Curhat Thesis (2): Transkrip Data

Curhat Thesis (2): Transkrip Data

Sebelumnya, aku ingin berterimakasih kepada teman-teman yang sudah membaca dan menulis komentar di postingan aku berjudul curhat thesis. Apa yang kalian lakukan berarti banyak buat aku, karena aku kadang bingung harus bercerita kepada siapa. Kadang tidak semua orang mengerti dan memahami apa yang sedang aku kerjakan. Jadi, aku berfikir, lebih baik aku tuliskan saja di blog. Bisa jadi tulisan tentang proses menulis thesis ini bermanfaat bagi kalian yang sedang menulis skripsi dan thesis, bahwa, kalian tidak sendirian! Wahai pejuang skripsi, thesis, dan disertasi, be strong!

Ohya tulisan ini, aku sengaja tidak terlalu serius. Tulisan ini lebih seperti tentang berbagi pengalaman, suka duka yang aku kerjakan, dan mungkin aku juga akan berbagi tips. Bagi teman-teman yang sedang membaca dan ingin memberi kritik dan saran, apalagi menyemangati, boleh banget! (haha).

Selain itu perjuangan thesis-ku masih panjang, jadi aku jamin akan ada seri curhatan thesis yang banyak sekali. Dan hari ini aku ingin bercerita tentang sulitnya membagi waktu, bagaimana mengatasi diri sendiri agar tidak panik, dan transkrip data wawancara.

Liburanku di Malang tinggal dua minggu lagi. Serius, ngga terasa. Perasaanku sedih dan sedikit panik. Sebenarnya aku cukup banyak waktu untuk mengedit dan men-transkrip data. Namun, aku juga sering diajak jalan oleh keluarga. Family time, siapa sih yang mau menolak. Selain itu, aku juga ada kegiatan lain.

Aku dan temanku sedang membuat program bernama Tuli Mendongeng. Program ini kami ingin kembangkan menjadi komunitas, tetapi nanti dulu. Setidaknya kami harus ngetes program ini apakah berhasil dan bermanfaat atau tidak.

Pada program Tuli Mendongeng, kami mengajari mahasiswa Tuli untuk mendongeng. Sebenarnya nanti tujuannya bukan hanya mahasiswa saja, tetapi siapapun yang berniat dan mau mendongeng bisa gabung di program atau komunitas kami. Cuman sekarang, yang paling ideal dan cepat dijangkau, ya mahasiswa. Kami sudah mengadakan pelatihan beberapa waktu lalu di Universitas Brawijaya, bekerja sama dengan PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas). Langkah selanjutnya adalah, mahasiswa Tuli ini akan mendongeng di yayasan atau sekolah berkebutuhan khusus. Ikuti Instagram kami yah kalau tertarik ingin tahu atau mau jadi sponsor boleh banget! Kalau ingin tahu kegiatan kami juga bisa cek IGTV kami!

Temanku si Pendongeng Rizka, dan Rofi yang sedang menerjemahkan Bahasa Isyarat.

Punya program seperti ini harus punya komitmen tinggi loh. Apalagi sementara ini hanya aku dan temanku yang aktif mengurusi. Hanya kami berdua, sedangkan selebihnya memang volunteer ada tetapi mereka cuman bantu-bantu saja. Pekerjaan ini seru tapi cukup menyita banyak waktu.

Selain itu, aku berharap aku bisa menuliskan program kami dalam bentuk abstrak, lalu diunggah ke konferensi. Selain itu, aku juga ingin mengunduh abstrak pribadiku sendiri ke konferensi tersebut. Aku ingin sekali menjadi pembicara di konferensi ini: https://icdda.ub.ac.id. Coba cek tautan tersebut, siapa tahu teman-teman juga berminat ikut konferensi. 🙂 Jadi, banyak seklai hal yang ingin aku lakukan sampai aku merasa bahwa satu hari 24 jam dan satu minggu tujuh hari itu kurang.

Walaupun aku merasa tidur itu berdosa — sangking banyaknya deadline, aku tetap tidur 7-8 jam sehari. Atau bahkan 9 jam (haha). Ya memang aku suka tidur. Lalu paginya, aku sempatkan untuk berolahraga karena di Indonesia aku suka makan enak-enak dan banyak. Setelah itu aku baru akan menyempatkan untuk menulis. Menulis apa saja, dari nyicil konferensi dan thesis. Kadang aku sampai setres karena aku merasa punya cukup waktu untuk melakukan ini itu. Aku pengen santai, tapi pengen tugasku selesai haha, ya gimana dong.

Akhirnya solusinya adalah, aku tidak pernah tidur lagi setelah subuh. Tidur setelah subuh adalah haram (bagiku!). Setelah itu berolahraga dan bekerja. Setidaknya aku harus menyempatkan untuk menyicil tugas entah itu hanya satu jam. Jika lelah, aku akan bermain Plant vs Zombie dan menonton netflix. Produktif itu harus.

Lalu tentang perasaan panik. Aku adalah tipe orang yang aktif dan suka produktif. Aku menilai bahwa diriku dalam satu hari berfaedah jika aku sudah melakukan suatu hal yang bermakna. Makanya, di liburan musim panas rasa thesis ini, aku merasa proses pengambilan data dan transkrip dataku lama. Sebenarnya aku punya cukup waktu, tapi aku juga tipe orang yang tidak sabaran. Jika ada kerjaan, ingin cepat selesai. Namun, bukan berarti aku akan bekerja serampangan.

Untuk transkrip wawancara, sudah 18 data yang aku transkrip. satu rekaman suara biasanya antara 20-40 menit, tapi bahkan ada yang satu jam. Untuk menulis rekaman suara, biasanya aku butuh waktu 1-3 jam. Satu data atau naskah biasanya akan ada 2000 kata. Ketika aku baca tentang teori data kualitatif bahwa raw data-nya penelitian kualitatif itu ‘rich‘, itu beneran emang ‘rich‘. which is, ini, literally rich. Setelah itu, aku harus edit lagi transkripnya karena dosen meminta harus ada detail waktunya. Jadi misal detik ke 1, dia ngomong apa, detik kedua apa, dst. Bakal jadi detail banget transkripnya.

Pusing ya dipikir. Makanya jangan dipikir, tapi dikerjain. Itu prinsip yang selama ini selalu aku pegang.

9 thoughts on “Curhat Thesis (2): Transkrip Data

    1. ya gitu deh wkwk

      engga, responden saya mahasiswa Indonesia kok pak hehe.

      udah mau membaca sampai habis dan memberi komentar pun saya sudah berterimakasih banyak loh pak {} hehe

      Like

  1. Hi, Gadis. Terima kasih karena sudah berbagi pengalaman dan juga rasa penatmu. Semoga dengan cara ini sedikit membantu meringankan bebanmu ya.
    Saya salut sekali dengan kemauan Gadis untuk selalu aktif dan produktif, tulisan ini juga memberi saya gambaran bahwa Gadis sudah benar tahu ‘apa yang diinginkan’ dan ‘apa yang harus dilakukan’. Nah, ini penting banget, terutama untuk mengatur waktu untuk kegiatan sehari-hari.

    Gadis sudah melakukan yang terbaik, yang perlu dilakukan sekarang hanyalah bersabar. Bersabar untuk menjalani segala proses perjuangan ini sampai tuntas. Tidak perlu memaksakan diri sampai terlalu, biarkan dirimu merasakan setiap jengkal perjuanganmu ya, sewajarnya. Saya tahu penelitian kualitatif itu sangat tidak mudah, butuh banyak kesabaran untuk menyelesaikan setiap transkrip data.

    Semnagat ya, Gadis!

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s