semua teman non-muslim yang tersinggung, tidak semua orang muslim seperti ini kok.

Padahal, Islam melarangnya itu, melarang makan babi. Lantas kalau ada tetangga yang masak babi terus asapnya kemana-mana, yaudah sih. Kan yang penting kita tidak makan babi. Aduh, gatau deh. Kalau misal ada orang makan babi, yasudah, biarkan. Kita tidak perlu ikut makan babi, tetapi juga tidak perlu mencemooh orang yang makan babi.

Selain itu, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang heboh Valentine haram. Yaudah. Valentine haram memang bagi kita. Tapi kalau ada orang yang merayakan valentine, yaudah sih. Itu kan hak mereka dan keyakinan mereka juga. Aku suka tulisan ini:

Simple!

Makanya aku bertanya-tanya ada apa dengan toleransi kita. Jangan karena kita adalah mayoritas, lalu kita bisa seenaknya menindas yang minoritas. Aku bisa berbicara seperti ini karena aku sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas di negara sebelah.

Astaghfirullah.

Dan ini adalah prinsip hidup yang selama ini aku pegang:

Jangan memperlakukan orang lain sesuatu hal yang kamu tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Jadi gimana?

7 thoughts on “Indonesia Gawat Toleransi?

  1. Mungkin krn di Indonesia trllu bnyak kepura-puraan yg dibalut agama kali ya.

    Saya non muslim, punya saudara kandung yg muslim. Tapi kami hdup baik2 aja, pun ketika dikaitkan dg urusan makanan, kmi sngat menghargai dan toleran skli. Sayang disayangkan skli ketika ada penjual bakso (makanan apapun) yg demikian.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s