I Got a Racist Email (2)

Karena email yang dia tulis tersebut, yang menyatakan bahwa kebanyakan orang Australia terganggu dengan keberadaan wanita muslim yang memakai hijab, tertutama burqa, membuatku berfikir bahwa apakah kebanyakan orang-orang Australia seperti itu. Walau aku juga yakin, yang dia nyatakan itu adalah sebuah hiperbola. Toh, dia juga tidak menyatakan data autentik yang mendukung argumennya itu. Tetapi, ada beberapa orang yang bilang beberapa orang Australia memang rasism, terutama di negara bagian Queensland. Namun, seberapa banyak? Aku pikir, ada baiknya bertanya kepada orang lokal.

Sabtu lalu, aku bertemu dengan temanku di tempat aku mengajar, yang merupakan orang lokal. Dia juga mahasiswa di Monash University, jurusan International Development. Aku cukup akrab dengan dia, dan kami sering bercerita banyak hal. Jadi, aku ceritakan ke dia tentang pengalamanku pahitku itu. (Well, ga pahit-pahit banget sih. B aja).

Aku cerita ke dia secara singkat dan menunjukkan email itu. Aku tipe orang yang suka memperhatikan ekspresi orang, and I could tell, ketika dia selesai membaca itu, raut wajahnya berubah seperti prihatin sekali. Dia bilang, “I’m so sorry,” dengan ekspresi wajah yang penuh prihatin.

Lalu aku bertanya, “Is it true that the majority of Australians are like this?” Lalu dia menjelaskan bahwa memang ada, tapi sangat jarang sekali. Dia menekankan hal ini kepadaku, bahwa kasus ini jarang, sampai tiga kali.

Aku merasa beruntung karena aku bertemu dengan orang seperti dia. Dan bahkan dia sangat khawatir dan kelihatan sedih sekali bahwa aku mengalami hal seperti ini. Ketika akan pulang pun, dia bilang lagi, “I’m so sorry this happened to you”. Aku jadi terharu, karena pertama, kami memang dekat tapi belum lama dan dia ternyata se-perhatian itu. Lalu yang kedua, memang ada orang rasis, tapi masih banyak lagi orang-orang yang baik.

Jadi ini yang aku pengen tekankan kepada teman-teman yang kemarin baca postinganku sebelumnya, dan takut untuk studi ke luar negeri karena akan mendapatkan perlakuan yang rasis. Menurutku, kalian tidak perlu takut, tapi kalian harus tunjukkan perilaku seorang muslim itu sebenarnya seperti apa. Orang muslim bukan seperti yang diumumkan di media bahwa orang muslim itu terrorist. Orang-orang harus berhenti mengeneralisasi orang muslim berdasarkan apa yang media beritakan. Dan menurutku ini bisa jadi dakwahnya kalian, karena dakwah bukan berarti harus ceramah atau jadi ustadz/ustadzah, tapi tunjukkanlah perilaku orang muslim yang baik. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya (ehem yang ini cukup jarang dilakukan di Indonesia), menyeberang di tempatnya dan ketiaka lampu sudah hijau (ehem kadang kalau malam-malam dan sudah sepi aku suka menyeberang di lampu merah), suka menyapa, dan lain-lain. I mean, be a nice and tolerant person. Tunjukkan kualitas seorang muslim yang baik dengan perilaku yang santun.

Untuk yang perempuan, kalau misalnya kalian berjilbab panjang, kalian juga tidak perlu takut untuk tetap mengenakan jilbab panjang. Di Monash University, ada namanya religious centre yang di dalamnya ada semacam gereja, brother prayers, dan sister prayers. Di sister prayers ada banyak sekali muslimah dari yang tidak memakai jilbab, memakai jilbab sedada, dan bahkan ada yang pakai cadar. Di sini aku setuju dengan ide feminisme bahwa perempuan boleh memakai apa yang membuat dia nyaman sesuai dengan keyakinannya. Jadi, menjadi feminis bukan berarti kita mengikuti mainstream yang ada, tetapi kalau kamu misalnya tetap dengan pendirian dan identitasmu yang kamu yakini, you are able to standout although you are a minority, you are also a feminist. *Anyway, bukan berarti aku ahli dalam hal feminisme ya, aku masih harus belajar banya, tetapi dari yang aku baca, aku suka ide tentang moslem feminist.

Selain itu, menurutku hal yang aku alami memang buruk, tetapi termasuk biasa saja. Karena yang aku terima hanya berupa verbal abusive. Dibandingkan dengan Zainab Merchant. Kalian bisa cek di mesin pencari apa yang terjadi dengan Zainab Merchant. Tetapi intinya, she was asked to pull her pant down by the TSA officer 😦 and she was on period at that time. That was horrible, dude! If I were in her position, I would be very embarassed 😦

Well, mengalami kejadian seperti itu, aku belajar banyak hal. Aku belajar apa arti toleransi sebenarnya karena di sini aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas.

Untuk orang-orang yang komentar di instagram Jojo, yang berharap dia beragama islam atau jadi muallaf? Aku harap mereka sadar kalau yang mereka lakukan itu salah. Apa yang mereka lakukan itu, sama seperti orang yang berharap aku buka jilbab demi keliatan cantik versi dia πŸ™‚

6 thoughts on “I Got a Racist Email (2)

  1. Ah iya setelah Kita DMan kemarin itu aku sempat cerita juga ke suamiku yang notabene orang lokal mengenai email yang kamu dapet. Kita sempet ngobrol panjang lebar sampe jam 2 pagi gitulah akhirnya. Dan suamiku berpendapat some people may not convertible with what you wear or maybe even disagree but they can only give some point of what they think not try to change what you already choose. Aku jadi belajar no matter we are majority or minority we suppose to treat people right.

    Liked by 1 person

    • Wah menarik.

      Kalau misal mereka berpendapat, apakah mereka akan mengutarakan apa yang mereka maksud literally kayak di email gitu?

      What makes them not so convertible? Kalau orang yang email aku itu, dia ngerasa terintimidasi atau terancam gitu kayanya.

      Dan banyak kah orang kayak gitu? Kayaknya sih yang banyak terutama di suburb ya.

      Liked by 1 person

      • Betul! menurutku itu perbedaan budaya kita yang terkesan lebih malu-malu dalam mengemukakan pendapat dengan budaya luar yang lebih blak-blakan.

        Menurut yang aku diskusikan dengan suami mostly sih semacam gimana dengan yang di negara tropis (Seperti Indonesia) ataupun negara timur tengah denga kondisi iklim yang terbilang panas, berbeda dengan negara empat musim walaupun tetap ketika musim panas tiba yang panasnya taulah kaya gimana disini jadi timbul pertanyaan bagaimana dengan kesehatannya juga bila sudah sampai mengenakan burqa, aku pribadi binggung mau jelasin gimana kalo ditanya pertanyaan seperti itu, karena aku awam sekali masalah ini.

        Menurutku sih ini karena prespektif pribadi setiap manusia pasti memiliki rasa ingin tau, timbul pertanyaan seperti itu ada (mungkin) tapi ya nggak moro-moro seperti si peng email nggak ada ujan nggak ada badai kok mau bim salabim merubah pilihan hidup seseorang dan mengclaim bahwa orang-orang sini ya merasa terintimidasi dan sebagainya (ini ya mboh kurang gaul mungkin dia). Kebanyakan mereka ya menghormati keputusan tiap individu.

        Hihihi nanti kalo ketemu aku ceritain A,B sampe Znya yah.

        Nggak juga, ada banyak yang di suburb malah lebih open minded dibanding di city, tapi juga ya banyak yang tinggal di city lebih open minded terutama dengan multi-culturenya.

        Liked by 1 person

      • Terimakasih, Mba! Sudah dijelaskan panjang lebar.

        Beberapa temanku sangat terkejut dengan dia yang blak-blakan itu. Aku tidak terlalu terkejut sih, karena aku sudah terbiasa dengan sifat orang sini yang lebih assertive. Di satu sisi, aku juga merasa aku orangnya cukup assertive.

        Aku sendiri juga bingung gimana jelasinnya wkwk.

        Iya pengen ketema nih. Insyaallah nantilah kalau udah summer break hehe.

        Thanks mba. sarangeyoooooo.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s