Memaknai Kehilangan

Beberapa minggu lalu, salah satu sahabatku berkata, “Eh, Dis, sampai ketemu lagi ya! Aku sekarang udah ga di Malang.”

“Lah kemana? Situ mau bertualang ya?”

“Iya, biar kayak Bung Fiersa.”

Sebagai sahabat, ada rasa kebanggaan karena menurutku dia berani merantau dan beranti mendobrak apa yang menurut norma masyarakat kita disebut ‘wajar’. Menurut sebagian besar masyarakat kita yang aku tahu, seorang laki-laki hendaknya segera berkarir setelah lulus kuliah. Bekerja, mencari uang, menikah, punya anak. Sedangkan laki-laki yang aku kenal ini, setelah menempuh kuliah selama lima tahun, dia memutuskan untuk berkeliaran keliling Indonesia, menikmati kebebasannya. Dan aku paham sekali itu rasa kebebasan itu, karena sedikit banyak aku sedang mengalami masa-masa ini.

Namun, di satu sisi aku sedih karena kebanyakan sahabatku, termasuk dia, bukan berasal dari Kota Malang. Ketika aku pulang nanti, mereka juga akan pulang ke kota mereka masing-masing. Dan aku merasa stuck, karena aku akan tetap di Malang sedangkan mereka sudah tidak lagi di Malang. Kedepannya, aku tidak tahu akan pergi dari Malang juga atau tidak dan aku tidak terlalu memikirkan hal ini.

Aku sayang semua sahabatku. Dan ini rasa sayang yang berbeda dari rasa sayang ke orang yang aku suka, ke orang tua, adik-adik, dan lain-lainnya. Entah, bahkan sulit dideskripsikan lewat tulisan. Dan, aku benar-benar tidak menyangka bahwa tahun 2017 adalah tahun terakhir aku bertemu dengan dia. Kedepannya, entah kapan. Aku tetap stuck, di sini.

Aku jadi berfikir, people come and go, but are they necessarily ‘gone’? Memang sih, dalam kehidupan kita, orang selalu datang dan pergi. Namun tidak ada yang pernah benar-benar hilang. Aku ingat pelajaran fisika ketika SMA tentang hukum kekekalan energi, bahwa, “Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi ia dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain”. I don’t know whether this makes sense to you, tetapi aku menganalogikan bahwa dalam dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang. Misalnya, sesungguhnya aku tidak kehilangan sahabatku, tetapi dia hanya berpindah ke tempat yang lain. Contoh lain, ketika kamu kehilangan sesuatu, karena dicuri misalnya, kamu tidak benar-benar kehilangan, karena sesuatu itu hanya berpindah dari tanganmu ke tangan orang lain. Contoh lain lagi, ketika kamu mempunyai pasangan, lalu hubungan kalian tidak berhasil, dan kalian memutuskan untuk saling menjauh. Sejatinya, kamu tidak pernah kehilangan dia, dia hanya berpindah dari hatimu ke hati orang lain.

Dan, karena pikiranku sendiri tentang kehilangan, pandanganku akan konsep kehilangan jadi blur. Dan, walau sudah aku analogikan seperti itu, ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan tentang kehilangan.

Ayolah dis, kamu tidak benar-benar kehilangan!

12 thoughts on “Memaknai Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s