Analisis Semiotika Teks pada Pesan Singkat WhatsApp: Bisa Gak Mbak?

Semiotika adalah cabang linguistik yang membahas segala tentang tanda. Semiotik sendiri dibagi menjadi beberapa cabang, salah satunya adalah semiotika teks. Semiotika teks membahas tanda-tanda yang digunakan dalam teks, misalnya simbol, emotikon, dan, emoji. Teks yang akan aku bahas di sini adalah teks yang berupa pesan singkat.

Simbol, emotikon, dan, emoji sifatnya kultural, and it is a thing. Contohnya orang australia di usia tertentu suka memakai emoji ‘🤙🏼’. Di kehidupan sehari-hari kadang mereka juga suka memakai gestur ini ‘🤙🏼’. Contoh lain, temanku di Africa suka pakai emotikon ‘^^’. Aku dulu juga sering pakai emotikon ‘^^’ dan ‘^_^’, tetapi aku tidak pernah pakai lagi karena aku pikir itu alay dan terlalu ke teenlit-teenlit-an –whatever it means–. Adikku yang perempuan, suka pakai emotikon ‘:3’. Aku dulu juga sering pakai ‘:3’, but I could not relate to that emoticon anymore, so I drop that. Jadi, simbol, emotikon, dan, emoji dalam semiotika mengandung makna yang berbeda tergantung siapa penulis teks-nya. Selain kultural, makna yang dikandung juga tergantung dengan individu tersebut. Gender dan usia biasanya menjadi pembeda bagaimana seseorang menulis teks.

Aku suka menulis pesan singkat dengan cara yang formal ketika menghubungi seseorang yang baru. Kala itu aku sedang menghubungi agen travel untuk memesan transportasi. Rupanya dengan caraku menulis teks, dia memanggilku ‘Bapak’. Menarique.

Sayangnya, aku kurang mendalami hal ini karena jurusanku tidak membahas tentang semiotika. Bahkan pada mata kuliah ‘General linguistics’, I do not know why they left out semiotics. Padahal sebenarnya aku suka sekali semiotika. Pertama, karena aku mempelajari bahasa isyarat. Semua kosa isyarat itu tentu banyak sekali unsur semiotika yang bisa dikaji. Bisa jadi. Kedua, fakta bahwa unsur-unsur dalam semiotika teks itu kultural; hal ini sangat menarik bagiku.

Walaupun tidak ada mata kuliah semiotika, dosenku pernah membahas tentang ini di mata kuliah ‘World Englishes’. Aku lupa kenapa dia membahas semiotika di ‘World Englishes’, karena semiotika dan mata kuliah ini jauh hubungannya. Dia cerita ketika dia menulis pesan singkat yang benar-benar singkat, dia tidak akan menaruh titik pada akhir kata karena kesannya rude. Contohnya:

Kata ‘Ya‘, jika dibandingkan dengan,

Ya.‘ yang memakai titik, itu artinya beda.

I could relate to this because it also works for me. Aku juga melakukan ini, entah penerima pesan memahami apa yang aku lakukan atau tidak, tetapi aku melakukan ini karena aku perlu mengekspresikan pesan yang aku maksud.

Contohnya, kalau marah dengan pacar, aku akan tulis:

Gak.

Bandingankan dengan:

Enggaaaaa‘, yang ditulis tanpa titik dan ditulis dengan banyak huruf ‘a’ pada kata terakhir yang menunjukkan stressed-syllable, atau dibaca panjang.


See? Everything that you wrote in a text means something. Kenapa zaman dulu remaja menulis teks dengan cara yang 4l4Y; satu kata bisa dipadu dengan angka dan teks, bak plat nomor kendaraan; kenapa zaman sekarang tidak, dan lain-lain, it could mean something. Aku pun juga melewati masa 4l4Y itu, dan dulu aku menulis pesan singkat dengan cara menaruh titik di awal kalimat. I do not know why and I do not recall why I did that 😌😝. But it always means something.

Kalau tipe penulisan teksku sekarang, kadang aku memulai pesan singkat dengan huruf kecil di awal, bukan kapital. Mode keyboard-ku otomatis kapital, so I did it on purpose. Biasanya aku akan begini, jika aku ingin berhati-hati dengan apa yang aku ucapkan, aku ingin bersikap low-profile, dan biasanya aku akan begini dengan teman, teman dekat, dan sahabat saja. Kalau konteksnya formal, maka aku akan menggunakan ejaan yang tepat dan benar.


 

WhatsApp

Karena aku suka semiotika dan aku memperhatikan detail-detail kecil seperti ini, aku sering mengamati atau menganalisa pesan singkat yang ditulis seseorang. Tidak semua, karena aku tidak senganggur itu. Dan juga kalau sedang chatting ria dengan teman, who cares.

Pesan singkat di WhatsApp yang aku bahas kali ini menurutku menarik. Konteksnya, beliau lebih tua dari aku dan aku sedang menanyakan perihal ketersediaan akomodasi milik beliau untuk aku tempati tahun depan. Aku tidak akan memberikan petunjuk bahwa dia laki-laki atau perempuan, dia siapa, dan rumah yang mana, karena tidak etis dan biar seru. Ngomong-ngomong, aku suka Bahasa Indonesia karena  bahasa ini tidak gender-based. Jadi, kalau aku hanya menulis ‘dia’, you would not know who I meant.

Karena beliau lebih tua dariku, aku menulis pesan dengan cara yang formal, sopan, dan tidak berbelit-belit. Aku juga mengenalkan namaku siapa dan aku bermaksud untuk menyewa kamar dari tanggal sekian sampai tanggal sekian. Beliau membalas,

Bisa gak mbak hubungi saya lagi kalau udah ada kepastian?’

Kata ‘hubungi’, ‘saya’, ‘sudah’, dan ‘mbak’ beliau singkat di pesan aslinya. Kalau aku artikan,  beliau tidak mau basa-basi, dan agak malas untuk membalas, atau sibuk, jadi dia singkat-singkat. Tiga kata awal, menurutku tidak terlalu sopan. Makjleb. Dan aku yakin, kalau misal lebih tua dari beliau, beliau tidak akan berani menulis seperti ini.

Kemudian setelah beberapa waktu, beliau menulis pesan singkat begini:

‘Kalau masih tertarik, ada kemungkinan saya bisa bantu

‘Kebetulan kamar kosong

Bisa dibandingkan di konteks sebelumnya, cara beliau menulis pesan berbeda. Pertama, yang disingkat hanya kata ‘saya’ pada pesan aslinya. Kata ‘kalau’ ditulis ‘kalo’, tetapi menurutku wajar karena pada pengucapan sehari-hari ‘kalau’ juga diucapkan ‘kalo’.  Menurutku, beliau lebih sopan dan lebih menghormatiku di konteks yang ini. Menurutku juga, beliau mengharapkan sesuatu kepadaku, jadi beliau menulis dengan tidak disingkat-singkat.

Kedua, beliau menulis tiga titik di akhir kalimat, tidak hanya satu, tetapi ada dua pola. Tiga titik ini seperti kata ‘Enggaaaaa‘ di atas yang menunjukkan stressed-syllable atau dibaca panjang. Aku artikan dalam konteks ini, orangnya mengharapkan sesuatu. Beliau tidak lagi buru-buru atau sedikit meremehkan seperti pada konteks ‘bisa gak mbak‘.

Posisiku dalam menghadapi dua macam konteks tersebut? Aku tetap membalas dengan cara yang formal. Huruf kapital di awal kalimat, koma sebelum kata hubung tetapi, dan titik dia akhir kalimat. 🙂

Cheers, 🤙🏼.

 

5 thoughts on “Analisis Semiotika Teks pada Pesan Singkat WhatsApp: Bisa Gak Mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s