I’m officially signed off

I wrote this article two weeks ago. It’s been on my notes. I keep forgetting to upload it here, so here we go.

Hari ini hari terakhir mengajar di tempat ini. Aku tahu aku akan merindukan murid-muridku, dan ada saat dimana aku akan mengenang mereka sambil senyum-senyum sendiri. Namun lebih dari itu, aku akan merindukan teman-temanku di sini, terutama Jenny.

Aku kenal Jenny sekitar sebulan lalu. Aku orang yang agak segan untuk mengobrol dengan orang asing kecuali orang asing itu yang memulai duluan. Waktu itu, Jenny yang memulai pembicaraan. Dan sejak hari itu, kami sering mengobrol di sana karena murid kami sama-sama sering bolos. Kami cepat akrab, dan bahkan Jenny cerita-cerita masalah pribadinya tentang pekerjaaannya dan bosnya yang ngeselin. Aku juga cerita ke Jenny tentang orang yang bersikap rasis ke aku itu. I could tell, kalau Jenny sangat bersimpati dengan apa yang aku alami, padahal akunya biasa saja. Dia juga bercerita tentang kejadian-kejadian rasis yang menimpanya karena dia half caucasian and half chinese. Waktu kecil dia terlihat seperti orang Cina, tetapi sekarang dia keliatan seperti orang kulit putih.

I will miss her so much, in fact I already miss her. Dua minggu lalu aku tidak masuk mengajar karena sibuk tugas, dan hari ini ternyata Jenny tidak datang mengajar. Aku lupa minta nomer telefon dia 😦 Semoga sih di kampus bisa ketemu, karena dia juga sekolah master di Monash.

Selain Jenny, ada juga Bree. We are not a friend-friend, but she is pretty friendly. Dia keturunnan India, tetapi besar di sini jadi Bahasa Inggris dia 100% Ozzy. Dan dia masih kelas 11. Aku punya adik yang masih kelas 11 dan 12. Tapi aku merasa Bree lebih dewasa dari mereka, in terms oh physically and mentally.

Bree menghabiskan waktu di hari sabtunya dengan menjadi volunteer. I could imagine what my brother and sister doing on Saturdays. After going to school, they might play a game or draw something. Which is normal for high school kids. I’m not saying what my sister and my brother doing is bad, but being a volunteer and teach immigrant kids is something else. That is why I feel like Bree is more mature than my brother and sister.

Selain itu menurutku pendidikan formal juga mempengaruhi bagaimana mereka berfikir dan bertindak. Jadi di sekolah Bree dalam satu semester dia ada 6 mata pelajaran saja dan itu sudah spesifik atau penjurusan. Di sekolah adikku, dan SMA pada umumnya, memang ada penjurusan seperti IPA, IPS, dan Bahasa, tetapi di sekolah Bree lebih spesifik lagi.

Lalu, selain Bree dan Jenny, ada juga relawan pengajar, yang menurutku ‘he is quite something’. Dia dia seumuran aku, tapi dia sedang S3 jurusan matematika pula. Dan tau ngga sih alasan dia waktu aku tanya kenapa dia ambil S3? Karena dia ngga mau kerja. Kata dia, mending dia belajar daripada kerja.

Ya, I could relate sih, karena posisiku sekarang dibayar untuk belajar a.k.a dapat beasiswa. Dan aku suka belajar, walaupun ada masa dimana aku lelah pikiran, hati, dan badan karena tugas. Tapi, itu wajar. Mas-mas yang S3 itu, kalau aku lihat, dia juga menikmati hidupnya. Dia bukan tipikal orang S3 yang ‘kelihatan mukanya setres’ dan gabisa keluar rumah. Dia suka senyum-senyum dan orangnya ceria. Asiklah si mas.

I’m going to miss all of them. Tapi memang aku harus berhenti mengajar di sini. Pertama, aku mulai merasa bosan dengan rutinitas ini dan aku ingin membentuk rutinitas baru. Aku memang suka Dandenong dan bahkan mulai merasa ini rumah kedua karena aku selalu jalan-jalan di tempat ini tiap sabtu, tapi aku merasa sudah saatnya untuk menjelajah tempat lain. Karena aku di Australia cuman dua tahun, aku ingin menjelajah banyak tempat. Ketiga, aku ingin lebih fokus di studiku juga.

Toh muridku, semakin jarang datang juga. Jadi hari ini aku mengajar murid baru. Aku ngga mengajar sih, lebih tepatnya menemani bermain. Pertama, kami bermain monopoli. Kedua, karena dia bosan, kami memutuskan untuk bermain uno. Sayangnya, kami tidak menemukan permainan ini di storage. Jadi, dia memutuskan untuk membuat kartu uno, kata dia, “It’s easy!”. Aku ngga pernah berpikiran untuk membuat kartu uno. My student today was way to creative and I like him.


 

Setelah mengajar, aku selalu ke Dandenong Plaza untuk sholat dan makan. 

When I was eating, there was a lady with the red hair sitting in front of me. I was weird because the other chairs were empty. Usually, people would not sit near a stranger. And oh apparently she needed someone to talk to.

First, she said she lost her phone. I didn’t understand 50% of her speech because she speaks fast with a broad accent. But I like the way she spoke because she swore a lot. (She is my spirit animal). Then she talked about her girlfriend, her kids, where does she come from, she went to rehab, she had a seizure, and other random stuff. It’s pretty strange too. Then, she said she loved me and ‘people like me’. I reckon that she might a bit on a drug. She is so weird, but she was pretty cool.


 

7 thoughts on “I’m officially signed off

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s