Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan (Versi Gadis)

Otak, perasaan, dan mood, sulit sekali kalau sudah malam untuk diajak kompromi, entah kenapa. Padahal hari ini ada tugas yang belum aku kumpulkan. Sebenarnya sudah selesai dan sekarang sedang dicek oleh teman. Jadi, aku lumayan santai dan menulis di blog adalah cara untuk menyegarkan otak sekaligus menjadi produktif. Setelah menulis di sini, aku berjanji akan memaksa diriku untuk menulis esay. 

Temanku, menulis dengan judul yang sama, ‘Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan’, di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.  Dia yang menulis duluan. Tempo hari, dia menunjukkan tulisan yang ini ketika kami sedang berdiskusi tentang sesuatu. Kami sering begini. Ketika curhat atau diskusi, daripada repot-repot menjelaskan hal yang sudah kami tulis di blog, kami akan saling berbagi tulisan masing-masing. Dan, tulisan dia yang ini membuat aku berkontemplasi selama beberapa hari terakhir.

*Yang berwarna biru, tulisan dari Darin di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.

Aku memasuki fase pertemanan orang-orang dewasa, dan jenis hubungan di atas ternyata gak selalu bisa disebut teman dalam beberapa budaya atau lingkar pertemanan.

Nah secara umum, teman laki-laki atau perempuan, aku yang dulu dan aku yang sekarang mempunyai konsep yang berbeda tentang ‘teman’. Ketika aku SMA, aku masih inget bahwa aku mengotak-ngotakkan apa itu ‘sahabat’, apa itu ‘teman dekat’, dan apa itu ‘cuma teman’. Bahkan aku masih ingat aku dan geng SMA-ku pernah rapat bersama-sama untuk memutuskan apakah kami bisa disebut sahabat.

Saat itu, sahabat, menurutku, adalah orang yang aku bisa percaya untuk aku ceritakan apa saja dan kemana-mana harus sama dia. Makan ke kantin, extracurriculair bareng, dan lain-lainnya. Kalau si sahabat pergi sama teman yang lain, maka rasa cemburu akan muncul. tsaaah. Lalu, teman dekat adalah teman yang aku juga bisa ceritakan apa saja, tapi tidak semua hal. Kami masih bisa akrab tanpa harus kemana-mana. Sedangkan kalau ‘cuma teman’ ya berarti cuma teman, yang aku tidak akan banyak mengobrol dengan dia dan cuma asal tahu tentang dia.

Aku yang sekarang, menurutku sahabat adalah orang yang aku tidak perlu sungkan ke dia. Aku tidak perlu malu menjadi diriku sendiri, karena dia sudah tahu kelebihan dan kekuranganku apa. Aku tidak perlu merasa sok kuat, karena dia bukan orang lain yang tidak perlu menjadi diriku sendiri. Pun, kami tidak perlu harus selalu saling mengkontak selama 24 jam atau saling membalas chat di WhatsApp, dan tidak perlu marah karena cuman di read, karena kami sama-sama paham bahwa kami sudah dewasa dan punya kesibukan masing-masing. Tapi, kami tidak lupa. Dan bahwa memang bersahabat itu, kami harus sama-sama menginvestasikan waktu dan perhatian. Makin kesini, kami makin dewasa dan kami mampu menjaga persahatan dengan porsi yang tidak berlebihan.

Sedangkan, teman, kadang aku merasa aku punya teman banyak tapi mereka hanya sekadar teman. Kadang aku sering merasa sungkan, atau curhatanku bakal ga penting. Jadi, memang aku cenderung pilih-pilih sahabat, sedangkan aku bisa berteman dengan siapa saja. Aku random memang.

Tapi, kamu, siapapun yang baca ini, kalau aku pernah curhat ke kamu dan aku nyaman sama kamu, selamat! You are part of my friendship circle.

Akupun baru tahu bahwa sahabatku si Rajib yang selama ini selalu main bertiga dengan Gadis, gak pernah menceritakan soal kami ke pacarnya karena takut cemburu, walaupun kami murni berteman, walaupun aku dan Rajib hanya sekedar keluar makan ….

Akhirnya, laki-laki dan perempuan sepertinya gak bisa berteman dalam konteks  yang kami bisa jalan bareng, kontakan yang intens, saling bercerita kepada satu sama lain, menunjukkan sifat kekanakkan masing-masing, menjadi apa adanya dan terbuka, seperti pertemanan masa kecil.

Aku tidak punya banyak sahabat laki-laki. Paling cuman Rajib, JV, Bang Ical, dan satu teman dari SMA yang sekarang jarang kontak. Memang sih kalau sama Rajib kalau jalan bareng akan aneh, karena kami trio kwek-kwek. Aku, Darin, Rajib. Kalau aku cuman jalan berdua dengan Rajib, maka aku akan ngerasa kehilangan Darin. (Ceilah, Rin, lu klepek-klepek kagak?). Kalau JV, dia sahabat dari kuliah dan aku suka-pakai-banget cerita soal laki-laki ke dia, karena dia bisa memberi perspektif berdasarkan psikologi laki-laki dan perempuan. Dia ter-bestfriend banget. Dan menurutku, aku dan JV bisa hanya berteman dalam konteks jalan bareng berdua, saling kontak, cerita, dan gila-gilaan berdua. Lalu, ada juga Bang Ical yang bagiku selamanya dia adalah ensiklopedia berjalan. Kalau ada apa-apa, dia adalah resource terdekat dan tercepatku. Ada juga RF, but I’m not sure whether he has the same perception with me, that we are bestfriend. Karena ketika aku sudah kembali ke Melbourne, aku jarang sekali kontak dia, padahal waktu liburan sering banget main sama doi.

1461158021567

hayo, Darin yang mana, Rajib yang mana?

Jadi pada akhirnya, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu hanya dapat terjadi pada orang-orang tertentu, sedangkan yang disebut berteman hanyalah sebatas saling kenal dan berhubungan baik saja, khususnya dalam lingkar pertemanan dewasa.

Dalam konteks ini, aku setuju sih, dalam lingkar pertemanan dewasa. Namun, yang aku highlight di sini bukan tentang buih-buih asmara. Memang dalam tulisan Darin, aku paham secara langsung dan tidak langsung dia khawatir bahwa jalinan asmara antara pertemanan laki-laki dan perempuan kerap kali terjadi. Sedangkan menurutku, entah mau terjadi hubungan atau tidak, itu terserah yang bersangkutan. Namun kerap kali, orang di sekitar yang suka menerka-nerka dan ikut campur. “Pacarnya ya mbak?”, “Calonnya ya mbak?” Padahal ga ada hubunganannya sama mereka. Biar apa coba, ya kan?

Lalu, tentang mengunggah foto dengan teman laki-laki, Darin memang hati-hati banget tentang ini, atau at least ‘si abang’ di hide dulu, biar tidak ada salah paham katanya. Maybe I should do this too, to be more careful. I don’t know, though. Karena aku merasa aku tidak perlu menyembunyikan apa pun, bahkan ke orang yang aku suka. Tapi namanya orang memang, ga semua, punya prasangka, yang ada-ada aja. Dan ini yang aku kurang suka. 🤷

13 thoughts on “Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan (Versi Gadis)

    • 👏🏻👏🏻👏🏻

      Karena menurutku bersahabat itu seperti berjodoh, ada chemistry-nya 😄

      Kadang ada teman baik, tapi aki ngerasa ga bisa ‘klik’ sama dia. gitu ~

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s