Kota Malang dan Disfemisme

Kota Malang dan Disfemisme

Eufemisme adalah bagaimana kita mengungkapkan kata-kata dan ekspresi yang negatif dan taboo dengan menggunakan kata-kata yang lebih positif dari yang kita maksud; atau, bagaimana kita mengungkapkan sesuatu yang taboo dengan sopan. Eufemisme sudah ada dari zaman baheula. Kalau kata Kate Burridge dalam bukunya yang berjudul ‘Eufemisme dan Disfemisme’, yang diterbitkan tahun 2017, topik-topik pembicaraan seperti bagian tubuh, marital status, sexual intercourse, kebencian, kematian, dan bahkan agama menginspirasi banyak kata taboo.

Selain eufemisme, ada juga istilah ortofemisme (ortophemism) dan disfemisme. Ortofemisme adalah alternatif pemakaian kata yang tidak terlalu sopan, jadi boleh dan bisa digunakan, tetapi juga tidak menyinggung. Sedangkan disfemisme adalah kata-kata yang menginggung (offensive) atau kasar. Jadi ortofemisme letaknya ada di tengah-tengah antara eufemisme dan disfemisme. Contohnya kalau dalam Bahasa Inggris, bentuk kata eufemisme-nya meninggal adalah passed away, bentuk ortofemisme-nya adalah die, dan bentuk disfemisme-nya adalah snuff it.

Contoh eufemisme lainnya ada di lagu berjudul ‘sugar, honey, ice, & tea’ oleh sebuah band bernama Bring Me The Horizon (BMTH) di album terbaru mereka berjudul Amo. Album ini baru saja keluar dan aku suka lagunya, salah satunya yang berjudul ini. Kalau kamu ketik judul ini ke mesin pencari dan cari tahu apa maksudnya, maka kamu kamu akan paham bahwa ini adalah eufemisme.

Eufemisme, ortofemisme, dan disfemisme ini adalah satu set ‘femisme’ (phemism) yang juga biasa disebut X-phemism. Siapakan yang menentukan X-phemism ini? X-phemism adalah konvensi dari masyarakat itu sendiri.

Dalam Bahasa Indonesia, banyak sekali kata-kata yang dianggap taboo sehingga sebenarnya orang-orang menggunakan eufemisme. Contoh, suatu ketika ada seorang teman perempuan bertanya, “Dis, ada roti nggak?”. Waktu itu aku langsung paham, roti yang dia maksud bukan roti makanan, tetapi pembalut. Jadi dalam budaya Indonesia, sebenarnya mengucapkan kata ‘pembalut’ terang-terangan itu taboo. Sehingga orang seringkali mengganti kata ini dengan roti atau roti jepang. Maaf kalau yang baca paragraf ini jadi cringe karena aku bahas kata taboo, tapi aku sendiri sebenernya menahan tawa; hellow roti jepang.

Tapi ngomong-ngomong kalau masalah disfemisme, menurutku Kota Malang menggunakan banyak disfemisme pada penamaan warung-warung. Di Malang ada namanya Mie Setan. Warung mi ini di Malang laku sekali dan bahkan ada beberapa cabang. Ada juga Indomi Janda Ngamuk, Ayam Ngamok Simerah, Lele Keramat, SoBet (Soto Betawi) Bangsat, Nasi Goreng & Bakmi Nyonyor, dan lain-lainnya.

Di Surabaya juga ada Nasi Goreng Jancok. Jancok adalah swearing word yang paling kasar di Jawa Timur. Tapi karena aku bukan orang Surabaya, aku tidak tahu sebanyak apa masyarakat menggunakan disfemisme.

Kenapa sih kok justru pakai kata-kata yang offensive? Menurutku ini bagian dari strategi pemasaran mereka, dan aku amati cukup khas di Malang. Jadi kata-kata yang mengandung unsur disfemisme dipakai agar menarik perhatian khalayak ramai. Dan kata-kata negatif ini dipakai sebagai indikasi mereka jualan makanan pedas. Semua nama warung yang aku sebutkan di atas menjual makanan pedas, kecuali Sobet Bangsat, aku tidak yakin itu pedas atau cuman namanya atau bagaimana.

Aku bilang ini khas Malang karena ketika aku travel ke tempat lain, Yogyakarta misalnya, masyarakat Yogyakarta tidak memakai disfemisme dalam penamaan tempat makan. Kalau di Yogyakarta, biasanya mereka pakai nama orang, contoh Gudeg Yu Djum, Gudeg Yu Narni, dan Yu-YU lainnya. Di Malang juga ada makanan khas Yogya seperti Sop ayam Pak Min dan Mi Jogja Pak Karso.

Walaupun disfemisme digunakan dan sepertinya masyarakat Malang menanggap hal ini adalah hal yang lumrah, aku sebenarnya justru ilfeel. Yang paling bikin ilfeel maksimal adalah warung yang menggunakan nama ‘Janda Ngamuk’ dan ‘Bangsat’. Biar apa sih? Menurutku seharusnya kalau membuka warung makanan pedas, tidak harus menggunakan kata-kata yang negatif. Aku ngeyangin aku makan di Sobet Bangsat, kayaknya sebelum makan di sana aku kayak pengen marah-marah sendiri.

Jadi itu tadi tentang eufemisme, ortofemisme, dan Kota Malang yang banyak menggunakan disfemisme.

Kalau misalnya ingin lebih banyak tahu tentang eufemisme, bisa cari Kate Burridge di mesin pencari. Dia salah satu dosenku di Monash University. Dia memang ahli dalam bidang Eufemisme, swearing words, World Englishes dan lain-lainnya. Dia sudah banyak menerbitkan jurnal tentang tema terkait. Aku ngefans! Dia juga pernah jadi pembicara Ted Talk Sydney, klik link di sini. Kalau kamu cari Kate Burridge di YouTube juga banyak.

Selamat pagi, dan selamat belajar! 🙂

19 thoughts on “Kota Malang dan Disfemisme

  1. Cuma kadang kala banyak yang tidak faham bahasa,dan keilmuan keagamaan, contoh: dalam Islam, setiap mau makan di anjurkan membaca basmalah,dengan nama tuhan saya makan,bla BLA BLA… ironisnya nama makanan halal di kasih nama haram, rawon di tambak SETAN’,mie SETAN,,, bukankah yg pernah mondok pasti GK mau makan makanan itu, kenapa telah menjadi HARAM karena membawa nama SETAN, Masak basmalah atas nama makanan SETAN

    Liked by 1 person

    1. Menarik! Kenapa kalau ‘setan’ jadi haram? Haram bukannya seperti babi dll gitu ya? Memang jelek sih pakai ‘setan’, tapi karena ini disfemisme aku paham jadi aku tidak mengartikan ‘setan’ dalam artian makhluk jahat ciptaan Allah dalam konteks nama makanan (Mie Setan), tapi aku mengartikannga oh ini pedes banget. Jadi menurutku ‘Mie setan’ lumayan oke lah, tapi emang kembali lagi gimana ngartiinnya.

      Kalau yang parah banget misalnya ‘janda ngamok’ atau ‘nasi goreng jancok’, itu aku beneran ilfeel dan most likely ga bakal makan di situ.

      Yaaaah, lagian banyak pilihan makanan kan di indo hehe.

      Like

      1. Di pondok 2 pesantren, ada kitab2 kuning dan diantaranya adalah kitab dasar, sebelum mengawali segala sesuatu di wajibkan membaca basmalah” dengan menyebut Asma Allah saya ( melakukan sesuatu: spt makan minum dsb).”
        Nah itu hukumnya wajib,

        Nah kalo namanya di ganti dengan nama SETAN, ” masak dengan menyebut nama Allah saya makan mie setan umpamanya spt itu km ngece namanya…

        Dan di sisi lain nama SETAN dan keturunannya terkutuk di dalam ajaran Islam dan kitab2nya….

        Maka dari itu, segala sesuatu yang tidak di dasarkan pada Tuhan maka apa yang dilakukan akan sia sia belaka, tidak berguna, atau jadi pengikut setan pada hakekatnya….

        Semua kembali keyakinan masing-masing, boleh percaya boleh tidak percaya, seperti pilihan antara surga dan neraka pilih mana, percaya atau tidak ya seperti itulah….. hidup itu pilihan…..

        Pilih yang mana?
        Brangasan…
        Grusah grusuh…
        Atau
        Hati hati dalam setiap langkah

        Sak Bejo bejane wong sing lali, isih Bejo wong kang iling lan waspodo…..

        Liked by 1 person

  2. Kalau di jogja sepertinya nama tempatnya aman-aman aja, Mbak Gadis. Namun, dulu pernah ada warung makan yang nama menu makanannya aneh-aneh gitu. Aku lupa sih contohnya, tapi ya mirip-mirip kek “Janda Bangsat” dan sejenisnya gitu. Pokoknya taboo banget dan nggak wangun lah kalau dipakai buat nama makanan.
    Tapi beberapa tahun lalu, warung makan ini udah ditegur sama pemerintah kabupaten nek nggak salah, suruh ganti nama menunya yang “tabu” itu. Dan mungkin sekarang udah diganti.
    Wajar sih. Waktu makan disitu saya juga agak gimana gitu, kok nama menunya aneh-aneh. Sempet ketawa tawa juga, geli soalnya. Yah, namanya juga marketing ya 😀

    Liked by 2 people

    1. Makasih sudah baca dan komen, Mbak Kinan. 😀

      Waduh Janda Bangsat. Wkwkwkwk!

      ‘nggak wangun’ apa mbak?

      Oh sampek ditegur ya? Kalau di Malang sudah wajar jadi gabakal sampe ditegur pemkot.

      Like

      1. Bukan janda bangsat sih wkwk. Tapi ya sejenis itu lah mbak. Kata-kata yang saru dan tabu dijadiin nama makanan. Makanya sampe kena tegur. Hampir semua menu namanya kayak gitu semua. Padahal ya menunya ya biasa, kayak nasi goreng, mie goreng gitu. Harusnya buka di Malang cocok nih warung makan 😀
        Maaf mbak jawanya keluar, hehe. Nggak wangun tuh nggak sesuai, nggak cocok gitu.

        Like

      2. Woalahh. Pantes, Mbak.
        Enggak, Mbak. Saru tuh ya kayak tabu gitu artinya. Sesuatu yang nggak pantas diucapkan dan diperlihatkan gitu di depan umum. Memang kalau di Malang saru itu artinya apa, Mbak? Pedes?

        Liked by 1 person

      3. Sepertinya kalo di Jogja atau wilayah Jawa Tengah akan sulit ditemukan nomenklatur demikian ya Mbak Kinan, Mbak Gadis, berhubung norma masyarakatnya berbeda juga dengan kami yang di Jawa Timur :” Contoh di Surabaya sendiri sudah terkenal Nasi Goreng Jancuk, Mie Setan, dan kawan-kawannya wkwk.

        Liked by 1 person

      4. Nomenklatur! Ku suka diksimu.

        Iya aku penasaran di Jawa tengah itu gimana normanya dan kenapa penamaan nama warung dari nama-nama penemu masakannya. Kalau namaku lucu kali ya: Mie Mbak Gadis 😆😅.

        Iya kalau makan di nasgor jancuk sebelum kesananya udah pengen misuh” sendiri.

        Like

      5. Mungkin karena sudah dibiasakan berkata dan berperilaku halus Mbak, soalnya perilaku dan cara bicaranya juga halus pisan orang-orang Jawa Tengah dan Jogja tuh.

        Kalo Jawa Timur kan blak-blakan dan apa adanya banget, bicaranya juga keras-keras wkwk.

        Aku bikin kedai burger deh kalo gitu biar namanya Burger Bageur.

        Sebelum makan misuh, habis makan juga misuh saking nggak manusiawi pedesnya ckck.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s