Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Menurut Hall (1976, dikutip di Bowe & Martin, 2007), budaya dibagi menjadi dua, yaitu high-context culture dan low-context culture. Komunikasi orang-orang dalam konteks budaya tinggi (I don’t know how to translate the term in bahasa) lebih halus, tidak langsung, banyak menggunakan bahasa non-verbal, dan biasanya dalam konteks percakapan ada makna dalam makna. Dalam hal ini, aku memaknainya lebih pragmatis. Orang Asia, Africa-Amerika, dan Aborigin menerapkan konteks budaya ini. Lalu, masyarakat yang menerapkan low-context culture tidak terlalu mengandalkan komunikasi non-verbal. Mereka juga tidak membagikan informasi intim atau informasi latar belakang tentang diri mereka sendiri. Misalnya, beda dengan orang Indonesia pada umumnya. Aku sering ditanyai hal-hal personal oleh sopir angkutan online. Orang-orang yang menerapkan budaya low-context culture tentu akan merasa tersinggung atau tidk nyaman jika ditanyai hal yang bersifat personal. Masyarakat yang menerapkan budaya ini juga ceplas-ceplosdan tidak pragmatis.

Budaya yang dimiliki oleh masyarakat mempengaruhi tulisan mereka. Orang-orang dalam budaya high-context culture menerapkan struktur wacana non-linear, sedangkan yang menerapkan low-context culture menggunakan struktur wacana linear dalam tulisannya. Ini stereotype yang aku dapatkan setelah baca bab tentang context culture dan cultural differences in writing. Lalu, struktur wacana linear atau linear discourse structures diterapkan oleh English-speaking countries. Struktur ini menerapkan 7s seperti yang aku tulis di atas.

Struktur wacana non-linear, dianalisis oleh Kaplan (1966, 1972, dikutip di Bowe & Martin, 2007), terdiri dari empat macam, yaitu:

  • parallel/semitic, yang diterapkan oleh orang-orang Arab
  • circling/oriental, yang diterapkan oleh orang Indonesia, Cina, Jepang, dan Korea.
  • freedom to digress/romance, yang diterapkan oleh orang-orang di Eropa tengah, German, Italia, dan Spanyol.
  • russian, gaya penelisannya seperti nomor tiga, tetapi beda panjangnya.

Yang menjadi pertanyaan, padahal dalam pembelajaran menulis Bahasa Indonesia, juga diajarkan bahwa paragraf yang baik terdiri dari satu ide pokok. Lalu ide pokok tersebut, didukung setidaknya 4-5 kalimat pendukung. Paragraf juga hendaknya singkat, padat dan jelas. Aku masih sangat ini karena guru SMP-ku sangat kekeuh mengajari kami tentang hal ini dan bahkan sampai diulang-ulang dari kelas & sampai kelas 9. Aku juga masih ingat dengan jelas bahwa guru SMP-ku berkata tema itu layaknya payung yang merangkul isi-isi paragraf.

Berdasarkan pengalamanku, sistem pembelajaran menulis Bahasa Indonesia sama seperti struktur wacana linear negara-negara yang menggunakan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Tapi kenapa dalam aplikasinya tulisan kita modelnya jadi circling?

Ini juga merupakan salah satu kesulitanku ketika menulis writing IELTS dulu, karena aku tidak terbiasa menulis yang sangat sistematik, langsung membahas inti, dan padat isi. Padahal, ketika SD dan SMP sudah diajari menulis ala 7s. Ini yang belum aku pahami. Apa yang terjadi pada proses? Sehingga kita cenderung menulis artikel atau essay yang beat around the bush, padahal ketika kecil, kita sudah diajari menulis ala struktur wacana linear.

Lalu, dalam proses belajar menulis IELTS dan semester pertama kuliah di English-speaking country, aku merasa kebiasan kita yang menulis tidak langsung pada intinya merupakan suatu kekurangan. Ini karena aku merasa sangat tertinggal dan harus berjuang lebih keras untuk menulis sebuah esai yang dikata bagus. Aku berfikir, kenapa aku menulis seperti ini? Apakah karena aku tertinggal, aku bodoh, atau aku tidak terbiasa menulis dengan baik.

Sampai suatu ketika, di pertengahan semester satu lalu, dosenku membahas tentang ini, perbedaan budaya dalam bahasa tulis. Waktu itu bukan dalam kuliah, tapi semacam masa orientasi. Dalam beberapa minggu kami, mahasiswa baru, diskusi dengan dosen ketua jurusan untuk membahas cross culture communication, intercultural communication, dan culture shock. Waktu itu, setelah dia memjelaskan panjang lebar teorinya, dia berkata, “Saya sebenarnya lebih suka gaya penulisan orang Indonesia yang circling itu, karena tidak bisa ditebak”. Beliau memang pernah tinggal di kota asalku selama beberapa tahun. Aku merasa beliau sangat menghargai dan memahami budaya kita. “Saya pernah baca skripsi. Awalnya saya bingung, ini maksudnya apa. Lalu setelah saya baca semuanya, saya baru paham maksudnya apa dan cara berfikir si penulis bagaimana. Saya justru suka yang seperti ini daripada gaya penulisan yang direct“.

Mulai dari situ, aku sadar bahwa perbedaan budaya dalam bahasa tulis itu ada dan menjadi berbeda itu tidak apa-apa. Mempunyai budaya yang berbeda bukan berarti kita tertinggal, bodoh, atau apa. Namun memang cara kita hidup itu beda satu sama lain dan ternyata itu berpengaruh ke segala lini kehidupan kita, termasuk menulis. Oleh karena itu, aku tulis ini dalam blog, karena menurutku ini merupakan hal menarik yang patut dikaji dan didiskusikan. Atau mungkin bisa jadi ada orang yang berada dalam posisiku dulu, yang merasa bahwa gaya penulisan orang Indonesia yang mbulet itu jauh dari standar. Padahal, it is okay to have our own standard.

Lalu, haruskah kita mengubah cara menulis kita?

Kalau menurutku, ini tergantung dimana kita menulis dan apa yang kita tulis. Jadi, tergantung konteksnya. Misalnya, kalau tugas kuliah, tentu aku akan menulis ala-ala bule, sedangkan dalam blog, aku akan cenderung menulis semauku. Aku mau ideku let iw flow, dan tidak dibatasi oleh suatu aturan. Walaupun begitu, aku masih akan tetap memperhatikan tanda baca dan kohesi agar mudah dibaca oleh pembaca.

Tapi memang, perbedaan ini sebuah tantangan dalam sistem pendidikan Bahasa Inggris. Beberapa waktu lalu, aku sempat berdiskusi dengan dosen-dosen yang mengajar writing.  Mereka mengaku bahwa memang sulit mengajar mahasiswa Indonesia untuk menulis essay Bahasa Inggris dengan standar Bahasa Inggris. Kalau ranah pendidikan, ini jauh dari kapasitasku jadi aku juga tidak bisa menyediakan solusi atas perbedaan budaya ini. Kecuali ya, tentu, belajar dan belajar because practice makes perfect.

 


 

Referensi:

Bowe, H., & Martin, K. (2007). Communication Across Cultures: Mutual understanding in a global world. Cambridge, New York, Melbourne: Cambridge University Press.

Kirkpatrick, A., & Xu, Z. (2012). Chinese Rhetoric and Writing: An Introduction for Language Teachers. Anderson, South Carolina and Fort Collins, Colorado: Parlor Press and the WAC Clearinghouse.

15 thoughts on “Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

  1. Pingback: Jadi Volunteer | Gadis Pratiwi

  2. Ini sama kaya waktu aku mau tes penempatan kelas untuk kelas bahasa Inggris. Menurutku paling berat ketika material yang disajikan berupa menulis karangan.

    Padahal ya itu dari zaman masih sekolah sudah diajakin tapi pas ditulis ya tetep aja mblunder.

    Oh iya aku kemaren dapet bukunya si Jodi Picoult Yang sister keeper dari Vinnies.

    Liked by 1 person

  3. Tulisan yang sangat menarik, Mbak.
    Saya setuju sekali mengenai gaya menulis yang terpengaruh oleh budaya menulis suatu tempat dan daerah. Dulu sempat terpikirkan juga soal perbedaan budaya yang mempengaruhi struktur menulis, kirain ngak ada teorinya. Tapi ternyata ada ya, wah…senang sekali mengetahu hal seperti ini.

    Liked by 2 people

  4. kalau skripsi di sana penulisannya gimana mbak? beda yaa ama kita?

    mungkin ada pengaruhnya dengan kebiasaan orang Indonesia yang suka berbasa-basi tidak langsung to the point, jadinya pas menulis pun begitu.. banyak kalimat basa-basi (re: kalimat pendukung) jadinya terkesan mbulet😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s