Pergeseran Makna Kata ‘Ihkwan’ dan ‘Akhwat’

Dalam Bahasa Indonesia, pergeseran makna ada enam jenis. PR Bahasa Indonesia dan Dosen Bahasa memaparkan dalam website-nya, yaitu generalisasi, spesifikasi, peyorasi, ameliorasi, sinestesia, dan asosiasi. Kalian bisa langsung klik link tersebut atau google sendiri di mesin pencari. Dalam artikel ini, aku lebih fokus pada spesialisasi (menyempit).

Lalu, kata-kata dalam Bahasa Arab yang aku bahas kali ini adalah ‘Ikhwan’, ‘Akhwat’, ‘Madrasah’, dan ‘Astaghfirullah’. Menurutku, kata-kata dalam Bahasa Arab ini menarik untuk dikaji, karena orang muslim di Indonesia lazim menggunakan kata-kata tersebut, tetapi dalam makna yang berbeda dari asalnya.

Pertama, tentang ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’. Berdasarkan yang aku baca di sini, kata yang pertama merupakan sebutan secara umum untuk laki-laki, sedangkan kata yang kedua untuk perempuan. Jadi, sudah jelas di sini bahwa kata ‘ikhwat’ semata-mata mengandung makna referensial panggilan untuk laki-laki dan ‘akhwat’ panggilan untuk perempuan. Komunitas islam masyarakat Indonesia, sebagian besar, juga sering menggunakan kata ini. Namun, mereka menggunakan makna referensial yang berbeda. Sadar atau tidak sadar. Aku kira-kira sih, tidak sadar.

Yang aku amati, kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ hanya digunakan ketika seseorang ingin menunjuk laki-laki atau perempuan yang islam, atau yang beriman. Misalnya, dalam organisasi islam, aku sering mendapati satu sama lain saling memanggil ‘ikhwan’ atau ‘akhwat’, atau ‘akhi’ ukhti’. Pada awalnya aku masih bingung dan sering tertukar antara ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’, sampai pada akhirnya aku ingat-ingat betul.

Aku juga pernah mendapati temanku membuat caption seperti ini:

(1) Di FEB juga banyak ukhti-ukhti berkeliaran ya.

Pada kalimat (1) tentu makna ukhti bukan berarti ‘perempuan’, tetapi makna referensialnya berubah menjadi ‘perempuan yang memakai kerudung panjang’.

Jadi, makna referensial ‘ihkwan’ dan ‘akhwat’dalam Bahasa Arab mengalami spesialisasi di komunitas muslim Indonesia. Kamu tentu tidak akan menemukan seseorang biarawati dipanggil ‘akhwat’ tentunya, ya kan? (Lah aku jadi ketawa sendiri). *no offense people.

Dan pergeseran makna ini membuatku berfikir, apakah ini hal yang penting? Apakah menggunakan kata ‘Ikhwan’ dan “akhwat’ bisa membuat kita lebih alim atau lebih beriman? To be honest, I don’t think so. Tapi tetap saja ini fenomena yang menarik ketika orang-orang muslim Indonesia menyerap kata-kata dalam Bahasa Arab dan menciptakan makna referensial tersendiri.

Selain dua kata tersebut, banyak juga sih kata yang mengalami speliasisasi. Misalnya kata madrasah. Dulu, aku sekolah di madrasah. Aku pikir, kata ‘madrasah’ berarti ‘sekolah islam’, karena di Indonesia ‘sekolah madrasah’ berarti ‘sekolah islam’. Belakangan, aku baru tau kalau dalam Bahasa Arab, madrasah artinya ‘sekolah’. Aku jadi ingat tentang ibu-ibu yang protes di sekolah adikku. Statusnya sekolah swasta dan umum, tapi agama islam kuat diajarkan di sana. Ibu tersebut protes karena anaknya diajari mengaji dan sholat dhuha, lalu beliau bilang:

(2) Jadi kayak sekolah madrasah.

Di kalimat (2), walaupun ‘madrasah’ artinya sebenarnya ‘sekolah’, makna referensialnya berbeda dari kata ‘sekolah’ sebelumnya.

Lalu, ada juga kata ‘astaghfirullah’. Uniknya, kata ini tidak hanya digunakan oleh komunitas muslim. Teman-temanku yang non-muslim juga sering dipakai. Sometimes I found it quite funny and interesting, karena mereka memahami makna refernsial kata ‘astaghfirullah’ yang juga mengalami spesialisasi.

Dalam islam, kata ‘astaghfirullah’ diucapkan ketika seseorang melakukan dosa atau diucapkan ketika seseorang ingin memohon ampunan kepada Allah SWT. Singkatnya begitu. Namun, mengalami generalisasi atau perluasan makna, sehingga kadang ketika ada kejadian buruk, orang mengucapkan ‘astaghfirullah’, sedangkan, setahu aku, ketika melihat keburukan lebih tepat mengucapkan ‘subhanallah’. Banyak orang di Indonesia, entah dia islam atau tidak, mengucapkan ‘astaghfirullah’ ketika melihat atau mendengar atau mendapati hal yang buruk.

Unik ngga sih? Belajar bahasa emang seru!

18 thoughts on “Pergeseran Makna Kata ‘Ihkwan’ dan ‘Akhwat’

  1. Ada yg juga menarik. Kata ‘fitnah’ diserap dari bahasa arab ke dalam bahasa indonesia dengan perubahan makna. Di bahasa arab fitnah itu artinya: ujian atau cobaan. Masuk ke bahasa indonesia maknanya jadi tuduhan tanpa dasar, ada makna yg lain juga tapi kurang familiar.

    Yang fatal itu di film kcb/aac kata fitnah digunakan dalam susunan bahasa arab tapi dengan logika/makna bahasa indonesia. “Hadzihi fitnah basyi’ah.” “ini fitnah yang keji,” kata si furqan pas diciduk sama polisi. Padahal kalau dilihat dari logika bahasa arabnya penggunaan kata ‘fitnah’ dalam konteks itu gak pas, gak nyambung.

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s