Teman

Menurutku, teman itu seperti jodoh. Tepak-tepak-an. Dan teman juga seperti ‘bisnis’ yang kita harus berinvestasi di dalamnya. Dan menurutku teman itu juga ada hubungan timbal balik.

Misalnya begini, aku Arin dan Rajib berteman. (Mereka juga punya blog dan karena kami sering menulis tentang pertemanan kami di blog, jadi aku pikir tidak apa-apa aku memakai nama asli mereka dan aku jadikan contoh di sini). Kami sedang LDR, karena aku di Australia, Rajib di Surabaya, dan Arin di Bandung. Namun, kami tetap berinvestasi dalam pertemanan kami. Kami punya group WhatsApp bernama ‘Geng Rumpik’ yang mana kami bisa saling cerita dari masalah kuliah sampai perasaan. Dan aku suka hubungan timbal balik ini, karena mereka orang yang aku sayang, dan mereka juga sayang aku sekalipun aku menyebalkan. 🙂

Arin tipe orang yang tidak pernah mengunggah siapa saja temannya di sosial media. Rajib apalagi, dia jarang pakai instagram sepertinya, kecuali stalking si itu. Dan aku hanya mengunggah apa yang menurutku nyeni banget. We do not have to show the world that we are bestfriend, but we do exist.

Dan menulis itu, therapeutic.

Aku menulis ini karena ini mengingatkan ke aku sendiri bahwa teman itu ya seperti jodoh, and I should not take it for granted. Dan bahwa aku akan selalu berusaha bersikap baik ke orang yang aku anggap teman.

Lalu, ada satu teman yang yang sebenarnya kami dulu bersahabat, kami berempat. Mereka semua tahu, that I had a fling to someone. Suatu hari, kami sedang mengadakan kegiatan yang kebetulan ada temanku dan orang yang aku suka itu. Tiba-tiba temanku dan orang yang aku suka itu membahas soal perasaan. Orang yang aku suka ternyata suka dengan orang lain. Temanku tahu itu dan dia mendukung hal itu. Dan aku merasa, dia menganggap aku teman bukan sih? Karena dia sebenarnya sudah tahu kalau aku suka dia.

Mungkin kalian yang baca ini, kesannya drama banget. Tapi waktu itu aku serius baper. Bukan karena orang yang aku suka, suka orang lain, tetapi lebih karena aku merasa dikhianati oleh orang yang aku percaya. Like, seriously? 🙂 I’m freaking trust you with my feelings and treat it like it was nothing.

Sejak saat itu aku jarang komentar di group kami. I don’t even miss the time when we were still together. Aku bisa sesayang itu dan aku bisa setidakpeduli itu. I just can’t.


 

*And for the record, I do not like that guy anymore.

4 thoughts on “Teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s