Curhat Thesis

Curhat Thesis

Kalau zaman skripsian dulu, ada namanya panduan skripsi. Didalamnya sudah lengkap dari susunan skripsi sampai cara mereferensi. Jadi, sebenarnya ya tinggal dibaca.

Kalau sekarang, mana ada panduan thesis. Sebenarnya kalau susunan thesis kami sudah pernah diajari pada matakuliah Research Method, yang aku sudah ambil pada semester dua malah. Cara referensi juga sudah terlatih dari semester satu, karena pasti sama aja dan itu-itu aja. Panduannya bisa klik di sini kalau mau baca.

Penampakan kampus tercinta

Tapi menurutku panduan thesis tetap penting, misalnya ada timeline pengerjaan thesis, berapa ribu kata yang harus ditulis di setiap bab, dan lain sebagainya.

Sejujurnya aku agak lost, sih, karena dalam pengerjaan thesis benar-benar kita harus menjadi mahasiswa yang mandiri dan kita harus tahu benar-benar apa yang harus kita lakukan. Aku tidak tahu bagaimana teman-teman yang kuliah di dalam negeri yang mengerjakan thesis, yet I’m keen to know kok, so feel free to share.

Aku merasa, dosen hanya membantu mengarahkan dan membetulkan kalau aku salah. Jadi, aku yang harus aktif bertanya, bertanya, dan bertanya. Awalnya aku merasa malu dan enggan bertanya, tapi lama-lama aku merasa rugi sendiri dan progress-ku juga lama. Dosen sebenarnya juga baik. Dia jawabannya baik-baik, selalu sopan, dan tepat waktu. Dosenku biasanya selalu membalas di jam kerja. Tapi ya begitu, harus aku duluan yang memulai bertanya atau memulai mengerjakan. Mana ada dosen bilang, “Dis, kamu sekarang begini dan begitu”.

Makanya ketika ayahku bercerita bahwa beliau punya group WhatsApp anak skripsian, aku merasa justru itu enak sekali. Pertama, kalau misal butuh dosen, tinggal WhatsApp saja di group atau kirim pesan japri (jaringan pribadi). Kedua, bapakku kalau ingin memberi pengumuman atau perintah juga mudah. Bahasa yang digunakan juga tetap resmi, tetapi singkat padat jelas.

Sedangkan aku kalau pasti melalu email yang aku harus mikir pendahuluan, inti, dan penutup (haha!). Aku tumbuh-besar di Indonesia yang tidak terlu pakai email kecuali untuk registrasi akun. Jadi, untuk aku, it’s a little bit a big deal!

Percakapan email terakhir kami 17 Januari lalu. Aku belum meng-email dia lagi karena aku masih ambil data dan belum selesai. Rencananya aku akan email dosen pembimbingku ketika aku sudah selesai ambil data untuk menanyakan tahap apa selanjutnya yang harus aku kerjakan. Mana ada dia yang bertanya terlebih dahulu mengenai apa saja yang sudah aku kerjakan. Kalau bapakku biasanya dia akan mengingatkan mahasiswanya. Apalagi kalau mahasiswanya molor atau tanpa kabar, biasanya bapakku langsung japri sambil memberikan petuah-petuah.

Sebagai mahasiswa yang pernah S1, aku paham mungkin yang dirasakan mahasiswa ketika diingatkan oleh dosen adalah takut, grogi, dan lain sebagainya. Entah ya kenapa dosen pembimbing bawaannya selalu bikin grogi, tapi justru diingkatkan dosen adalah hal yang sangat baik. Mengingat kalau sekarang, mana ada dosenku mau mengingatkan duluan. Bener-bener harus menjadi mahasiswa yang aktif.

Selain itu, aku adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang mengambil thesis di angkatanku.

Kalau di universitasku, dan sepertinya universitas-universitas di Australia juga begitu, mengambil thesis adalah sebuah pilihan yang harus diperjuangkan. Tidak auto thesis, seperti di Indonesia. Aku pikir di Indonesia enak sekali kalau misalnya kamu ingin thesis, itu sudah otomatis di semester akhir. Namun, di kampus kami, ada minimal nilai yang harus dikejar agar bisa melampaui syarat thesis. Selain minimal nilai, kami juga harus menyusun proposal penelitian pada semester tiga. Setelah itu, jurusan akan menentukan kamu berhak mengambil mata kuliah thesis atau tidak. Sebenarnya juga menguntungkan, sih, sistem ini untuk orang-orang yang tidak ingin mengambil thesis. Kalau tidak mengambil thesis, juga bisa lulus dengan mengambil mata kuliah lainnya. Terutama untuk orang-orang yang biasanya tidak ingin mengambil S3 kedepannya atau mereka tidak berencana menjadi akademisi, mereka tidak akan mengambil thesis.

Saat ini aku bersyukur karena aku eligible untuk mengambil thesis, tetapi memang prosesnya sungguh menantang. Semoga aku kuat!

10 thoughts on “Curhat Thesis

  1. Wah bgtu ya curhat mahasiswi S2 yang lagi berhadapan dg thesis. Serem2 juga ada, tapi tantangan juga sih. Ada baiknya, spy lulus nanti benar2 S2nya dapat dipertanggungjawabkan. Smngat dan smga sukses ya, Mbak Gadis.

    Liked by 1 person

  2. Sesuatu yang besar tidak mungkin dicapai tanpa semangat yang besar. Menuntut ilmu bukan soal dapat nilai berapa, naik kelas apa enggak, tetapi soal bisa atau tidak dan seberapa banyak ilmu yang kamu dapatkan. Tetaplah semangat, karena semangat adalah roh kehidupan. kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba. jadi tetaplah bersemangat garuda muda. you can do it sistah!!

    Liked by 1 person

  3. ((Terutama untuk orang-orang yang biasanya tidak ingin mengambil S3 kedepannya atau mereka tidak berencana menjadi akademisi, mereka tidak akan mengambil thesis.))

    Di sana, syarat daftar s3 berlaku untuk yang sudah nulis tesis kah mbak?

    Liked by 1 person

    1. Kalau udah thesis mau lanjut S3 lebih mudah, kalau ga thesis tapi mau lanjuut S3 kata dosenku bisa, tapi dia harus publis jurnal sejumlah berapa gitu. Lebih banyak syaratnya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s